History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2025-01-22

  • 22 January, 2025

Barang desainer buat kita semakin miskin ( Part 3 ) 

 

~ mengunci keresahan kelas menengah 

Selebriti seringkali dijadikan sebagai alat pemasaran terhadap kelas menengah dan kelas bawah, apakah berhasil ? tentu berhasil, karena merek desainer ini memahami kekuatan dan pengaruhnya di dunia modern, mereka memanfaatkan selebriti dan influencer untuk mendukung produk mereka serta menciptakan rasa aspirasi dan keinginan diantara target audiens mereka. dukungan dan kemitraan dengan selebriti ini dapat menciptakan sebuah ilusi bahwa memakai merek-merek ini dapat memberikan sebuah akses bagi penggunanya untuk memiliki sebuah rasa glamor yang sama. daya tarik emosional inilah yang mampu dimanfaatkan oleh merek desainer terhadap individu kelas menengah dan bawah yang ingin memperbaiki kondisi status sosialnya agar dapat menyesuaikan diri dan merasa diterima oleh sosial dengan lebih baik. 

~ efek wanita cantik 

Masih ingatkah sebuah adegan dari film yang cukup terkenal “ Pretty Woman “ dimana aktris utamanya Julia Roberts yang dibully di sebuah toko butik mewah dan kemudian kembali lagi ke toko tersebut? kisah fiksi ini cukup mampu untuk membungkus realita dan paradoks yang terdapat dalam sosial manusia zaman sekarang, namun ironisnya merek desainer ini tetap menang karena konsumen pada akhirnya menggunakan berbagai cara untuk mengumpulkan uang demi membeli produk desainer tersebut. sebuah penganiayaan emosional yang diberikan dari merek desainer ini berubah menjadi belanja serabutan yang tidak perlu. 

Bahkan tidak jarang ditemukan bahwa tekanan emosional bagi konsumen yang dirasa tidak memiliki kelasnya untuk dapat membeli produk desainer inilah yang menjadi teknik penjualan merek mewah, beberapa butik mewah menciptakan suasana eksklusif dan mengintimidasi. paradoksnya, pendekatan ini dapat membuat konsumen merasa telah mencapai sesuatu yang signifikan dengan melakukan pembeli, sehingga semakin memicu keinginan untuk memamerkan label desainer. ini merupakan sebuah bukti taktik psikologis yang kuat yang digunakan oleh merek-merek tersebut dalam memanipulasi perilaku konsumen. 

Kesimpulannya, merek-merek desainer telah berhasil memasarkan diri mereka sebagai sebuah simbol kekayaan, status sosial dan eksklusivitas, namun target audiens mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kebebasan finansial atau orang yang betul mempunyai kapasitas dalam membeli produk tersebut, melainkan kelas menengah dan kelas bawah. dengan memangsa keinginan manusia akan status sosial dan mengunci keresahan para konsumen di kelas ini yang tentu akan menjebak para konsumennya dalam siklus konsumsi berlebihan yang tentu akan menimbulkan problematika baru. 

Penting untuk mengenali ilusi kemewahan dan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap dompet kita, daripada mengejar merek-merek ternama, akan lebih bijak untuk membangun dan berfokus kepada hidup yang sederhana melalui investasi yang tepat dan edukasi krusial terkait kondisi keuangan. 

 

Pantau terus yows.. 

Penyiar

Komentar