(Taiwan, ROC) --- Menjelang satu tahun masa jabatannya, Presiden Lai Ching-te (賴清德) untuk pertama kalinya memberikan wawancara eksklusif kepada media Jepang, Nikkei. Beliau menyatakan bahwa dirinya dapat memahami bahwa Presiden Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) tidak akan bertemu dengannya, tetapi ia menekankan bahwa Taiwan selalu menjaga itikad baik. Jika terjadi perang antara Tiongkok dan Taiwan, itu pasti dipicu oleh Tiongkok.
Presiden Lai juga menyampaikan sinyal yang jelas kepada masyarakat Jepang tentang pendalaman hubungan dan penguatan kerja sama Taiwan-Jepang. Para akademisi menganalisis bahwa Lai Ching-te telah mengangkat batas atas interaksi Taiwan-Jepang, dan ruang interaksi kedua negara akan semakin besar di masa depan.
Sambil berjabat tangan dan berbasa-basi, menjelang satu tahun masa jabatannya, Presiden Lai Ching-te memberikan wawancara pertamanya kepada media Jepang.
Nikkei memuat artikel besar di halaman depan, menyebar ke dua halaman penuh di bagian dalam, total 11 artikel. Saat kampanye presiden 2023, Lai Ching-te pernah mengatakan ingin makan malam bersama Presiden Tiongkok Xi Jin-ping, mengajaknya mencicipi nasi udang khas dan bubble tea full sugar.
Dalam wawancara kali ini, Beliau kembali menyebutkan bahwa dia memahami Xi Jin-ping mungkin tidak akan menerima undangan pertemuan, tetapi menekankan bahwa masyarakat Taiwan selalu menjaga itikad baik. Investasi Taiwan di Tiongkok telah menciptakan banyak lapangan kerja dan membawa stabilitas bagi masyarakat Tiongkok.
Ia sangat berharap dapat hidup berdampingan secara damai dan makmur dengan Tiongkok, dan jika terjadi perang antara kedua pihak, itu pasti dipicu oleh Tiongkok.
Ketua Dewan Institut Penelitian Taiwan-Jepang Li Shih-hui (李世暉) mengatakan, "Taiwan dan Jepang bersama-sama dapat membangun sistem demokrasi yang kokoh, dan kemudian mendorong pengembangan ekonomi regional."
Terkait hubungan lintas selat, Presiden Lai juga berharap dapat memperdalam hubungan bilateral Taiwan-Jepang. Beliau berkali-kali menyatakan harapannya agar Jepang mendukung Taiwan bergabung dengan CPTPP dan menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA) dengan Jepang.
Dia juga menyebutkan bahwa Taiwan berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra global seperti Jepang, AS, dan Belanda untuk menerapkan inisiatif kemitraan rantai pasokan demokratis semikonduktor global.
Ini merespons pernyataan sebelumnya tentang meninggalkan Tiongkok dan bergabung dengan utara, serta mengharapkan Jepang memainkan peran kepemimpinan di Indo-Pasifik atau masyarakat internasional.
"Presiden Lai sebenarnya telah meningkatkan batas bawah interaksi Taiwan-Jepang dan sedikit mengangkat batas atasnya, sehingga ruang untuk interaksi Taiwan-Jepang di masa depan akan semakin besar," lanjut Li Shih-hui.
Berbagai media arus utama Jepang memosisikan Lai Ching-te sebagai tokoh pro-Jepang dalam politik Taiwan. Wawancara kali ini semakin menegaskan hubungan baik Taiwan-Jepang, sekaligus menjadi seruan kepada sekutu demokratis bahwa melawan otoritarianisme membutuhkan persatuan.






