History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Di Negeri Rantau 280824: Persyaratan Terbaru Permohonan Kewarganegaraan Taiwan bagi WNA

  • 28 August, 2024

 

Pajak Hadiah Dinilai Persulit Generasi Muda Wujudkan Impian Memiliki Rumah

Harga properti di dalam negeri yang tinggi membuat banyak orang sulit untuk memiliki rumah. Banyak orang tua yang membantu anak-anak muda mereka membeli rumah untuk meringankan beban ekonomi generasi berikutnya. Namun, menurut undang-undang perpajakan saat ini, jumlah bebas pajak hadiah tahunan per orang hanya sebesar NT$2,44 juta (Rp1,2 milyar/ tahun). Jika orang tua menghibahkan rumah kepada anak-anak mereka dalam satu kali transaksi, pajak yang harus dibayar bisa sangat besar.

Misalnya, seorang mahasiswa di Taipei, bernama samaran Amao, membeli rumah di lokasi premium seharga hampir NT$100 juta (Rp50 milyar), yang jelas berada di luar kemampuannya. Setelah diselidiki oleh otoritas pajak, diketahui bahwa ibu Amao mentransfer uang kepadanya untuk membayar rumah tersebut, sehingga otoritas pajak menagih pajak hadiah sebesar NT$4,26 juta (Rp2,1 milyar) dari ibu Amao. Jika tidak melaporkan pajak tepat waktu, dia juga bisa dikenai denda hingga dua kali lipat dari jumlah pajak (denda sekitar NT$8 juta).

Dalam kasus ini, penerapan pajak hadiah menimbulkan beberapa masalah yang dianggap tidak adil. Berikut adalah beberapa alasan utama:

1. Harga Rumah yang Tinggi, Tekanan bagi Generasi Muda untuk Memiliki Rumah: Saat ini, harga rumah di dalam negeri sangat tinggi, sehingga sulit bagi kaum muda untuk membeli rumah secara mandiri. Bantuan dari orang tua adalah cara umum untuk mengurangi tekanan ini, dan bantuan ini seharusnya dianggap sebagai dukungan ekonomi keluarga, bukan hadiah dalam arti tradisional.

2. Jumlah Tak Kena Pajak Terlalu Rendah (tax exemption untuk pajak hadiah terlalu rendah) : Saat ini, jumlah bebas pajak hadiah tahunan hanya sebesar NT$2,44 juta, dengan pajak dimulai dari 10%. Ini jelas tidak cukup untuk kasus pengeluaran besar seperti membeli rumah. Terutama di daerah dengan harga properti tinggi seperti Taipei, di mana harga rumah bisa mencapai puluhan juta NTD, jumlah bebas pajak ini tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bantuan orang tua kepada anak-anak mereka, sehingga beban pajak mereka berat.

3. Kewajaran Bantuan Keluarga: Ketika orang tua membantu anak mereka membeli rumah, hal tersebut sebenarnya adalah cara keluarga mengatur dan membagi sumber daya mereka, seperti uang atau properti. Ini bukanlah upaya untuk menghindari pajak, tetapi lebih sebagai bentuk dukungan keluarga. Dengan mengenakan pajak yang tinggi pada bantuan semacam ini, pemerintah mungkin tidak sepenuhnya mempertimbangkan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari tanggung jawab dan kepedulian keluarga, bukan tindakan yang curang atau tidak adil atau cara seseorang untuk menghindari pajak.

4. Kesenjangan Kemampuan Ekonomi: Dalam kasus ini, jelas bahwa mahasiswa Amao tidak mampu untuk membeli properti dengan harga setinggi itu, dan dia sepenuhnya bergantung pada bantuan ibunya. Membebankan pajak hadiah yang tinggi pada situasi ini jelas akan memperberat beban generasi muda yang memang tidak mampu membeli rumah secara mandiri dan tidak menyelesaikan masalah ekonomi yang sebenarnya.

5. Denda yang Terlalu Berat: Menurut kasus ini, jika pajak hadiah tidak dilaporkan tepat waktu, maka akan dikenakan denda hingga dua kali lipat dari jumlah pajak. Mekanisme hukuman seperti ini terlalu keras. Bagi mahasiswa dan keluarganya, langkah hukuman ini tidak hanya menambah beban ekonomi tetapi juga tidak mencerminkan keadilan dan humanitas dalam undang-undang perpajakan.

Di negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, Kanada, Malaysia, dan Singapura tidak memiliki pajak hadiah. Mengingat masalah gaji rendah dan kesulitan memiliki rumah yang dihadapi generasi muda, pemerintah harus meniru pendekatan banyak negara ini dengan memberikan insentif pajak kepada orang tua yang membantu anak-anak mereka membeli rumah, dengan membebaskan pajak hadiah. Kebijakan seperti ini dapat meringankan tekanan ekonomi generasi muda, sehingga mereka lebih mudah mewujudkan impian memiliki rumah. Sebaliknya, jika pemerintah mengenakan pajak hadiah yang terlalu tinggi, ini bisa menghambat niat baik orang tua untuk membantu anak-anak mereka, sekaligus menjadi hambatan besar bagi generasi muda untuk memiliki rumah. Oleh karena itu, pemerintah harus meninjau kembali sistem perpajakan yang ada, meningkatkan jumlah bebas pajak atau membebaskan pajak hadiah secara langsung untuk mendukung bantuan keluarga dan kepemilikan rumah oleh generasi muda.

 

 

Majalah Taiwan Panorama Edisi ke-53 Telah Terbit! Tersedia dalam 3 Versi Bahasa:  Vietnam, Thailand, dan Indonesia

  1. Topik Utama: Dengan tema sampul "Cita Rasa Manis Taiwan", artikel ini menyoroti inovasi baru tradisional, rasa asin dan manis, hingga camilan nostalgia, serta berbagai kue yang dibawa oleh Penduduk Imigran Baru. Semua ini menggambarkan manisnya rasa dalam perayaan penting dan kehidupan sehari-hari di Taiwan.
  2. Mengenal Taiwan: Artikel "Teknologi Kepercayaan, Pakar Pencegahan Penipuan: Gogolook, Authme" memperkenalkan perusahaan start-up Taiwan yang menggunakan teknologi AI dan database lengkap untuk memberikan layanan identifikasi panggilan dan verifikasi identitas digital perusahaan, membantu pencegahan penipuan di seluruh dunia, sekaligus menunjukkan kekuatan teknologi Taiwan.
  3. Proyek Khusus Asia Tenggara: Artikel "Takdir Menghubungkan Kembali: Perjalanan Taiwan – Filipina" memperkenalkan keterkaitan sejarah dan kedekatan geografis antara Taiwan dan Filipina, serta menggambarkan hubungan mendalam antara kedua negara dalam aspek makanan, bahasa, arsitektur, dan perdagangan.

Penyiar

Komentar