Ingat, Truk Sampah akan Berhenti Beroperasi selama 4 Hari! Perhatikan Waktu dan Tempat Pembuangan Sampah menjelang Imlek
Liburan Festival Musim Semi atau Hari Raya Imlek akan segera tiba dan banyak orang yang mengatur pembersihan besar-besaran serta mengeluarkan furnitur-furnitur besar seperti kasur dan berbagai benda lain.
Kementerian Lingkungan hidup menyampaikan, bahwa menjelang Imlek waktu pengumpulan dan pengangkutan sampah, serta metode pengumpulannya telah dipersiapkan untuk berbagai kabupaten dan kota. Waktu, metode pengumpulan, dan pengangkutan sampah selama Festival Imlek di berbagai kabupaten dan kota dapat dicek pada "Website Resmi Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup" atau website instansi perlindungan lingkungan hidup di berbagai kabupaten dan kota.
Pada prinsipnya, pengumpulan sampah akan dihentikan mulai sore hari tanggal 28 Januari, yaitu pada Malam Tahun Baru Imlek, dan akan kembali seperti biasa pada tanggal 1 Februari, hari keempat Tahun Baru Imlek. Kota Taichung tidak akan menutup pengumpulan sampahnya selama Tahun Baru Imlek. Kota New Taipei akan mempertimbangkan bahwa masyarakat masih dapat membuang sampah selama masa penangguhan. Untuk memenuhi permintaan, 70 lokasi pengumpulan dan pengangkutan sampah telah disiapkan.
Kementerian Lingkungan Hidup juga mengingatkan masyarakat agar wadah bertekanan tinggi (seperti kaleng gas, kaleng semprot tabir surya, kaleng semprot rambut, pestisida, cat semprot, dan lain-lain) didaur ulang sesuai dengan empat langkah “konfirmasi penggunaan”. "Truk daur ulang tanpa ember kompresi" untuk memastikan keselamatan petugas kebersihan garis depan dan masyarakat saat membuang sampah.
Kementerian Lingkungan Hidup mengingatkan bahwa menjelang malam Tahun Baru Imlek, masyarakat melakukan bersih-bersih akhir tahun, sehingga jumlah sampah semakin meningkat. Masyarakat diimbau untuk mengemas dan memilah sampah dengan baik guna menghindari terjadinya cedera pada anggota tim kebersihan, yang juga dapat mengurangi beban kerja anggota tim kebersihan dalam melakukan pekerjaan pembersihan dan pemilahan.

Truk sampah di Taiwan (foto: Wikipedia)
Vogue Taiwan Memotret Isu Konsumsi Berlebih melalui Sampul Edisi Januari 2025
Vogue Taiwan dalam edisi pertamanya di bulan Januari 2025 memberikan gambar sampul dengan isu yang sangat kuat, yaitu dongeng ekologi tentang konsumsi berlebihan.
Dalam sampul Vogue tersebut terlihat bahwa ada seorang gadis muda dengan pakaian bertumpuk dan berbalut dengan cairan berwarna hitam yang tampak seperti minyak mentah atau limbah.
Nyatanya pihak Vogue menciptakan gaun seberat 30kg yang terbuat dari pakaian daur ulang, dikombinasikan dengan tanah pertanian yang dapat digunakan kembali untuk mengurangi limbah, memperlihatkan beban berat tuntutan konsumerisme yang terus menerus hadir tanpa batas. Foto tersebut diberi keterangan, “NEVER ENOUGH” yang berarti tidak pernah cukup.

Vogue Taiwan memberikan kesan kuat terkait konsumerisme dan isu lingkungan (foto: IG @ Vogue Taiwan)
Dalam foto lain terlihat ada kabut di mana terlihat seorang gadis seperti sedang berusaha untuk terus maju dengan rumah mungilnya di punggungnya. Dalam keterangan foto disebutkan, pakaian yang terlalu banyak bercampur dengan tanah di tubuhnya hampir menghancurkan tubuhnya. Ketika berbalik, terlalu banyak gambar dan foto yang menjadi hambatan visual, membuatnya sulit membedakan antara kenyataan dan ilusi.
Fitur tulisan dalam sampul terkait dilakukan oleh Nicole Lee, di mana model Zoe Fang tampak sangat menyatu dengan berbagai setting tempat terkait. Fotografer Zhong Lin juga mengabadikannya dengan sangat apik, ditambah dengan desain yang juga sangat mendukung dari Setsation Studio, serta kerja sama tim, mulai dari penata rias dan rambut, hingga editor dan produser yang luar biasa, pesan yang ingin disampaikan pun terasa kuat.
Vogue Taiwan yang merupakan majalah fashion terkemuka di Taiwan. Namun, dalam sampulnya kali ini majalah tersebut mengirimkan pesan cerita terkait dengan fashion, di mana konsumsi berlebihan menjadi penyakit peradaban. Dalam pesannya, hal ini seperti elegi tidur yang memungkinkan manusia untuk mengucapkan selamat tinggal kepada lingkungan yang kita cintai.
Vogue Taiwan juga mengutip kata-kata dari seorang penulis dan pendidik Amerika terkemuka, Anna Lappe yang pernah berkata, “setiap kali Anda berbelanja, Anda memilih dunia ideal Anda." Ketika kita mengklik tombol beli untuk memuaskan keinginan egois kita sendiri, konsumsi berlebihan bukan lagi pilihan pribadi, tetapi simbol dari sindrom seluruh era saat ini. Apa yang kita konsumsi bukan hanya barang, tetapi juga sumber daya, waktu, dan pemahaman tentang kebutuhan kita yang sebenarnya.

Vogue Taiwan memberikan kesan kuat terkait konsumerisme dan isu lingkungan (foto: IG @ Vogue Taiwan)
Gaya Hidup YOLO Kini Digaungkan menjadi YONO
Generasi muda secara umum selalu menggaungkan gaya hidup YOLO (You Only Live Once) di mana jika diartikan secara harafiah berarti Anda hanya hidup sekali, yang berarti bersenang-senanglah dan ambillah kesempatan saat ada, mumpung Anda masih bisa dan berkemampuan.
Namun, kini terjadi pergeseran dengan yang disebut YONO (You Only Need One), di mana pendekatannya lebih mengarah pada fokus untuk hal-hal mendasar.
Konsep YONO sejatinya mengajarkan seseorang, bahwa Anda hanya membutuhkan satu hal yang penting untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Jika diperhatikan, YONO merujuk pada gaya hidup minimalis dan pemikiran mindfulness yang menekankan pada kualitas daripada kuantitas.
Jika YOLO mendorong perilaku spontan, YONO mendorong seseorang untuk berpikir dengan matang, memilih dengan bijak, sehingga lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, sehingga hidup dengan batasan yang bermakna.
Tren gaya hidup YONO ramai diterapkan oleh masyarakat Korea Selatan belakangan ini, terutama di kalangan gen Z dan milenial. Data bank asal Korea Selatan, Nonghyup Bank (NH Bank), menunjukkan jumlah transaksi makanan di resttoran periode 1 Januari 2022 sampai 30 Juni 2024 mengalami penurunan 9 persen, spesifikasi kalanga usia 22-30 tahun.
Konsumsi kopi di cafe juga ikut menyusut hingga 13 persen, diikuti transaksi di pusat perbelanjaan turun sekitar 3 persen. Tagar #underconsumption juga populer, dengan para penggunanya membagikan video mencerminkan gaya hidup YONO, pengurangan atau minimalis konsumsi.
Gaya hidup YONO membuat masyarakat kini mulai beralih pada kebiasaan belanja yang lebih hemat, mengelola keuangan dengan ketat di tengah tingginya biaya hidup. Ini juga didasari oleh inflasi yang meninggi dan rendahnya pertumbuhan pendapatan.
Para ahli berpendapat bahwa pola pikir menghemat pengeluaran bukan sekadar menabung, dan merupakan perubahan dalam psikologi konsumen. Tren sebelumnya difokuskan pada pengeluaran untuk pengalaman yang unik dan berkesan, sedangkan YONO berpusat pada konsumsi rasional, yang dipandang sebagai sesuatu dibutuhkan.
Namun, hal ini sejatinya terjadi karena inflasi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan pendapatan yang rendah, membuat orang-orang mulai berpikir dengan cara pandang baru, yaitu mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.
Menariknya, bagi kaum muda ini, hidup YONO bukan berarti tidak bisa bersenang-senang. Daripada memiliki aneka barang, mereka lebih memilih untuk menghabiskan uangnya untuk berbagai kegiatan dan pengalaman, seperti olah raga dan bepergian ke luar negeri.

Tren gaya hidup baru di kalangan anak muda, YONO - You Only Need One (foto: NNC Netralnews)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 