Hampir Separuh Orang Taiwan Memiliki Gen yang Picu Intoleran pada Alkohol
Sekitar 49% penduduk Taiwan memiliki defisiensi genetik pada enzim aldehyde dehydrogenase 2 (ALDH2), yang menyebabkan intoleransi alkohol. Kondisi ini menyebabkan penumpukan asetaldehida dalam tubuh, yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker, menurut CNA. Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan menyatakan bahwa alkohol terkait dengan setidaknya tujuh jenis kanker, termasuk kanker hati, payudara, mulut, dan kolorektal. Risiko ini meningkat bagi individu dengan defisiensi ALDH2 yang mengonsumsi alkohol secara rutin.
Sebuah penelitian dari Universitas Nasional Taiwan menunjukkan bahwa peminum alkohol tujuh kali lebih mungkin mengidap kanker dibandingkan dengan mereka yang tidak minum. Bagi mereka yang memiliki intoleransi alkohol, risikonya melonjak hingga 70 kali lipat, dan bisa mencapai 300 kali lipat jika mereka juga merokok dan mengunyah sirih.
Mantan Wakil Presiden sekaligus akademisi Academia Sinica, Chen Chien-jen (陳建仁), membandingkan alkohol dengan tembakau sebagai karsinogen yang telah terbukti, dan mengimbau masyarakat untuk menghindari alkohol sepenuhnya atau mengurangi konsumsinya. Ia mencatat bahwa angka kasus kanker mulut meningkat di Taiwan, dengan tembakau, alkohol, dan sirih sebagai faktor utama penyebabnya.
Wakil Direktur Jenderal Administrasi Asuransi Kesehatan Nasional, Chen Liang-yu (陳亮妤), mengungkapkan bahwa diagnosis terkait alkohol membebani sistem asuransi kesehatan Taiwan sebesar NT$5,7 miliar setiap tahun. Mengurangi konsumsi alkohol dapat meringankan beban finansial sistem tersebut, kata Chen.
Chen Chien-jen juga menyerukan agar program skrining kanker diperluas untuk mencakup individu dengan riwayat konsumsi alkohol, tidak hanya pengguna tembakau atau sirih. Ia juga mengusulkan agar pemerintah menyediakan tes PCR (polymerase chain reaction) untuk mengidentifikasi mereka yang secara genetik berisiko mengalami intoleransi alkohol.
Pengurangan konsumsi alkohol merupakan bagian dari “Program 888” pemerintah, yang mendorong konseling gaya hidup untuk pencegahan penyakit. Chen Liang-yu menegaskan kembali bahwa menghindari alkohol dan tembakau tetap menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit kronis.
Ia juga memperingatkan bahwa alkohol memperburuk kesehatan mental dengan meningkatkan kecemasan dan menurunkan kontrol impuls. Data menunjukkan bahwa alkohol terkait dengan satu dari lima kasus bunuh diri di Taiwan.
Sebagai respons, Taiwan telah membuka pusat pertama yang didedikasikan untuk pencegahan dan pengobatan kecanduan alkohol. Sebanyak 144 institusi medis saat ini berpartisipasi dalam program perawatan untuk ketergantungan alkohol.

Alkohol rasa kopi di pameran Taiwan
Waspada Gelang Kesehatan Tipu-Tipu
Baru-baru ini Dinas Kesehatan Kota Kaohsiung telah mengambil tindakan terhadap seorang penjual daring yang mengiklankan gelang secara menyesatkan sebagai pengobatan untuk berbagai kondisi medis.
Penjual tersebut mengklaim bahwa gelang yang dijualnya dapat mengobati bronkitis, radang tenggorokan, gangguan pernapasan, migrain, penyakit mata, epilepsi, berjalan saat tidur, dan gangguan kulit, serta dapat mencegah kanker dan meningkatkan fungsi jantung serta paru-paru. Pihak berwenang menyatakan bahwa penjual tersebut kini menghadapi denda antara NT$600.000 hingga NT$25 juta karena melanggar Undang-Undang Urusan Farmasi.
Menurut dinas tersebut, kemudahan akses informasi kesehatan dan meningkatnya saluran media yang beragam telah membuat konten menyesatkan lebih mudah menjangkau konsumen. Dalam kasus ini, seorang penjual mempromosikan gelang non-medis seolah-olah memiliki efek terapeutik, sebuah praktik yang dilarang oleh hukum bagi produk non-farmasi, menurut CNA.
Gelang tersebut tidak diklasifikasikan sebagai alat medis maupun obat, melainkan hanya produk konsumen. Meskipun iklan umum tidak memerlukan persetujuan sebelumnya, Undang-Undang Urusan Farmasi melarang klaim medis yang belum diverifikasi untuk produk non-medis.
Dinas kesehatan menyatakan bahwa kasus seperti ini menunjukkan bagaimana penjual yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan platform belanja daring, media sosial, dan iklan video pendek untuk mempromosikan produk seperti lilin telinga, plester, dan gelang. Iklan menyesatkan semacam itu dapat menipu konsumen dan berpotensi menunda pengobatan medis yang tepat.
Dinas kesehatan mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter saat mengalami gangguan kesehatan, serta meminta saran dari apoteker terkait penggunaan obat, alih-alih mempercayai iklan. Biro tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti lima prinsip utama dalam menilai produk kesehatan: jangan percaya, jangan dengar, jangan beli, jangan pakai, dan jangan sarankan pengobatan yang belum terverifikasi.

Ilustrasi perhiasan gelang dan cincin pada seorang wanita (foto: Missoma)
Topik Utama: Budaya Antre di Taiwan
Orang Taiwan sering kali ikut antre bukan karena kebutuhan, melainkan demi kesenangan dan rasa takut ketinggalan (FOMO).
Jika dulu mengantre dianggap sebagai hal yang merepotkan atau sekadar bentuk kesopanan, kini generasi baru melakukannya untuk bersenang-senang. Fenomena ini juga terlihat di negara-negara Asia lainnya seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, yang menyebutnya sebagai “kegilaan menunggu” atau waiting craze.
Mengantre untuk produk populer, pengalaman kuliner baru, atau tiket acara selebritas kini dipandang sebagai bagian dari dinamika sosial. Ini adalah sesuatu yang “semua orang lakukan.”
Antrean panjang juga menjadi hal yang diinginkan oleh pelaku bisnis dan selebritas karena dapat meningkatkan permintaan dan perhatian terhadap produk mereka.
Tidak hanya itu, baik itu gerai baru Harry Potter - Mahou Dokoro di pusat perbelanjaan LaLaport Nangang yang baru dibuka, gim komputer, atau jajanan pasar malam terkini, ikut antre bersama teman atau keluarga adalah cara merayakan hidup. Pada akhirnya, pelanggan mendapatkan “hadiah” yang membuat seluruh proses menunggu terasa layak dan memuaskan.
Fenomena “kegilaan menunggu” ini begitu melekat, hingga sebagian orang ikut antre bahkan sebelum tahu apa yang sedang diantrekan. Ini berkaitan dengan FOMO — ketakutan akan ketinggalan sesuatu yang seru. Asumsinya: jika ada antrean, pasti ada sesuatu yang layak ditunggu di ujungnya.
Di Singapura, ada istilah Hokkien untuk perilaku ini, yaitu “kiasu” (驚輸), yang mirip dengan FOMO namun juga menggambarkan sikap kompetitif, bahkan egois. Dalam konteks antrean, kiasu bisa berarti bangun pagi untuk jadi yang pertama, membayar orang lain untuk antre, atau mencari celah agar bisa lebih dulu dalam penjualan online.
Meski harus menunggu lama dan mengorbankan waktu serta tenaga, “kegilaan antre” dianggap sepadan karena memberi kebanggaan. Mereka yang “berhasil” punya cerita untuk dibagikan, tentang betapa lamanya mereka menunggu, dan bisa pamer di media sosial dengan menunjukkan hasilnya. Ini menyenangkan — dan menjadi bentuk flexing.
Di Taiwan, meski tidak sekompetitif itu, rasa bahagia dan bangga saat sampai di ujung antrean dan mendapatkan “hadiah dopamin” tak bisa diremehkan.

Antrean di sebuah pameran makanan Taiwan
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 