History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Di Negeri Rantau 080524 - Kisah Aktivis Lingkungan Taiwan: Mengajak Wisatawan Bersumbangsih di Xiao Liu Qiu

  • 08 May, 2024
Di Negeri Rantau - RtiFM Online Rabu
Chen Ren-ping (陳人平) saat menerima wawancara dari RtiSI

Dalam acara ini, topik yang dibahas antara lain adalah (1) fakultas baru dari Universitas Nasional Taiwan, (2) cerita kilas balik dari APSIS 2024, bersimbiosis untuk ketahanan hidup di masa depan, dan (3) kisah inspiratif aktivitas lingkungan Taiwan: Mengajak Masyarakat dan Wisatawan Bersumbangsih di Xiao Liu Qiu.

Universitas Nasional Taiwan Membentuk Fakultas Baru

Universitas Nasional Taiwan (NTU) pada hari Senin mendirikan perguruan tinggi baru ekonomi politik internasional yang akan menawarkan semua mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa Inggris di kampusnya di Taipei.

Fakultasi Politik dan Ekonomi Internasional didirikan sebagai tanggapan terhadap semakin pentingnya teknologi baru dan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir, kata Presiden NTU Chen Wen-chang (陳文章) pada upacara pembukaan yang diadakan di kampus NTU di Jalan Xuzhou.

Taiwan perlu menumbuhkan generasi baru pemimpin politik, ekonomi dan keuangan yang mampu memanfaatkan teknologi baru, kelestarian lingkungan, sejarah dan budaya regional, dan hubungan internasional, katanya.

Oleh karena itu, semua mata kuliah perlu diajarkan dalam bahasa Inggris, kata Chen, menunjukkan bahwa NTU memiliki rencana untuk bekerja sama dengan Universitas Waseda Jepang dan Universitas Harvard di Amerika Serikat.

Fakultas Politik dan Ekonomi Internasional telah mendapatkan dukungan dari perusahaan swasta dan Dewan Pembangunan Nasional, dengan pendanaan yang berasal dari sumber-sumber tersebut diperkirakan mencapai NT$2,85 miliar selama 10 tahun.

Menurut NTU, fakultas baru tersebut akan menawarkan gelar sarjana dan pascasarjana di tiga bidang – ilmu politik dan ekonomi, keuangan dan kepemimpinan, serta manajemen. Pendaftaran mahasiswa lokal dan asing diharapkan dimulai pada Musim Gugur 2025, dimulai dengan program gelar sarjana di bidang ilmu politik dan ekonomi serta program gelar master di bidang keuangan.

Pendirian fakultas tersebut telah disetujui oleh Kementerian Pendidikan (MOE) pada bulan Februari tahun ini berdasarkan Undang-undang Pelatihan Personil Terampil dan Kerjasama Industri-Universitas Bidang Utama Nasional, atau disingkat Undang-Undang Pelatihan.

Menurut Kementerian Pendidikan, undang-undang tersebut diundangkan oleh pemerintah pada Mei 2021 untuk mendorong kolaborasi industri-akademisi, dengan tujuan untuk mengembangkan bakat dan melakukan penelitian di beberapa bidang utama, termasuk industri semikonduktor.

Kampus NTU di Jalan Xuzhou dulunya merupakan lokasi Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial.

Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) yang hadir dalam acara peresmiannya menyampaikan, bahwa lanskap politik dan ekonomi global telah berubah dengan cepat selama beberapa tahun terakhir, ia juga menambahkan bahwa Taiwan memainkan peran penting dalam geopolitik dan harus mengembangkan lebih banyak talenta lintas bidang dengan visi internasional dan pemikiran strategis.

Mengutip Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), pembuat chip kontrak terbesar di dunia, sebagai contoh, Tsai mengutarakan fakta bahwa TSMC sedang berupaya merekrut gelar PhD di bidang ilmu politik menunjukkan bahwa dunia usaha menghargai talenta tersebut.

Berbicara kepada wartawan setelah acara tersebut, Chen mengatakan universitas terkemuka Taiwan berharap dapat mengundang Tsai untuk menyampaikan presentasi di Fakultas Politik dan Ekonomi Internasional di masa depan.


Acara peresmian fakultas baru NTU, yaitu Fakultasi Politik dan Ekonomi Internasional (foto: CNA)

Kilas Balik APSIS 2024: Inspirasi Berbagai Kegiatan Masyarakat Bersama dengan Alam untuk Ketahanan Hidup di Masa Depan

Asia Pacific Social Innovation Summit 2024 telah diselenggarakan pada tanggal 4 dan 5 Mei 2024, berlokasi di National Chi Nan University, Nantou, Taiwan. Dalam acara tersebut, salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah “keberlanjutan” (suistainability) dalam kehidupan sosial masyarakat dengan pendekatan ramah lingkungan.

Dalam konferensi internasional tersebut, para penyiar RtiSI berkesempatan untuk mengikuti berbagai sesi acara terkait secara langsung, salah satunya adalah yang berlangsung pada Sabtu, 4 Mei 2024 siang dengan tema “Simbiosis Lingkungan untuk Ketahanan Lingkungan” menghadirkan 4 pembicara, antara lain Shawn Kaihekulani Yamauchi Lum dari Singapura, Sam Yoonsuk Lee dari Korea Selatan, Chen Ren-ping (陳人平), dan Kelly Kok (郭雪貞) yang berasal dari Taiwan.

Sesi ini menarik banyak peminat, sebab Anda dapat mengetahui informasi bagaimana Singapura melakukan pendekatan simbiosis mutualisme antara manusia dan satwa liar, mempertahankan alam liar di tengah hiruk pikuk negara kota dan reklamasinya.

Ada pula Sam Yoonsuk Lee yang membahas bahan bangunan efisien nan ramah lingkungan. The Good Brick System nyatanya membantu masyarakat Nepal, khususnya mereka yang terdampak oleh gempa besar pada tahun 2015, sehingga mereka dapat kembali membangun kehidupan yang lebih ramah lingkungan, sekaligus mendatangkan kesempatan usaha berkelanjutan.

Pembicara Chen Ren-ping membahas pulau kecil Xiao Liu Qiu yang diminati oleh para wisatawan, baik domestik maupun internasional. Terkait dengan hal tersebut, ia pun membentuk gerakan khusus. Selain melakukan pembersihan sampah pantai, Chen bersama keluarga dan teman-temannya bekerja sama dengan seniman lokal membuat “batu uang” yang dapat ditukar dan dijadikan kenang-kenangan, menarik para wisatawan untuk turut bersumbangsih dalam pembersihan lingkungan di Xiao Liu Qiu.

Pembicara terakhir, Kelly Kok merupakan direktur eksekutif organisasi Jane Goodall Institute Taiwan. Ia pun mengajak masyarakat untuk mendukung gerakan ramah lingkungan dan membantu satwa liar agar keseimbangan kehidupan antara manusia dan satwa liar tetap terjaga.

Keempat pembicara tersebut dalam sesi akhir memiliki kesimpulan bahwa manusia sebaiknya menjaga keseimbangan hidup dengan satwa dan alam di sekitar mereka demi keberlangsungan masa depan yang lebih baik.

Asia Pacific Social Innovation Summit (APSIS) ke-7 tahun 2024

Kisah Aktivis Lingkungan Taiwan Chen Ren-ping: Mengajak Masyarakat Wisatawan Bersumbangsih di Xiao Liu Qiu

Chen Ren-ping (陳人平) merupakan salah satu pembicara dalam konferensi internasional  Asia Pacific Social Innovation Summit (APSIS) ke-7 tahun 2024 lalu. Chen Ren-ping merupakan pendiri sekaligus kepala eksekutif organisasi Hiin Studio (海湧工作室) yang berarti "ombak" dalam bahasa Hokien Taiwan. Aktivis lingkungan Taiwan ini memberikan pembahasan tentang pulau kecil yang diminati oleh para wisatawan, baik domestik maupun internasional, yaitu Xiao Liug Qiu. Terkait dengan hal tersebut, ia pun membentuk gerakan khusus. Selain melakukan pembersihan sampah pantai, Chen bersama keluarga dan teman-temannya bekerja sama dengan seniman lokal membuat “batu uang” yang dapat ditukar dan dijadikan kenang-kenangan, menarik para wisatawan untuk turut bersumbangsih dalam pembersihan lingkungan di Xiao Liu Qiu.

Apa yang dimaksud dengan “batu uang”? Batu uang ini sejatinya merupakan batuan kaca yang berasal dari pecahan botol, toples, piring, jendela, hingga aneka perabot berbahan kaca yang kemudian menjadi sampah dan dibuang sembarangan hingga terbawa ke laut.

Batuan ini menjadi sangat menarik karena dapat ditemukan di berbagai wilayah pantai setelah tergerus oleh ombak lautan. Masyarakat yang menemukan bebatuan ini biasanya akan mengambilnya sebagai kenang-kenangan, menjadikannya hiasan akuarium, atau bahkan dijual kembali karena bernilai ekonomi.

Terkait dengan hal ini, Chen Ren-ping pun melihat kesempatan emas untuk mengajak masyarakat dan wisatawan bekerja sama dalam membersihkan pantai dan lingkungan di sekitar Xiao Liu Qiu.

Bekerja sama dengan para seniman lokal, ia membentuk gerakan, jika Anda mengikuti kegiatan pembersihan lingkungan dan menemukan batuan kaca, maka batuan tersebut dapat diberikan kepada seniman yang bekerja sama dengannya untuk dihias, kemudian dijadikan kenang-kenangan.

Dirasa hal tersebut belumlah cukup, batuan kaca ini kemudian tidak hanya dapat dijadikan kenang-kenangan. Para pemilik usaha lokal sekitar selanjutnya juga diajak bekerja sama, di mana batuan kaca tersebut dapat dijadikan alat tukar selayaknya uang untuk digantikan dengan makanan ataupun minuman. Para pebisnis lokal menyambut baik hal ini, bahkan mereka juga turut berkontribusi dengan menghadirkan usaha ramah lingkungan, termasuk menyediakan tempat makan yang dapat disewakan dan digunakan secara berulang.

Usaha ini tidaklah sia-sia, banyak pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Xiao Liu Qiu mengikuti kegiatan ini. Menurut mereka kegiatan ini sangat menarik, selain berwisata, mereka pun dapat berkontribusi pada alam sekitar dan memberikan dampak untuk wisata berkelanjutan di Xiao Liu Qiu.

Namun, bagaimana mengatasi banyaknya sampah stereofoam yang ada di sekitar pantai? Menyikapi hal tersebut, Chen Ren-ping juga memiliki ide menarik, yaitu membentuk streofoam menjadi kenang-kenangan berbentuk penyu khas Xiao Liu Qiu dengan cara melumerkannya sehingga menjadi cairan kental terlebih dahulu, kemudian dicetak dan diberi zat warna-warni yang indah.

Sebagai penutup, ia pun berharap agar masyarakat di wilayah lain dapat mengikuti langkah ini, tidak hanya berwisata, tapi juga berkontribusi bagi lingkungan sekitar dan memberikan dampak positif demi wisata yang berkesinambungan dan keberlanjutan lingkungan.

Chen Ren-ping (陳人平) saat menerima wawancara dari RtiSI

 

Penyiar

Komentar