30% Orang Taiwan Dewasa Memiliki Kolesterol Tinggi
Badan Promosi Kesehatan baru-baru ini menyampaikan, bahwa 30% orang dewasa Taiwan berusia 20 tahun ke atas memiliki kolesterol tinggi.
Dilansir dari CNA, badan tersebut mengutarakan, bahwa gejala awal kadar kolesterol abnormal sering kali tidak kentara, dan individu tidak dapat mengukurnya sendiri. Tingginya kadar kolesterol, kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL / kolesterol jahat), atau trigliserida berpotensi menyebabkan stroke dan penyakit kardiovaskular.
Badan tersebut menyarankan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin guna memantau kadar kolesterol. Mulai tahun ini, pemerintah memperluas layanan kesehatan orang dewasa gratis, dengan menawarkannya setiap lima tahun sekali bagi mereka yang berusia 30 hingga 39 tahun, setiap tiga tahun sekali bagi mereka yang berusia 40 hingga 64 tahun, dan setiap tahun bagi mereka yang berusia 65 tahun ke atas.
Masyarakat juga dapat menggunakan platform penilaian risiko penyakit kronis milik badan tersebut untuk memasukkan data tentang kolesterol dan indikator kesehatan utama lainnya. Platform tersebut menghitung risiko pengguna terhadap penyakit jantung dan kejadian kardiovaskular.
Badan tersebut mengatakan olahraga teratur dapat menurunkan trigliserida dan meningkatkan kolesterol lipoprotein densitas tinggi. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola makan rendah minyak, garam, dan gula, serta tinggi serat.
Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah sekaligus menurunkan kolesterol lipoprotein densitas tinggi.
Pada tahun 2023, penyakit jantung dan penyakit serebrovaskular menduduki peringkat kedua dan keempat penyebab kematian terbanyak di Taiwan, menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan. Dilaporkan pula bahwa kematian akibat penyakit kronis mencapai 68.000 pada tahun itu, melebihi 53.000 kematian akibat kanker.

Ilustrasi kolesterol jahat (foto: Blodsjekk)
Bubur dari Restoran Ikan Bandeng Ternama di Taipei Dipenuhi Binatang Kecil, Apa Akar Masalahnya?
Seorang warganet baru-baru ini memesan bubur ikan bandeng dari sebuah restoran ternama di Taipei melalui platform pemesanan makanan. Namun, ternyata setelah dimakan, terlihat ada banyak binatang, yaitu serangga kecil yang berada di makanannya. Setelah mengajukan komplain, ia pun kesal dengan cara pihak restoran memperlakukan pelanggan.
Kejadian ini diposting oleh seorang warganet di grup Facebook “Breaking Commune” (爆料公社), di mana warganet tersebut memesan bubur ikan dari restoran “Xiangzhizhuan” (享之饌 台南虱目魚) yang berada di Jinxi Street, Distrik Zhongshan, Taipei di platform pengantaran makanan online. Ternyata, di dalam 2 mangkok bubur yang dipesan ada banyak serangga kecil. “Awalnya kupikir salah lihat, tapi setelah diperhatikan seksama, setiap titik hitam tersebut memiliki kaki dan saya tidak dapat menghitung jumlahnya. Ia pun khawatir dengan kesehatan anaknya yang turut makan bubur tersebut.
Ketika melaporkan hal tersebut, pelayannya hanya menjawab, “baik, baik, baik” dan meminta konsumen tersebut untuk meminta pengembalian dana dari platform pemesanan makanan. Ia pun marah dan mengkritik, “bukan begitu! Utamanya bukan pengembalian dana! Saya tentu tahu harus melaporkannya ke platform terkait, tapi kalian juga harus memperhatikan dengan seksama asal masalahnya. Hal ini sangat menjijikan, siapa yang berani memakannya? Siapa yang akan bertanggung jawab ketika terjadi sesuatu setelah memakannya?”
Setelah postingan dirilis, banyak warganet yang mengkritik dan menyampaikan bahwa lingkungan restoran berarti sangat kotor dan kasus tersebut sangat menjijikan. Ada baiknya konsumen tersebut memeriksakan diri ke rumah sakit dan langsung menghubungi dinas kesehatan terkait. Ada pula warganet yang menyampaikan, bahwa ia pernah mengakal anaknya makan, tapi ternyata ada beberapa ulat dalam semangkuk sayuran rebus, membuat anaknya muntah dan diare, sehingga ia tidak pernah kembali ke restoran terkait.
Terkait dengan insiden keamanan pangan tersebut, pihak restoran mengeluarkan pernyataan terbaru melalui laman Facebook, menyampaikan, bahwa insiden tersebut disebabkan oleh masalah kualitas dengan produsen bahan tiram dan kubis, yang mengakibatkan banyaknya serangga dan ini adalah kali pertama restoran tersebut mengalami situasi ini dan gagal menemukannya tepat waktu. Pihak restoran meminta maaf kepada semua konsumen dan kini telah beralih ke produsen dengan bahan kualitas yang lebih baik.
Terkait dengan cara karyawan menanggapi keluhan konsumen, pihak restoran juga telah meminta maaf dan menyampaikan, di masa depan akan lebih mengawasi serta memastikan kualitas makanan maupun pelatihan karyawannya. Selain itu, mereka juga berjanji untuk dengan rendah hati meninjau pendapat para konsumen.

Serangga dalam bubur ikan dari restoran ternama di Taipei (foto: 爆料公社)
Topik Utama: Tren Olahraga Generasi Muda, Keseharian atau FOMO?
Tren olahraga kini semakin ramai di media sosial, membuat anak muda semakin tertarik dengan berbagai kegiatan olahraga.
Tidak ada yang salah dengan kegiatan olahraga ini, sebab banyak orang tentunya ingin hidup sehat, apalagi generasi muda adalah individu yang proaktif, suka mengeksplorasi, dan menunjukkan antusiasme untuk mencoba berbagai hal baru, termasuk tren olahraga.
Berikut adalah beberapa tren olahraga yang menarik bagi para generasi muda, seperti dikutip dari RRI:
Lari: olahraga ini sedang menjadi tren di kalangan generasi muda untuk tahun 2025. Apalagi banyaknya acara lari maraton yang fun mulai dari meningkatkan daya tahan otot, menjaga kekuatan lutut, membangun kebugaran fisik, hingga menurunkan berat badan, bahkan lari juga dapat meningkatkan suasana hati sehingga kesehatan mental lebih terjaga.
Silent walking: kegiatan jalan kaki tanpa menggunakan perangkat elektronik ataupun gangguan lainnya.
Pound Fit: olahraga dengan kombinasi antara irama musik, yoga dan aerobik dengan penggunaan stik ripstik.
Zumba: aktivitas olahraga ini mengintegrasikan gerakan tari dan aerobik dengan irama musik Latin yang penuh energi. Zumba tidak hanya efektif dalam membakar kalori dan meningkatkan stamina, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan suasana hati.
Pilates: tren ini cocok bagi individu yang berupaya untuk mempertahankan kebugaran tubuh tanpa memberikan beban berlebihan pada sendi. Pilates menempatkan perhatian pada serangkaian gerakan yang mengedepankan kekuatan inti, fleksibilitas, dan keseimbangan tubuh. Pilates, yang umumnya dilakukan di atas matras diakui sebagai metode yang efektif untuk memperbaiki postur tubuh serta meredakan ketegangan otot.
Pole dance: olahraga ini mulai hits di tahun 2024. Pole dance bukan hanya sekedar tarian biasa dengan tiang, tetapi juga membutuhkan kekuatan otot tubuh bagian atas, inti, dan kaki karena menggabungkan kekuatan, kelenturan, dan kreativitas. Olahraga ini semakin populer, terutama di kalangan wanita, karena selain mengasyikkan, olahraga ini juga bisa membentuk tubuh dan meningkatkan kepercayaan diri.
Ada juga berbagai kegiatan olah raga lain yang digemari generasi muda, antara lain bersepeda, golf, dan tenis. Namun, apakah berbagai tren kegiatan olahraga ini benar-benar terkait dengan kesehatan atau hanya karena “FOMO” (Fear of Missing Out)?

Ilustrasi aneka jenis olahraga (foto: Freepik)
Berdasarkan informasi, media sosial memang memainkan peran penting dengan adanya tren kegiatan olahraga, sebab banyak yang mengikuti kegiatan olah raga kemudian memostingnya di media sosial dan kemudian banyak pengguna yang akhirnya ikut tertarik untuk mengikuti olah raga – olah raga tersebut.
Banyak generasi muda yang awalnya hanya mencoba, tapi kemudian menjadi sebuah rutinitas dan kebiasaan yang menyenangkan, terlebih dengan adanya manfaat kesehatan, baik fisik maupun mental, serta pencapaian-pencapaian tertentu.
Namun, sayangnya, dilansir dari Kumparan, pencapaian-pencapaian tertentu via aplikasi khusus ataupun perlombaan tertentu, membuat ada orang-orang yang akhirnya FOMO, bahkan sengaja membagikan hasil kegiatan olahraganya tanpa melakukan kegiatan tersebut. Hal tersebut dilakukan hanya untuk validasi dan kepuasan di media sosial.
Menariknya, tren ini olahraga di kalangan generasi muda ini sebenarnya baik adanya, sebab kegiatan kerja yang sebagian besar di depan gawai ternyata bisa diimbangi dengan adanya tren olahraga. Hanya saja, ada beberapa yang perlu diperhatikan agar tren ini tidak hanya sekedar kegiatan percobaan, yaitu konsistensi untuk memperbaiki pola hidup.
Anda sebaiknya menjaga konsistensi dan memotivasi diri agar tetap aktif berolahraga dan cara yang paling mudah untuk memotivasi diri sendiri bagi para pemula adalah mengabadikan proses dan membagikan hasil dari olahraga tersebut.
Untuk mereka yang sebelumnya jarang berolahraga, jangan lupa untuk memperhatikan kondisi tubuh. dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, Sports Medicine Expert menyarankan untuk tidak langsung melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dan sebaiknya memulai semua kegiatan dengan intensitas ringan.

Aneka jenis perlengkapan olahraga (foto: Freepik)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 