History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2024-03-27

  • 27 March, 2024

Di Hongkong mulai ngga ada orang Hongkong ? pada kemana kah mereka ? ( Part 1 ) 

 

Terhitung semenjak tahun 2019, populasi Hongkong telah menyusut dengan jumlah yang cukup signifikan. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah warga Hongkong yang telah keluar dari hongkong telah berada di angka ratusan ribu warga. Tidak sedikit dari mereka yang telah mencoba berbagai cara agar dapat keluar dari tanah ini, termasuk juga menjual aset dan properti mereka agar dapat segera pindah ke tempat atau negara baru demi menyambung hidup. Sebetulnya ada apa sih di Hongkong ? dan pergi kemanakah mereka para migran baru ini ? mari kita simak dan ulas perpindahan warga Hongkong yang kerap disebut sebagai Gelombang migrasi warga Hongkong - Hongkong Immigration Wave. 

Bicara soal migrasi, sudah pasti tidak asing lagi, biasanya ketika kita mendengarkan kata ini pasti ada beberapa hubungannya dengan berbagai faktor. Antara lain : perang, bencana, kemiskinan, ataupun kelaparan yang melanda di suatu kawasan. Namun hingga saat ini apabila kita berpikir terkait image Hongkong bagi warga asing adalah Hongkong sebagai tempat yang sangat maju, kondisi kehidupan yang lebih baik, pusat ekonomi global di asia, DLL. akan sangat susah untuk dicerna apabila beberapa faktor alasan migrasi di atas dikaitkan dengan Hongkong. 

Namun sedikit kilas balik terkait apa yang terjadi di Hongkong pada tahun 2019, sebuah insiden anti-ekstradisi dan serangkaian demonstrasi warga yang terjadi di Hongkong. Dilansir dari Wiki aksi ini dilancarkan oleh warga terkait tuntutan pencabutan RUU Peraturan Pelanggaran Hukum Buronan dan Bantuan Hukum Bersama dalam Urusan Pidana 2019 yang diajukan oleh pemerintah Hongkong. Masyarakat khawatir apabila Hongkong akan masuk ke wilayah hukum daratan Tiongkok sehingga warga Hongkong dapat dijerat oleh pasal dan sistem hukum di luar dari Hongkong.

Masyarakat dan kalangan penggiat hukum melakukan serangkaian unjuk rasa di berbagai lokasi di Hongkong. Unjuk rasa 9 Juni 2019 menjadi sebuah ajang penyampaian aspirasi warga yang dihadiri lebih dari 1.3 juta orang dan diliput dari berbagai media dunia, dan aksi ini disusun dan di adakan oleh Civil Human Rights Front (CHRF) yang tersebar di seluruh Hongkong dan sejumlah negara lainnya. 

Kendati demikian, pemerintah setempat bersikukuh ingin mengesahkan RUU ini demi menutup celah hukum, sidang pembacaan RUU kedua awalnya dijadwalkan pada tanggal 12 Juni 2019, akan tetapi sidang tersebut terhambat akibat satu dan lain hal yang juga turut mewarnai berbagai aksi kekerasan dan bentrok antar pemerintah dan warga. 

Melansir data yang didapatkan oleh Biro Pendidikan Hongkong yang menyebutkan bahwa jumlah warga Hongkong yang telah keluar dari Hongkong terhitung dari tahun 2013 ~ 2019 dengan angka 11.000 orang, hasil ini apabila dibandingkan dengan data dari tahun 2019 ~ 2022 didapati bahwa 232.000 orang yang telah memilih untuk angkat kaki dari Hongkong. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja, perpindahan warga ini nampak besar dan masif. Selain itu juga periode ini menjadi periode yang cukup mengesankan, terlebih jumlah murid di berbagai jenjang akademis seperti murid SMP dan SMA yang memilih untuk tidak melanjutkan studinya dengan alasan pindah ke negara lain menyusut sebanyak 68.000 murid. Apabila data ini dibandingkan dengan data satu dekade yang lalu, angka ini 4 kali lipat lebih tinggi dari data sebelumnya. 

Chris Sun (孫玉菡) selaku Sekretaris umum Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Hong Kong menyampaikan bahwa terhitung dari tahun 2018 hingga ke tahun 2022, bahwa jumlah populasi usia produktif yang masih aktif telah berkurang sebanyak 220.000 orang. Dari beberapa data diatas telah dengan jelas menunjukkan bahwa betul ada perpindahan warga ke luar Hongkong dan data ini tidak dapat dipungkiri, bukan hanya dari satu sektor saja melainkan hampir dalam semua sektor industri termasuk dokter, suster, guru dan tenaga pengajar profesional, operator dan staf finansial, staff IT,  DLL. 

Apa alasannya mereka pindah ? lalu pindah kemana ? 

Seperti apa yang dijabarkan diatas, bahwa alasan perpindahan warga secara masif atau migrasi biasanya disebabkan oleh berbagai faktor termasuk juga perang ataupun kondisi ekonomi di suatu tempat.namun kondisi di Hongkong jauh lebih spesial, dimana warga yang memilih untuk keluar dari tempat ini mayoritas adalah orang-orang yang berpenghasilan tinggi ataupun orang yang memiliki profesi kerah putih. Secara gamblang orang-orang ini punya kekuatan finansial yang cukup dan tergolong sukses dalam menjalani kehidupan mereka dalam dunia profesional. Tidak butuh waktu lama untuk meninggalkan upah yang tinggi dan gaya hidup yang sudah mereka bangun sejak lama demi menggolkan niat migrasi untuk keluar dari tempat itu. 

 

Pantau terus, bersambung di pekan depan yows.. 

Penyiar

Komentar