Google tertinggal dengan perusahaan baru ? pencarian via Google menjadi sejarah ? ( Part 1 )
Berkat kemajuan zaman yang semakin sarat dengan berbagai informasi, manusia modern menjadi begitu intim dengan segala aplikasi dan perlengkapan yang dapat digunakan oleh setiap orang dalam mencari informasi apa saja, dari berita nasional, internasional, kondisi ekonomi dalam negeri, ekonomi global, cabang olahraga, teknologi dunia, otomotif, musik, hiburan, gaya hidup, tips kesehatan, DLL. semua ini dapat dengan mudah diakses untuk diri kita. maka dari itu tidak heran sebuah kata yang dulu ada nama dari sebuah merek dagang, kini bahkan menjadi sebuah kata kerja yang kerap kita dengarkan, “ saya Google dulu yah “. maka tidak heran apabila segala perihal yang sekiranya kita tidak mengerti dapat di cari dulu informasinya via Mbah Google.
Mark Shumulik selaku analis internet di Bernstein Research mengatakan bahwa para Gen Z dan generasi yang lebih muda akan beralih ke platform lainnya demi mencari informasi. sekitar dua dekade yang lalu Google telah mencapai tonggak sejarah yang penting, kamus Merriam Webster menambahkan “ Google “ sebagai kata kerja yang berarti mencari sesuatu via internet, maka tidak heran semenjak itu juga “ Googling “ menjadi kata kunci untuk mencari informasi via internet.
Namun perubahan teknologi di dunia ini begitu cepat dan kilat, perubahan itu adalah sebuah keharusan demi kualitas dan efisiensi hidup yang lebih baik, dilansir dari CNN yang menyatakan bahwa sebuah penelitian terbaru mengungkapkan Gen Z sebagai generasi yang lahir mulai dari tahun 1997-2012 tidak lagi menggunakan Google sebagai mesin pencarian via internet dalam mencari informasi, mayoritas orang yang menggunakan Google sebagai mesin pencarian tentu akan bertanya-tanya lalu dimana mereka mencari informasi ?
Para Gen Z kini semakin sering membuka media sosial seperti TikTok untuk mencari berbagai informasi seperti rekomendasi restoran, informasi terhadap sebuah barang dan menggunakan berbagai kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Merujuk sebuah survei yang dilakukan oleh Forbes Advisor dan Talker Research terhadap 2000 orang Amerika mencatat bahwa sebanyak 45% Gen Z cenderung untuk menggunakan MedSos sebagai mesin pencarian informasi. sementara itu hanya 35% generasi milenial yang melakukan pencarian via TikTok maupun Instagram, Gen X sebanyak 20% dan generasi Boomers sebanyak 10%. bahkan ketika Gen Z tumbuh semakin dewasa, mereka semakin mengandalkan media sosial sebagai mesin pencarian utama mereka.
Mengapa MedSos ?
Alasan utama Gen Z lebih menyukai medsos sebagai alat pencari adalah karena media sosial mampu memberikan informasi yang mereka inginkan dengan cepat, melansir dari GoodStats.id yang menjabarkan bahwa hal ini diakui oleh 60.1% Gen Z per Oktober 2023, sementara itu sebanyak 36.7% mengaku memilih menggunakan medsos sebagai alat pencari adalah hasilnya yang relevan. maka tidak heran apabila TikTok dan Instagram terpilih menjadi platform yang sangat populer di kalangan muda ini. melihat karakteristik Gen Z dalam memanfaatkan media sosial setiap brand kini harus dapat memahami bahwa media sosial kini telah menjadi bagian yang membentuk budaya Gen Z, dengan demikian apa yang disediakan brand atau merek dagang tertentu harus selalu relevan dengan generasi ini.
Selain itu juga ada kehadiran kecerdasan buatan yang semakin menjadi pilihan favorit dari warga internet. sudah bukan rahasia lagi apabila AI dapat berkontribusi bagi efisiensi manusia dalam mengerjakan sebuah tugas ataupun rutinitas, namun apakah mesin pencari ini dapat bersaing dengan Google yang telah dominan selama hampir kurun waktu dua dekade ini ?
Dilansir dari Theweek.com yang menyatakan bahwa OpenAI secara resmi terjun ke dunia mesin pencari dan hal ini berpotensi mengancam status Google sebagai pusat informasi internet bagi semua orang di dunia ini. dengan Chatbot ChatGPT yang mereka miliki kini telah mengintegrasikan fitur mesin pencari yang dijuluki sebagai SearchGPT, beberapa pakar mempertimbangkan apakah ini pertanda berakhirnya Google.
Kecerdasan buatan generatif telah menyebabkan pergeseran dalam ekosistem mesin pencari, Google perlahan memperbarui dirinya untuk dapat mengikuti kereta cepat yang akan segera memimpin pasar ini, integrasi jawaban yang dihasilkan oleh AI menjadi sebuah fitur baru yang dijuluki sebagai “ AI Overviews” menjadi bibir omongan bagi para pengguna dalam kurun waktu dekat ini. selain itu masih ada rival dari sektor yang sama yaitu Perplexity AI, yaitu sebuah mesin pencari yang telah ditingkatkan lagi kinerjanya dengan pendanaan investasi yang telah menelan lebih dari 400 juta USD tulis The Washington Post.
Chat GPT memang bisa dikatakan sebagai salah satu nama terbesar dalam industri AI, akan tetapi untuk saat ini Google tetap menjadi pilihan utama bagi warga internet dalam menemukan informasi daring, apakah hal ini akan tetap berlaku setelah SearchGPT mulai berjalan dan hingga saat ini masih menjadi perdebatan sengit.
Terdapat beberapa pihak yang berkomentar apabila pencarian via ChatGPT terasa lebih akrab dan seperti teman yang sedang membantu. ChatGPT Search adalah semua hal yang ada di Google sebelum pihak Google mulai memonetisasi mata kita, tampilan kontrol yang bersih dan bebas dari iklan mengingatkan kita pada masa-masa awal sebuah mesin pencarian anyar yang baru saja dirilis. Google modern memiliki begitu banyak “ Hasrat “ untuk semua produk dan layanannya, dimana tujuan dari semua itu tentu sebuah pemasukan yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. maka tidak heran apabila tampilan yang kita gunakan pada saat ini lebih mengacu kepada pencarian “Cuan”, hal ini bukanlah sesuatu yang buruk loh.. bagaimanapun juga tujuan dari sebuah perusahaan tentu akan mencari laba dan pemasukan yang lebih tinggi agar perusahaan mereka dapat berkembang dan menyediakan lebih banyak kontribusi kepada masyarakat.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 