History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jiwa Muda 010424 - Mengapa Gen Z Enggan Menikah?

  • 01 April, 2024

Makanan Vegetarian Pasti Aman? Kesalahan Besar jika Berpendapat Demikian

Kasus keracunan makanan yang menyebabkan kematian di Restoran Polam Kopitiam terus dibahas masyarakat Taiwan. Padahal, disebutkan oleh bahwa makanan di restoran tersebut adalah makanan vegetarian. Apakah memang makanan vegetarian sejatinya pasti aman? Apa yang menyebabkan makanan menjadi tidak aman?

Nyatanya, berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran, pemikiran bahwa makanan vegetarian pasti aman adalah sebuah kesalahan besar. Bakteri-bakteri yang menyebabkan keracunan pada makanan di Taiwan antara lain adalah bakteri Bacillus cereus, kemudian Staphylococcus aureus, salmonella, dan Vibrio parahemolytica tidak hanya hadir di makanan yang mengandung daging, telur, atau makanan laut.

Jurnalis Hong Su-ching (洪素卿) dalam laman Facebook informasi makanan dan obat-obatan (洪素卿的食品醫藥資訊網) menyampaikan, bahwa staf juga bisa menjadi sumber terjadinya kontaminasi. Dulu, sempat terjadi wabah keracunan makanan secara kolektif yang menyebabkan 53 orang mengalami keracunan makanan. Belakangan, eksudat luka di tangan pekerja dapur yang menjadi penyebabnya.

Selain itu, buah-buahan dan sayur-sayuran juga mungkin mengandung bakteri E.coli. Pada tahun 2012, ratusan orang di Hokkaido, Jepang dicurigai mengalami gejala diare dan sakit perut setelah memakan acar kubis produksi “Iwai Foods” di Sapporo. Setidaknya terjadi 7 kematian akibat hal tersebut dan pelakunya ternyata adalah bakteri E.coli O157. Sebuah insiden lain terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2006. Saat itu lebih dari 100 kasus dilaporkan akibat mengonsumsi bayam dan setidaknya 53 orang dirawat di rumah sakit dengan 1 orang meninggal dunia. Saat itu penyebabnya juga adalah bakteri E.coli O157.

Hong Su-ching menyebutkan bahwa Bacillus cereus juga sering tersembunyi dalam nasi, produk tepung, sosis, dan kuah daging. Sebuah kasus keracunan makanan juga dialami seorang mahasiswi berusia 20 tahun di Belgia. Ia menaruh pasta selama 5 hari, kemudian ia memanaskannya dalam microwave dan memakannya. Setelah itu ia meninggal karena mengalami kegagalan hati dengan penyebab adanya bakteri Bacillus cereus. Di tahun 2021, lebih dari 200 orang di sekolah menengah putri di Kota New Taipei mengalami diare dan sakit perut setelah memakan makanan yang disediakan pihak sekolah. Nyatanya, terdeteksi adalahnya Bacillus cereus sebanyak 900 CFU, 9 kali lipat dari standar normal 100 CFU/g.

Di akhir, ia mengutarakan, bahwa nasi dan makan bertepung yang tidak diawetkan dengan baik juga mempermudah berkembangnya bakteri Bacillus cereus. Jika kwetiau dimasak dan didinginkan pada suhu ruangan, tapi lingkungan kurang bersih dan waktunya terlalu lama, bakteri juga dapat berkembang dengan pesat. "Jangan terlalu lama menyimpan makanan di suhu ruangan, dan ingatlah untuk menyimpannya di lemari es di bawah 7 derajat C.”

Ilustrasi makanan (foto: Shutterstock)

Minuman Ini hanya Tersedia di Taiwan, Termasuk Salah Satu Minuman Tingkat Tertinggi bagi Turis Daratan Tiongkok

Makanan dan minum di Taiwan telah dikenal secara internasional dan banyak turis asing yang menyukainya. Adapun makanan-makanan tersebut antara lain ayam goreng, tahu bau, omelet tiram, dan berbagai jenis minuman segar kocok buatan tangan.

Baru-baru ini, seorang turis dari Daratan Tiongkok merasa sangat terkejut setelah meminum sekaleng minuman beralkohol di Taiwan. Menurutnya, minuman itu merupakan salah satu minuman terbaik yang ia pernah minum, tapi hanya dapat ia jumpai di Taiwan.

Hal ini diceritakan oleh turis asal Daratan Tiongkok melalui media sosial Buku Merah Kecil (小紅書). Ia menyebutkan, bahwa minuman ini ia beli di sebuah pasar malam yang ada di Taiwan. Tanpa diduga, setelah mencoba ia pun memujinya karena dirasa minuman tersebut merupakan anggur soda terbaik yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Terlihat dari foto yang dipostingnya, minuman tersebut diberi nama “Jasmine Sijichun Tea Sparkling Mead” dengan ukuran kaleng 330 ml dan konsentrasi alkohol 3,5%.

Setelah postingan tersebut tersebar, banyak yang menyampaikan ingin mencoba atau membelinya jika bisa atau jika berkunjung ke Taiwan. Menariknya, banyak orang Taiwan yang juga belum pernah melihatnya dan penasaran rasanya seperti apa. Banyak warganet yang kemudian menjawab, bahwa minuman ini diproduksi oleh asosiasi petani sehingga jumlahnya terbatas dan tidak dijual di semua tempat. Jika ingin membelinya, toko Simple Mart, Px Mart, dan Rt-Mart baru dapat dijumpai.

Minuman Taiwan yang diproduksi secara terbatas (foto: 小紅書)

Ini Dia Negara dan Wilayah dengan Angka Kelahiran Terendah, Taiwan Termasuk

  • Taiwan

Pada 2022, Taiwan kembali mencatatkan rekor sebagai salah satu negara dengan angka kelahiran terendah di dunia. Adapun tingkat kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR) Taiwan hanya 0,87 anak per wanita.

Angka ini bahkan lebih rendah dibanding TFR Taiwan pada 2020. Kala itu, Taiwan menjadi negara dengan angka kelahiran terendah di dunia, yakni hanya 1,07 anak per wanita.

Merosotnya angka kelahiran di negara tersebut disebabkan oleh pengeluaran dan biaya hidup yang semakin meningkat. Selain itu, banyak wanita di Taiwan yang mulai memprioritaskan karier dan baru menikah ketika usianya sudah tak lagi subur.

  • Korea Selatan

Korea Selatan juga menjadi salah satu negara yang dihantam krisis populasi. Dikutip dari Reuters, angka kelahiran di Korea Selatan tercatat hanya 0,72 pada 2023, terburuk sepanjang sejarah Negeri Ginseng tersebut.

Bahkan, kota Seoul mencatatkan angka kelahiran hanya 0,55. Menurut para ahli, anjloknya angka kelahiran di Korea Selatan disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan dan perumahan di negara tersebut. Akibatnya, banyak pasangan muda yang belum berani memiliki dan membesarkan anak.

  • Singapura

Krisis populasi memang menjadi salah satu isu yang menghantam Singapura. Dikutip dari Channel News Asia, angka kelahiran di Singapura ditaksir hanya sekitar 0,97 pada 2023. Ini menurun dibandingkan 1,04 pada 2022, dan 1,12 pada 2021.

"Ada berbagai alasan di balik rendahnya angka kelahiran di Singapura. Beberapa bersifat sementara, misalnya pasangan yang menunda pernikahan karena COVID-19, yang kemudian turut menunda rencana untuk memiliki anak," ujar anggota parlemen Singapura, Indranee Rajah.

Selain itu, kekhawatiran mengenai biaya finansial dalam membesarkan anak, tekanan untuk menjadi orang tua yang lebih baik, dan kesulitan mengelola komitmen pekerjaan dan keluarga juga menjadi beberapa alasan masyarakat di Singapura memilih childfree.

Hong Kong
Hong Kong termasuk salah satu negara di Asia yang juga dilanda krisis populasi. United Nations Population Fund (UNFPA) mencatat angka kelahiran total Hong Kong pada 2023 hanya 0,8, jauh di bawah angka 2,1 untuk menjaga stabilitas populasi.

Pemerintah Hong Kong sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak angka kelahiran atau fertilitas. Misalnya, dengan menambah tunjangan pajak anak sebesar HK$ 10.000, atau sekitar lebih dari Rp 19 juta. Namun, hasilnya tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan fertilitas.

Salah satu alasannya adalah karena banyak warga yang menganggap kebijakan kesuburan Hong Kong tidak memberikan dukungan yang cukup pada orang yang ingin memiliki anak. Selain itu, ada pula faktor sosial seperti tekanan ekonomi, perubahan struktur sosial, serta stabilitas politik yang memengaruhi keputusan orang untuk memiliki anak.

  • Jepang

Jepang tak habis-habisnya dilanda krisis populasi. Pada 2023, angka kelahiran di Negeri Sakura tercatat hanya 1,3. Lebih lanjut, data Kementerian Kesehatan Jepang mengungkapkan hanya ada sekitar 758.631 bayi yang lahir pada tahun tersebut.
Pandemi COVID-19 disebut berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran di Jepang. Selain itu, semakin banyak pasangan yang menikah dan memiliki anak di usia tua, sehingga turut memengaruhi fertilitas.

  • Daratan Tiongkok (RRT)

Meski menjadi salah satu negara dengan penduduk terpadat, China juga dihadapkan dengan krisis populasi. Dikutip dari Macrotrends, angka kelahiran di China pada 2024 hanya sekitar 1.7.
Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya warga yang menunda pernikahan. Selain itu, banyak warga yang sudah menikah juga memilih untuk tidak memiliki anak. Biaya pendidikan yang mahal, serta lingkungan akademik yang kompetitif disebut jadi penyebab utama.

  •  Italia

Beberapa negara di Eropa juga tak luput dari krisis populasi. Salah satunya Italia, salah satu negara yang memiliki harapan hidup tertinggi di dunia.

Dikutip dari Reuters, angka kelahiran di Italia mencetak rekor terendah pada 2022, yakni di bawah 400 ribu. Bahkan, kondisi ini dinilai sebagai situasi darurat nasional oleh pemerintah.

Selain dampak COVID-19, penurunan angka kelahiran juga dipengaruhi pengurangan dan penuaan populasi wanita dalam kelompok usia 15-49 tahun yang secara konvensional dianggap reproduktif.

  • Puerto Riko

Tercatat, Puerto Riko memiliki tingkat kesuburan sebesar 1,23. Padahal, pada 1950-an negara ini memiliki rata-rata kelahiran sebanyak 5 anak per wanita. Bencana alam seperti Badai Maria (2017) dan gempa (2019) yang menewaskan ribuan orang disebut berkontribusi terhadap penurunan populasi dan fertilitas.

  • Spanyol

Dikutip dari Statista, tingkat kesuburan Spanyol hanya sekitar 1,29. Sejak memasuki abad ke-21, Negeri Matador memang dihadapkan dengan ancaman krisis populasi. Meski sempat mengalami peningkatan, Spanyol tetap termasuk ke dalam negara dengan tingkat kelahiran terendah.

 

Topik Utama: Mengapa Gen Z Enggan Menikah?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan. Bahkan, angka pernikahan di Indonesia pada 2023 menyentuh level terendah sejak 1997/1998. 

Generasi Z yang lahir 1997-2002 memilih menunda pernikahan dan memiliki anak karena berbagai alasan,

Founder Pembelajar Hidup dan Life Coach, Deny Hen, memprediksi generasi Z semakin banyak yang menunda menikah ke depannya. Mereka enggan menikah di usia muda. Prediksi Deny Hen tersebut, sejalan dengan survei Populix yang bertajuk Indonesian Gen-Z & Millenial Marriage Planning and Wedding Preparation. Melansir laporan survei yang dirilis pada Maret 2023 lalu, sebanyak 61 persen responden Gen Z mengaku berencana menikah, tapi tidak dalam waktu dekat.

Lantas, apa alasan Gen Z menunda menikah? Yuk dengarkan acara ini untuk selengkapnya.

 

Penyiar

Komentar