History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2024-04-17

  • 17 April, 2024

Siapakah Jacqueline Ades ? dimanakah dia sekarang ? ( part 1 ) 

 

Pada saat ini dirinya sedang dipenjara di lembaga pemasyarakatan Maricopa County - Amerika Serikat dan menunggu dipindahkan ke Pusat Kesehatan Perilaku Valleywise untuk perawatan lebih lanjut. 

 

Mungkin banyak yang tidak mengetahui terkait siapakah gerangan seorang wanita paruh baya yang sedang terkurung di Lapas yang berlokasi di AS, Jacqueline Ades adalah seorang wanita yang terkenal gegara perilakunya yang cukup ekstrim terhadap seorang pria yang pernah menjadi teman kencannya beberapa tahun yang lalu. Setelah bertemu pria pilihannya di sebuah aplikasi perjodohan kondang yang bernama Luxy, setelah pertemuan kencan pertama nampaknya berjalan sesuai dengan rencana, namun siapa sangka bahwa ada hasrat yang tidak tersampaikan oleh diri Jacqueline kepada sang pria tampan tersebut. 

 

Usut punya usut, nampaknya Jacqueline membombardir teman kencannya dengan ribuan pesan teks, bahkan beberapa diantaranya adalah sebuah pesan yang memuat sebuah ancaman atau unsur kekerasan. 

 

Tuduhan dari sang pria ini berdasarkan sebuah pesan teks yang berjumlah sebanyak 159.000 pesan teks kepada pria tersebut, dalam kurun waktu 10 bulan termasuk beberapa diantaranya ada pesan yang bertuliskan Jacqueline mengancam untuk memakan dagingnya serta melahap organ tubuh sang pria tersebut. Inilah salah satu barang bukti yang diserahkan kepada pihak yang berwajib. 

 

Situasi yang semakin memanas ini tak terbendung, setelah Jacqueline berkali-kali mencoba untuk masuk ke rumah pria tersebut, bahkan disaat teman kencannya sedang dalam kondisi mandi, ataupun saat pria tersebut sedang dinas ke luar negeri. Tindakan ini telah meresahkan sang pria termasuk juga warga sekitar, tanpa pikir panjang sang pria akhirnya melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib dengan pasal tuduhan penguntitan dan pelanggaran pidana yang mengakibatkan Jacqueline di tahan di Lapas Maricopa County semenjak bulan Mei tahun 2018. 

 

Kasus diri Jacqueline sontak mendapatkan sorotan dari publik dan tidak butuh waktu lama untuk menjadi viral, karena isi dari pesan yang cukup radikal serta jumlah pesan yang ia kirimkan via ponselnya. Meskipun dirinya harus disudutkan dengan konsekuensi hukum yang cukup serius, sembari berdalih dirinya mengklaim bahwa pesan-pesan yang ia kirimkan adalah sebuah guyonan atau candaan yang tidak memiliki inisiatif lainnya, ini adalah sebuah hasil dari “ bermain-main dengan imajinasinya “ begitu pengakuan dari diri Jacqueline. 

 

Pengacara Jacqueline yang ditunjuk adalah Matthew Leathers telah siap mengadvokasi dan mengevaluasi kasus ini, dengan perbekalan pengobatan dan kesehatan mental diri Jacqueline yang mengarah kepada keputusan yang siap di sampaikan di ruang sidang. Bahwa diri Jacqueline tidak kompeten secara mental dan tidak dapat dipulihkan, kini dirinya menunggu surat putusan perpindahan ke Kesehatan Perilaku demi pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. 

 

Dilansir dari Fresherslive.com yang mengabarkan bahwa saat ini Jacqueline Ades masih ditahan di Lapas Maricopa County, menyusul pencabutan tuduhan penguntitan dan pelanggaran pidana terhadap dirinya karena kondisi mentalnya. Pengacaranya hingga saat ini masih melakukan kontak rutin dengan kedua orang tua Jacqueline yang berencana untuk memindahkannya kembali ke kota Florida untuk mendapatkan perawatan tambahan setelah dirinya keluar dari Pusat Kesehatan Perilaku. 

 

Ades tetap dilarang untuk menghubungi pria yang menggugat dirinya, atau kembali ke rumah kediaman milik Ades di Paradise Valley hingga keputusan sidang yang lebih lanjut. 

 

Kasus yang cukup unik dalam proses persidangan ini turut menyita banyak sorotan publik terkait dirinya, sakit jiwa dalam proses hukum yang cukup kompleks antara penyakit mental dengan sistem hukum. Tingkah laku Ades yang bercirikan pesan teks obsesif serta ancaman yang tidak rasional menimbulkan sebuah pertanyaan tentang kapasitas mentalnya untuk diadili atas perilakunya. 

 

Keputusan untuk membatalkan tuntutan terhadap Ades menggarisbawahi pentingnya evaluasi kesehatan mental dalam memastikan proses hukum yang adil. Namun hal ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai sumber daya kesehatan mental dan dukungan bagi individu yang sedang terlibat dalam proses administrasi hukum. 

 

Diharapkan kedepannya, sistem hukum harus dapat memprioritaskan penilaian dan pengobatan kesehatan mental bagi individu seperti Ades yang telah menunjukkan tanda-tanda penyakit mental di atas rata-rata. Hal ini juga tidak hanya menjamin hak-hak mereka terlindungi, namun juga meningkatkan kesejahteraan dan rehabilitasi mereka. Selain itu, terdapat sebuah kebutuhan dan kesadaran akan pemahaman yang lebih besar mengenai masalah kesehatan mental di kalangan profesional hukum agar dapat secara efektif menangani kasus-kasus yang melibatkan penyakit mental. 

 

Pantau terus yows, bersambung di pekan depan. 

 

Penyiar

Komentar