Dalam acara ini hal yang akan dibahas antara lain adalah (1) gaji rata-rata para pekerja pemula lulusan baru di Taiwan (2) cara untuk peduli dan menangani migrain (3) menyiapkan "tas siaga bencana" secara mandiri.
Gaji Rata-rata Pekerja Pemula Lulusan Baru di Taiwan
Gaji rata-rata orang yang pertama kali bekerja di Taiwan adalah NT$35.000, naik 2,9 persen dibandingkan tahun 2022, demikian pernyataan Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan. Jumlah tersebut hanya 72,7% dari upah rata-rata bulanan pekerja penuh waktu di industri dan jasa.
Data menunjukkan bahwa pekerja pemula yang berpendidikan sekolah menengah atas memperoleh penghasilan sebesar NT$28.000, lulusan perguruan tinggi memperoleh penghasilan sebesar NT$33.000, dan orang-orang dengan gelar sarjana memperoleh penghasilan rata-rata sebesar NT$49.000.
Data menunjukkan bahwa 58,3% pekerja pemula yang mendapatkan gaji minimum adalah mereka yang memiliki pendidikan sekolah menengah atas atau sederajat, sementara 23,9% adalah lulusan perguruan tinggi dan 4,4% memiliki gelar sarjana.
Berdasarkan data, di antara mereka yang memiliki gelar sarjana, pekerja pertama di sektor kesehatan dan kesejahteraan sosial pada tahun lalu memiliki upah bulanan terbaik, yaitu NT$38.000, dan pekerja di sektor pendidikan berada di urutan kedua dengan gaji bulanan terbaik sebesar NT$37.000.
Di antara orang-orang yang memiliki gelar master, pekerja pertama di sektor teknologi informasi memperoleh upah tertinggi sebesar NT$57.000, dan konstruksi kedua dengan upah tertinggi sebesar NT$55.000.
Data menunjukkan bahwa industri manufaktur, ritel, dan grosir mempunyai jumlah pekerja pertama terbanyak, yaitu sebesar 18,4%, sedangkan industri obat-obatan dan kesejahteraan sosial berada di urutan kedua dengan jumlah pekerja pertama sebesar 11,84%.
Data menunjukkan bahwa 9,1% pekerja pemula berada di industri jasa khusus dan teknis, 8,1% berada di industri perhotelan, dan 7,8% berada di industri pendidikan.
Tidak hanya upah pekerja pemula yang mengalami kenaikan, kesenjangan upah gender di antara pekerja pemula juga menyusut menjadi 8%.
Pekerja perempuan yang baru pertama kali bekerja memiliki upah dasar sebesar NT$34.000, atau 92% dari upah dasar NT$37.000 untuk pekerja pertama laki-laki. Angka tersebut juga menunjukkan bahwa kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan turun 2,3% dari tahun 2022.
Namun, di antara pekerja pertama yang memiliki gelar master, perempuan memperoleh penghasilan sebesar NT$45.000, dibandingkan dengan NT$52.000 untuk laki-laki.
Alasan kesenjangan yang lebih besar bagi mereka yang memiliki gelar master adalah sekitar 61% laki-laki dengan gelar sarjana telah mempelajari ilmu informasi, teknik atau mata pelajaran terkait, sedangkan angka tersebut hanya 24,8% untuk perempuan.

Ilustrasi para calon pekerja di pameran kerja (job fair)
Mari Lebih Peduli, Jangan Sampai Salah Menangani Migrain
Menurut Asosiasi Pasien Muda Taiwan, meskipun sekitar 10% orang mengalami migrain, sekitar sepertiga dari mereka secara keliru percaya bahwa migrain hanya merupakan gejala dan tidak memerlukan pengobatan.
Survei persepsi migrain yang dilakukan oleh asosiasi tersebut, yang mengumpulkan data dari 1.012 orang berusia 20 atau lebih, menemukan bahwa 73% mengatakan mereka mengalami sakit kepala dari waktu ke waktu, sementara 67,5% pernah mengambil cuti kerja karena sakit kepala, kata ketua asosiasi Pan Yi-ling ( 潘怡伶).
Di antara mereka yang melaporkan sakit kepala, sekitar 15% mengatakan mereka rata-rata mengalami sakit kepala lebih dari 15 hari per bulan, hal itu memenuhi definisi migrain kronis, kata Pan.
Survei tersebut juga menunjukkan sekitar 90 persen mengatakan ketidaknyamanan akibat sakit kepala sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka, membuat mereka tidak dapat berkonsentrasi, kelelahan secara fisik dan mempengaruhi pekerjaan mereka, katanya.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Taiwan Headache Society menunjukkan bahwa sekitar 9,1% orang di Taiwan, atau sekitar 2 juta orang, menderita migrain, dan prevalensinya lebih tinggi di kalangan wanita.
Survei yang dilakukan asosiasi tersebut menunjukkan bahwa sekitar sepertiga responden percaya bahwa migrain hanyalah gejala yang tidak memerlukan pengobatan, sementara 34,1% mengonsumsi obat yang dijual bebas untuk mengobatinya dan 32,7 persen tidak menyadari bahwa penggunaan obat pereda nyeri dalam waktu lama dapat memperburuk sakit kepala.
Dokter Departemen Neurologi Rumah Sakit Lin Shin, Lin Chih-hao (林志豪) mengatakan gejala migrain termasuk nyeri berdenyut atau sensasi berdenyut, biasanya di satu sisi kepala, yang terasa lebih buruk saat bergerak atau berolahraga, disertai mual, muntah, dan kepekaan terhadap cahaya dan juga suara.
Banyak orang yang salah paham bahwa migrain hanya sebuah gejala, padahal migrain bisa bersifat turun temurun. Jika seseorang meminum obat pereda nyeri secara teratur dan terlalu sering, mereka mungkin mengalami sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan, sehingga menyebabkan sakit kepala episodik menjadi kronis.
Meski migrain belum ada obatnya, menemui dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat dapat membantu mengurangi frekuensi sakit kepala dan meningkatkan kualitas hidup, katanya.
Selain itu, membatasi penggunaan obat pereda nyeri dapat mencegah ketergantungan obat atau kerusakan tak terduga pada organ lain, seperti hati atau ginjal, tambahnya.

Ilustrasi sakit kepala (foto: Greater Austin Pain Center)
Topik Utama: Yuk Siapkan “Tas Siaga Bencana” Sendiri
Akhir-akhir ini baik di Taiwan maupun di Indonesia sedang sering terjadi bencana, seperti gempa bumi, gunung erupsi, banjir, dan lainnya.
Meski kita hidup berdampingan dengan bencana, tapi kita kerap lupa untuk mempersiapkan “tas siaga bencana” yang diperlukan dalam keadaan darurat.
Untuk itu, RTI mau berbagi tips bagi para pendengar dalam menyiapkan "Tas Siaga Bencana" yang tentunya isinya bisa kita dapatkan di supermarket maupun minimarket terdekat.
Beberapa kebutuhan darurat ini juga mungkin sudah ada di rumah kamu kok.
Pada intinya tas siaga bencana ini harus praktis dan gampang dibawa kemana mana dan bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam keadaan darurat.
Maka tas perlu memuat barang-barang yang penting saja, yaitu peralatan fungsional, medis, dan makanan.
Untuk selengkapnya, dengarkan acara ini ya!

Tas Siaga Bencana (foto: Undiksha)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 