History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2024-03-13

  • 13 March, 2024

Taiwan bukan negara besar, tapi mall menjamur? (part 2)

 

Dilansir dari Taiwan Business yang menjabarkan bahwa PChome sebagai platform belanja online terbesar dalam negeri sudah memulai portal penjualan yang berbasis web-portal pada tahun 1996 dan merubah model bisnis mereka menjadi e-commerce pada awal tahun 2000. Yang kemudian diikuti oleh berbagai merek lainnya termasuk Shopee yang merupakan sebuah perusahaan asing di Taiwan, perusahaan asal Singapura ini pun turut menjajaki dunia E-Commerce untuk bersaing dengan rivalnya antara lain Ruten, Momo, Taobao, DLL. .Semasa itu, dapat terlihat pasar sudah terbagi menjadi dua klaster yang berbeda. Tidak sedikit warga yang gemar untuk melakukan shopping online, namun disaat yang bersamaan mall tidak kunjung sepi gegara menjamurnya platform E-Commerce. 

Mari kita lihat Group Shinkong Mitsukoshi - 新光三越 yang dapat dikatakan sebagai sebuah grup bisnis tertua di Taiwan. Dibentuk dari tahun 1945 yang mengawali karir grup ini dengan menjual berbagai komoditas ekspor dan impor, termasuk salah satunya adalah daun teh, kain, gula, DLL yang menjadi komoditas paling kuat pada saat itu. Setelah pasar berhasil mereka kuasai dan dengan omset yang semakin besar, grup ini tidak berhenti sampai disitu saja. Investasi besar yang mereka lakukan adalah bisnis konveksi agar dapat memproduksi kain yang mereka butuhkan sendiri, bisnis ini berjalan dengan lancar hingga ke akhir tahun 1970-an. Dengan begitu banyak komoditas produk dengan kualitas yang tinggi maka Shinkong Mitsukoshi berniat untuk mengumpulkan dana agar dapat mengoperasikan pusat perbelanjaan mereka sendiri. Rencana ini disambut baik oleh berbagai kalangan termasuk warga yang begitu antusias dengan berita kerjasama antar Grup Shinkong 新光 dengan grup investor asal Jepang yang bernama Mitsukoshi - 三越 pada tahun 1989. Jalinan kerjasama perdana akhirnya terbentuk dan siap beroperasi sebagai pusat perbelanjaan terbesar di kota Taipei untuk pertama kalinya. Maka dari itu tidaklah heran apabila pusat perbelanjaan ini dikenal dengan nama Shinkong Mitsukoshi yang merupakan nama gabungan antara Grup Taiwan dan Jepang. 

Apabila ada orang yang berkata bahwa grup Shinkong adalah sebuah grup terbesar yang memegang erat nadi perputaran uang di Taiwan itu adalah benar, karena dari Grup Shinkong itu sendiri masih juga memiliki hubungan intim dengan sektor perbankan Taiwan, misal Shin Kong Financial Holdings - SKFH yang termasuk dalam 10 bank terbaik di Taiwan dan lima besar dalam perusahaan asuransi yang dikelola hingga hari ini. Selain itu grup Shinkong juga masih memiliki beberapa sektor industri lainnya yang turut bergerak seperti gas alam, perusahaan sekuritas, kontraktor, dan dunia medis. 

Selain itu masih ada grup terbesar kedua di Taiwan yaitu Far East Group - 遠東集團 yang memulai usaha mereka pada tahun 1940, grup yang berasal dari Shanghai - Tiongkok ini perlahan mulai merambah di sektor yang cukup berbeda seperti konstruksi, semen, konveksi, dan akhirnya pada tahun 1960-an mulai ikut berkontribusi pada usaha pusat perbelanjaan setelah pada tahun 2002 mulai mengakuisisi SOGO hingga hari ini. Dua grup besar ini di Taiwan tidak berdiri begitu saja, jadi tidaklah heran apabila dapat dengan cepat mencengkram bisnis di sektor jual beli dalam skala yang sangat besar. 

Mengapa dua grup ini begitu berambisi untuk dapat masuk ke dalam sektor usaha ini? Dilansir dari Wealth.com.tw, Data yang dibuat pada tahun 2022 terkait omset seluruh pusat perbelanjaan di Taiwan mencapai 390 juta NTD per tahun atau setara dengan 12 miliar USD. dari data ini, jelas dapat disimpulkan bahwa daya beli warga Taiwan sangat besar. 

Meskipun telah dilanda oleh berbagai badai ekonomi yang cukup besar, seperti trend persaingan E-Commerce, wabah COVID-19, inflasi dunia, DLL namun dua grup ini masih dengan giat bertahan hidup dengan pertumbuhan yang dirasa cukup sehat, pertumbuhan skala ekonomi 3% pertahun adalah suatu prestasi yang sangat luar biasa dan patut diacungi jempol. 

Lalu bagaimana dengan kondisi pusat perbelanjaan di beberapa negara dikawasan Asia ?

~ Tiongkok 

Terhitung dari tahun 2013 hingga ke pandemi Global yang mulai kondusif di tahun 2023, bisnis retail dan berbagai sektor industri lainnya mulai nampak lesu. Beberapa pertokoan dan kawasan perbelanjaan di berbagai kota nampak tidak dapat untuk beranjak naik lagi dengan omset yang sama di beberapa tahun lampau. Berbagai metode promosi demi menggairahkan kembali roda ekonomi dan daya beli warga lokal tampaknya cukup berhasil untuk menggaet para pelanggan agar dapat masuk ke dalam berbagai pertokoan. Seiring dengan kondisi menjelang wabah Covid-19 yang merubah bisnis di sektor ini dan berkurangnya SDM serta daya beli konsumen maka tidak heran apabila perputaran uang dalam sektor ini nampak jauh lebih lesu ketimbang tahun sebelum 2013. Tahun 2022, 50 merek dagang pusat perbelanjaan di Tiongkok terdapat 70% merek dagang yang memiliki omset dan hasil pendapatan net yang menurun drastis, maka tidak heran apabila sebuah mall yang sudah berusia 30 tahun yang dikenal warga sebagai The Pacific plaza - 太平洋百貨 harus menutup operasinya gegara omset yang semakin menurun tak terkendali. 

 

~ Jepang 

Semenjak tahun 1980-an, Jepang adalah sebuah negara dengan kondisi ekonomi yang jauh lebih bergairah di bilangan kawasan Asia. daya beli serta bombardir investasi di berbagai sektor usaha membuat hampir semua warganya memiliki tabungan serta ambisi untuk meningkatkan taraf hidupnya dengan cara membeli berbagai perangkat baru. Maka dari itu tidak heran apabila di zaman tersebut berbagai sektor usaha retail mulai berpikir keras untuk menggaet para pelanggan dalam mencukupi kebutuhan mereka. 

Terdapat dua nama besar di bidang ini antara lain, Seibu Department Stores - 西武百貨 dan SOGO - 崇光百貨 yang memiliki omset penjualan yang luar biasa. Namun kabar baik ini tidak dapat bertahan begitu lama, menjelang memasuki tahun 90-an dimana ekonomi Jepang yang sedang dilanda gelembung ekonomi yang cukup parah membuat banyak pendapatan perkapita kesusahan dalam menyambung hidup. Arti kata lain, dalam mencukupi kebutuhan primer sehari-hari saja sudah sudah, apalagi harus belanja kosmetik. Maka tidak heran awal tahun 90-an di Jepang berbagai pusat perbelanjaan besar dalam negeri yang terpaksa gulung tikar akibat kerasnya terjangan ekonomi. 

 

~ Korea 

Tidak ada pertumbuhan ataupun investasi yang cukup signifikan dari menjamurnya pusat perbelanjaan di negara Korea, namun penjualan di berbagai pusat perbelanjaan/mall yang sudah ada di Korea semakin meningkat. Alasannya adalah fokus publik dan konsumen terhadap barang mewah semakin meningkat, misal tas mewah, sepatu merek Eropa, mobil dan kendaraan mewah yang sudah menjadi bagian hidup dari keseharian warga Korea menjadikan omset pusat perbelanjaan melambung tinggi. 

Pantau terus yows, bersambung di pekan depan. 

Penyiar

Komentar