Mengenal Penduduk Asli Taiwan Lewat Lagu
Siapa itu Penduduk Asli Taiwan?
Penduduk asli Taiwan (Hanzi: 臺灣原住民; Pinyin: Táiwān yuánzhùmín; Pe̍h-ōe-jī: Tâi-ôan gôan-chū-bîn) adalah istilah yang umumnya ditujukan kepada suku bangsa pribumi di Taiwan, yang berjumlah lebih dari 530.000 jiwa dan meliputi sekitar 2,3% dari populasi di pulau tersebut.
Penelitian terkini menyatakan bahwa leluhur mereka tinggal di Taiwan pada sekitar 8.000 tahun yang lalu sebelum imigrasi besar Han yang dimulai pada abad ke-17.
Penduduk asli Taiwan adalah suku bangsa Austronesia, dengan hubungan linguistik dan genetik dengan kelompok etnis Austronesia lainnya yang meliputi orang-orang dari Filipina,Malaysia, Indonesia, Madagaskar, dan Oseania.
Kawasan yang diduduki oleh suku bangsa pemakai bahasa Austronesia secara kolektif dikenal sebagai Austronesia. Kebanyakan orang Austronesia memiliki penampilan serupa seperti kulit berwarna muda sampai coklat dengan rambut lurus, keriting atau bergelombang.
Berdasarkan konsensus ilmiah saat ini, mereka menyebar melalui migrasi laut prasejarah yang dimulai dari Taiwan pra-Han, sekitar 3000 hingga 1500 SM.
Suku bangsa Austronesia mencapai ujung utara Filipina, khususnya Kepulauan Batanes, sekitar 2200 SM.
Bangsa Austronesia mengembangkan perahu berlayar beberapa waktu sebelum tahun 2000 SM.
Mereka memanfaatkan berbagai teknologi maritim yang mumpuni (terutama katamaran, perahu cadik, teknik pembuatan perahu papan ikat dan kupingan pengikat, serta layar capit kepiting) untuk menjelajahi pulau-pulau di Indo-Pasifik.
Sejak 2000 SM, mereka berasimilasi (atau terasimilasi) dengan populasi Paleolitik Negrito dan Australo-Melanesia yang lebih tua. Mereka mencapai Pulau Paskah di ujung timur, Madagaskar di ujung barat, dan Selandia Baru di ujung selatan. Pada tingkat terjauh, mereka juga diperkirakan telah mencapai Benua Amerika dan bahkan Antarktika.
Selain bahasa, masyarakat Austronesia secara luas berbagi kesamaan budaya, termasuk tradisi dan teknologi rajah, rumah panggung, ukiran giok, pertanian di lahan basah, dan berbagai karya seni batu. Mereka juga turut membawa berbagai tanaman dan hewan peliharaan dalam perjalanan migrasi, seperti padi, bambu, pisang, kelapa, sukun, nangka, kemiri, ubi rambat, talas, daluang, ayam, babi, dan anjing.

Peta persebaran bangsa Austronesia di seluruh dunia (foto: Historia)
Suku-Suku Penduduk Asli Taiwan
Ada beberapa suku penduduk asli yang diakui di Taiwan, diantaranya
Ami, Atayal, Bunun, Hla'alua, Kanakanavu, Kavalan, Paiwan, Puyuma, Rukai, Saisiyat, Tao, Thao, Tsou, Truku, Sakizaya dan Sediq.
Sembilan suku asli telah diakui sebelum 1945 oleh pemerintah Jepang. Thao, Kavalan dan Truku diakui oleh pemerintah Taiwan masing-masing pada 2001, 2002 dan 2004.
Sakizaya diakui sebagai suku ke-13 pada 17 Januari 2007, dan pada 23 April 2008, Sediq diakui sebagai suku resmi ke-14 di Taiwan. Sebelumnya, Sakizaya dimasukkan sebagai Amis dan Sediq sebagai Atayal. Hla'alua dan Kanakanavu diakui sebagai suku ke-15 dan ke-16 pada 26 Juni 2014.

Peta suku penduduk asli Taiwan (foto: ISRC Jente)
Berdiplomasi Lewat Lagu
Kebangkitan kesadaran etnis dikeluarkan dalam beberapa cara oleh penduduk asli, termasuk memasukkan unsur-unsur budaya mereka dalam musik pop yang sukses secara komersial.
Upaya yang dilakukan oleh penduduk asli tersebut dilakukan untuk membangkitkan praktik kebudayaan tradisional dan menyajikan bahasa-bahasa tradisional mereka.
Festival Kebudayaan Austronesia di Kota Taitung adalah salah satu acara dimana para anggota suku mempromosikan budaya penduduk asli.
Selain itu, beberapa suku-suku pribumi secara khusus terlibat dalam industri pariwisata dan eko-pariwisata dengan tujuan meningkatkan ekonomi berdikari dan menyajikan budaya mereka.
Musisi-musisi ini banyak sekali dan mereka menggunakan bahasa asli mereka dalam bernyanyi, misalnya Suming, Abao, Ado, Ilid Kalao, dan lainnya.
Bagi musisi, menulis dalam bahasa ibu adalah cara untuk (kembali) terhubung dengan warisan budaya mereka. Bahasa Pribumi mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya dan identitas mereka.
Oleh karena itu, berkreasi dan bernyanyi dalam bahasa tersebut merupakan cara intuitif untuk mengekspresikan diri.
Para musisi ini juga memahami bahwa mereka menghadapi ancaman serius berupa hilangnya bahasa.
Sebagai kelompok minoritas di Taiwan, hanya ada sedikit peluang untuk menggunakan bahasa Pribumi di luar komunitas Pribumi.
Oleh karena itu, musik pop suku penduduk asli menciptakan arena untuk melatih bahasanya. Patut dicatat bahwa sebagian besar penyanyi-penulis lagu suku penduduk asli Taiwan bukanlah pembicara yang mahir.
Banyak yang memerlukan bantuan linguistik dari orang yang lebih tua saat menulis lirik.
Misalnya, Abao selalu terbuka tentang fakta bahwa dia bukan pembicara yang fasih. Dia menyebut dua album pop Paiwannya sebagai 'Buku kerja bahasa Pribumi' karena ibunya ikut menulis lirik bersamanya dan melatih pengucapannya dalam sesi rekaman.
Dan penyanyi-penyanyi ini juga mendapagtkan penghargaan dan pengakuan di industri musk taiwan
Misalnya saja, pada tahun 2020, penyanyi Paiwan Abao (阿爆) menjadi sensasi semalam di Golden Melody Awards (GMA) ke-31 ketika album Paiwannya 'Kinakaian MOTHER TONGUE' membawa pulang banyak penghargaan besar, termasuk 'Album of the Year' dan 'Song of The Year.
Penghargaan ini mengejutkan banyak orang, karena musik populer Mandarin biasanya mendominasi kedua kategori lintas bahasa tersebut. Ini adalah pertama kalinya penyanyi berbahasa Pribumi memenangkan kedua kategori tersebut secara bersamaan,

Acara musik Festival Pasiwali 2023, salah satu festival terkait suku penduduk asli Taiwan (foto: TITV News)
Septina Layan Bernyanyi Bersama Ado di Taiwan
Ado telah menyelenggarakan konser 女人島 (Isla Mujeres) atau Women Island, di Legacy, Taipei 10 Juli. Ado tidak hanya bernyanyi sendiri, dia juga membawa dua penyanyi Masyarakat adat dari Indonesia, Septina Layan, dan dari Malaysia Alena Murang.
Septina menyanyikan tiga lagu, diantaranya dua lagu yang iya buat yang terinspirasi dari lingkungan dan Masyarakat Papua. Dan Satu lagu bersama dengan Ado berjudul Faliaw. Lagu Faliaw juga menjadi salah satu lagu di album ADO 女人島.
Profil Septina Layan:

Septina Layan
Septina Rosalina Layan adalah pesuara, komponis dan musikologi budaya/cultural musicology serta dosen musik di ISBI Tanah Papua Jayapura. Ia juga salah satu pendiri dan anggota dari komunitas action Papua yang berbasis di Jayapura.
Septina lahir dan dibesarkan di Merauke, pada 15 September 1989. Tahun 2014, ia menyelesaikan program sarjana seni dengan minat utama komposisi musik dari ISI Yogyakarta. Tahun 2021, ia menyelesaikan program master seni (pengkajian musik) dari Pascasarjana ISI Yogyakarta.
Sejumlah aktivitas bidang seni budaya telah dilakoni, di antaranya, masuk sebagai salah satu penulis dalam buku “Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh”-pendekatan feminis dalam kerja seni budaya, bersama organisasi Perempuan Lintas Batas (PERETAS); meraih Hibah Cipta Media Ekspresi- Riset/Kajian dalam program pendokumentasian lantunan tradisi Eb Suku Yaghai Mappi Papua; menampilkan karya komposisi musik “Devosi” (string kuartet dan perkusi-2012), Suita Of Malind” (brass kwintet-2013), ...''Ihin Sakil Somalae'' (Ratapan Cendrawasih) orkestra, paduan suara dan ansambel musik Papua (2014).
Karyanya ''Noken” untuk film “Noken Rahim Ke dua” produksi Imaji Papua yang terpilih sebagai salah film dokumenter terbaik FFI 2021.
Lagu pertama Septina itu terinspirasi dari rintihan burung Cendrawasih, sebagai kiasan di mana alam Papua yang terus dieksploitasi dan dikeruk oleh perusahaan-perusahaan besar.
Sehingga membuat orang-orang Papua menderita, karena sebagai masyarakat adat, biasanya mereka memang bergantung sekali dengan alam.
Dia menggunakan alat musik vicon atau mouth harp, atau kalau dalam tutur Sunda dikenal sebagai karinding.
Vicon ini adalah alat musik yang sangat sederhana dan sangat tradisional, biasanya terbuat dari bambu dan cara memainkannya ditepuk-tepuk sambil ditempelkan di bibir.
Dalam kesempatan itu dia juga menyuarakan tentang kapmnye “All Eyes in Papua”, nah ini mirip “All Eyes in Rafah” karena kejadiannya sangat dekat.
Kampanye ini berisi ajakan mendukung masyarakat adat Suku Awyu di Boven Digoel—salah satu kabupaten dengan laju deforestasi tertinggi di Papua
Suku Awyu tengah berupaya mempertahankan tanah ulayat seluas 36.094 hektare, yang setara setengah area Jakarta, dari rencana ekspansi perusahaan kelapa sawit PT. Indo Asiana Lestari.
Ketika membawakan lagu terakhirnya, ia menggunakan alat musik dari cangkang kerang, yang bernama Tahuri. Tahuri ini berasal dari Maluku.
Selain di Maluku, tahuri juga dikenal di beberapa kawasan seperti di Kabupaten Biak, Papua. Sama seperti di Maluku, di sini tahuri juga biasa digunakan sebagai alat bantu untuk memanggil penduduk dan sesekali digunakan untuk mengiringi tari-tarian khas Papua.

Septina Layan saat tampil di Konser Ado "Women's Island" di Taipei
Konser Ado, Lantunan Musik Suku Penduduk Asli Taiwan
Terkait dengan konser Ado sendiri yang bertajuk "Women's Island" (女人島) pada 10 Juli lalu, Ado memperlihatkan keunikan dari Suku Amis. Konser yang berlangsung selama 3 jam tersebut mengajak para penonton untuk merasakan keindahan bahasa Suku Amis yang serupa dengan beberapa Bahasa Suku Austronesia lain, seperti dalam penggunaan kata "mata", "telinga", dan "tangis", kemudian penyebutan angka, dan lain sebagainya.
Sama seperti lagu-lagu suku penduduk asli Taiwan lainnya, Ado juga mengajak penonton untuk lebih mencintai dan menghargai alam, bersama Septina dan Alena. Dalam konser ini, Anda pun dapat mendengarkan lantunan lagu terkait air yang semakin tercemar dan menghilang dari lagu "Water Come Back", menyaksikan masa kecil Ado yang sangat dekat dengan ayah dan neneknya, serta bagaimana para pemuda Suku Amis melakukan perayaan adat.
Anda yang penasaran juga bisa mendengarkan beberapa penggalan lagunya selama konser dari acara ini lho!

Ado bersama dengan Septina Layan dalam acara konser pada 10 Juli lalu
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
