Pernikahan jadi sesuatu yang langka, menikah di Tiongkok bukan hal mudah. ( Part 1 )
Dalam beberapa kesempatan Dua Sisi pernah membahas perihal konstruksi sosial yang tengah terjadi di Tiongkok terkait sistem dan visi pemerintahnya dalam membuat sebuah regulasi yang hanya memperbolehkan warganya hanya memiliki satu anak, regulasi ini bukan tidak memiliki dampak, bahkan hingga saat ini dampaknya dapat terlihat dengan jelas. kita semua mungkin pernah mendengarkan sebuah pernyataan dari kebudayaan Tiongkok terkait kelahiran seorang anak yang lebih memprioritaskan anak lelaki dibandingkan dengan anak perempuan. hal ini dikarenakan anak lelaki mampu membawa legasi dan nama keluarga ketimbang perempuan.
Beralih kepada zaman sekarang, selang beberapa dekade setelah regulasi ini telah berjalan nampaknya fakta telah berbicara bahwa jumlah populasi Tiongkok pada saat ini ternyata tidak seimbang antara dua jenis kelamin, pria jauh lebih banyak ketimbang dengan wanita. maka dari itu fakta, hal inilah yang disebut dengan Gender Imbalance, dilansir dari BBC.com yang menyatakan bahwa terhitung dari tahun 2020 diperkirakan terdapat lebih dari 30 juta pria lajang yang sedang mencari jodoh, dalam sebuah buku yang berjudul The Demographic Future yang ditulis dari seorang ahli ekonomi Nicholas Eberstadt melanjutkan bahwa apabila demografi ini terus berlanjut maka pada tahun 2030 mendatang diperkirakan terdapat lebih dari ¼ pria di Tiongkok yang tidak akan menikah seumur hidupnya.
Hingga kini dengan jumlah perempuan yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki, perlombaan untuk menemukan pasangan yang cocok dan memenangkan hati pasangannya sebelum orang lain melakukannya telah menciptakan sebuah kompetisi yang luar biasa tinggi bagi siapapun pria lajang yang ingin menemukan sang istri idaman. mereka terkadang harus dihadapkan ke dalam sebuah fakta bahwa mencari pasangan hidup akan menghabiskan banyak uang dan tenaga demi hal-hal yang kreatif, bagi siapa yang tidak memiliki kondisi finansial yang kurang maka perlombaan ini akan berakhir dengan begitu saja bahkan sebelum garis start dimulai.
Di tahun 2015, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai seorang usahawan dilaporkan telah menggugat agen biro jodoh yang berbasis di Shanghai dengan dalih gagal menemukan istri untuknya, setelah membayar 7 juta RMB ( Setara dengan 1 juta USD ) dan telah mencari segala cara namun istri idaman sang pengusaha tak juga kunjung datang. Dalam kasus lainnya, seorang programmer komputer dari kota Selatan Guangzhou telah menyiapkan 99 unit iPhone baru sebagai bagian dari lamaran pernikahan yang panjang dan alot kepada sang pacar. sayangnya dirinya ditolak dan rasa malunya semakin menjadi gegara foto-foto proses akad tunangan menjadi lelucon dan viral via medsos. Sebetulnya masih banyak sekali berbagai alasan terkait mengapa semakin banyak pria lajang di Tiongkok, salah satunya datang dari kebudayaan pengaruh sosial yang kian merajalela. tekanan kultur ini datang dari perspektif dan juga kacamata calon mertua yang terkadang membuat proses akad nikah semakin susah untuk dipenuhi.
Fakta bahwa jumlah pria yang semakin banyak, kompetisi pencarian istri yang juga semakin meningkat membuat para orang tua yang memiliki anak perempuan menjadikan momen ini sebagai sebuah kesempatan dalam kesempitan demi mendapatkan cuan lebih, momen cuan yang paling tepat. dalam budaya tiongkok keluarga mempelai wanita biasanya akan meminta mahar dalam berbagai bentuk, ada yang berupa uang, properti, mobil, ataupun berbagai macam permintaan yang harus dipenuhi dari pihak mempelai pria. namun prakteknya dalam mencari pasangan terkadang orang tua dari pihak perempuan akan memperhatikan dengan matang bibit, bebet, dan bobot dari calon mempelai pria. apakah dirinya seorang yang lahir dari keluarga mapan, rumah pribadi, mobil pribadi, investasi jangka panjang, jenjang edukasinya, kesehatan fisik dan spiritual pun menjadi item evaluasi yang sangat diperhatikan bagi calon mertua.
Hal-hal diatas yang membuat para pria lajang di Tiongkok yang menjadi semakin susah untuk mendapatkan pasangan seumur hidupnya, maka tidak heran apabila di daerah pedalaman tiongkok terdapat satu kampung yang dimana seluruh prianya sama sekali tidak menikah atau tidak memiliki kesempatan untuk merasakan kehidupan berkeluarga. jomblo satu kampung. kondisi ini pula yang lebih dikenal dengan 中國剩男 - Leftover men - cowo sisaan.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 