10 "Lagu Natal" yang Terlalu Mencuci Otak! Para Ahli Memperingatkan: Jangan Mendengarkan saat Mengemudi
Menjelang musim Natal, suasana meriah dipenuhi di mana-mana, dan lagu-lagu Natal yang akrab terdengar. Namun, penelitian menunjukkan bahwa beberapa lagu Natal dengan melodi yang ringan dapat menimbulkan ancaman bagi keselamatan berkendara, terutama lagu dengan nomor ketukan (BPM). lebih dari 120, yang dapat menyebabkan perilaku mengemudi yang berisiko.
Menurut penelitian dari Southern University of Science and Technology dan South China University of Technology, musik dengan BPM tinggi dapat memengaruhi psikologi dan sistem kardiovaskular pengemudi, sehingga memengaruhi konsentrasi, sehingga meningkatkan risiko keselamatan berkendara. CEO situs asuransi Insuranceopedia mengatakan: "Lagu berenergi tinggi atau mengganggu dapat mengurangi konsentrasi pengemudi dan semakin meningkatkan risiko kecelakaan."
Contoh yang paling representatif adalah "Frosty the Snowman", yang menduduki puncak daftar "Lagu Natal Paling Berbahaya" dengan 172 detak per menit. Lagu ini pertama kali direkam pada tahun 1950 oleh Gene Autry dan kemudian dibawakan oleh Jimmy Durante. Disusul dengan lagu klasik Mariah Carey "All I Want For Christmas Is You" yang memiliki BPM 150. Meski sarat suasana meriah, namun melodi bernada tinggi bisa membuat pengemudi terlalu heboh.
Selain itu, lagu-lagu Natal yang familiar seperti "Feliz Navidad" dan "Santa Claus Is Comin' To Town" juga ada dalam daftar. Berikut daftar lengkap "Sepuluh Lagu Natal Paling Berbahaya":
1. 《Frosty the Snowman》
2. 《All I Want For Christmas Is You》
3. 《Feliz Navidad》
4. 《Santa Claus Is Comin' To Town》
5. 《Happy Xmas (War Is Over)》
6. 《Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!》
7. 《Rudolph The Red-Nosed Reindeer》
8. 《I Wish It Could Be Christmas Every Day》
9. 《Have Yourself A Merry Little Christmas》
10. 《I Saw Mommy Kissing Santa Claus》
Para ahli mengingatkan Anda untuk menghindari memutar musik yang terlalu seru atau mengganggu konsentrasi saat berkendara. Pada saat yang sama, seiring dengan semakin intensnya suasana liburan, masyarakat juga harus tetap rasional dan menghindari mempengaruhi keselamatan diri sendiri dan orang lain akibat perilaku emosional terkait musik.
Perayaan Natal di Taiwan dan Indonesia
Perayaan Natal merupakan perayaan tahunan meriah di berbagai penjuru dunia. Perayaan Natal saat ini identik dengan agama Kristiani di mana ada kegiatan ibadah, tukar kado, berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat, dan teman-teman.
Menurut sejarah catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.
Pada tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an . Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.
Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.
Perbedaan Tradisi Perayaan Natal di Taiwan dan di Indonesia
Tradisi Perayaan Natal di Taiwan
Di Taiwan, secara umum banyak orang yang akan menghabiskan waktu perayaan Natal bersama pasangan dan teman-teman, kemudian di Tahun Baru bersama dengan keluarga.
Tradisi Perayaan Natal di Indonesia
Tradisi perayaan Natal di Indonesia berkiblat dengan negara-negara barat, seperti Eropa dan Amerika dan karena Natal merupakan acara besar keagamaan, maka orang akan menghabiskan waktu perayaan bersama dengan teman, pasangan, dan keluarga, termasuk di Tahun Baru.
Perbedaan Perayaan di Taiwan dan Indonesia secara khusus
Di hari Natal sendiri, Taiwan karena tidak terlalu religius yang penting adalah aneka hiburan yang menyenangkan.
Taiwan pun tampak serupa dengan Jepang terkait dengan perayaan Natal, di mana pada saat Natal banyak pasangan akan berkencan dan merayakannya dengan suasana romantis.
Hari Natal di Taiwan tidak libur (kecuali akhir pekan), sehingga kegiatan sekolah, kuliah, perkantoran, dan kegiatan ekonomi lain berlangsung seperti biasa.
Untuk aneka makanan di Malam Natal atau Hari Natal, orang-orang di Taiwan suka dengan aneka makanan ala barat, khususnya ayam goreng dan pizza yang mudah dipesan, termasuk juga pasta.
Khusus untuk makanan penutup (dessert), orang Taiwan suka dengan aneka kue yang dihias, termasuk juga kue stroberi, sebab musim dingin merupakan musim buah stroberi dan ceri.
Kegiatan tukar hadiah akan dilakukan bersama dengan pasangan atau teman-teman, termasuk dengan rekan kantor, selain bersama dengan keluarga.
Di Indonesia, karena merupakan hari besar keagamaan, maka umat beriman akan ke gereja dan kemudian melakukan berbagai kegiatan, utamanya kegiatan donasi, termasuk juga hiburan.
Saat Natal, pasangan dan keluarga lebih merayakannya secara bersama-sama, setelah ibadah berpesta dan makan bersama dengan teman-teman dan orang terdekat, kemudian merayakannya bersama sesuai dengan tradisi adat atau daerah masing-masing.
Hari Natal berarti libur, sehingga tidak ada kegiatan sekolah ataupun kegiatan perkantoran, tapi toko-toko dan restoran tetap buka, sehingga berbagai tempat sangat ramai, khususnya destinasi wisata.
Hidangan Natal yang disajikan lebih tradisional dan banyak yang merupakan makanan adaptasi barat dan timur, serta makanan khas daerah di Indonesia, seperti bistik, selat solo, rolade.
Makanan penutup di Indonesia, selain aneka kue dengan hiasan Natal juga ada kue-kue khas daerah di Indonesia, misalnya klapertaart, puding buah, dan sop buah.
Di Indonesia, tidak hanya ada kegiatan tukar menukar hadiah, tapi juga aneka bazaar dan kegiatan amal bersama mereka yang membutuhkan, sebab Natal dimaknai sebagai kesederhanaan dan kedamaian dalam kasih Tuhan.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 

