(Taiwan, ROC) --- Upacara penganugerahan "Penghargaan Sastra Pekerja Imigran ke-9" diadakan Minggu kemarin (13/10), di Stasiun Kereta Api Shanjia, Kota New Taipei.
Chin Nyap Fong(陳業芳) dari Indonesia memenangkan hadiah pertama dengan karyanya "Titik Hitam Seorang Rika". Ini adalah kedua kalinya ia mendapatkan Penghargaan Sastra Pekerja Imigran.
Upacara penganugerahan Penghargaan Sastra Pekerja Imigran ke-9 diadakan pada tanggal 13 Oktober 2024, di Stasiun Kereta Api Shanjia, Kota New Taipei. Karya-karya pemenang tahun ini menampilkan berbagai tema, termasuk imigran baru di Taiwan, kisah para lansia dengan demensia, keadaan hati yang tertekab dan depresi, serta kehidupan pekerja ilegal di Taiwan.
Chin Nyap Fong dari Indonesia yang memenangkan kategori First Prize, menyampaikan bahwa dia sangat berterima kasih kepada Penghargaan Sastra Pekerja Imigran karena telah memungkinkan lebih banyak orang untuk melihat pekerja imigran.
Secara khusus, ia juga menyemangati mereka yang belum memenangkan penghargaan, dengan menyampaikan bahwa setiap kata dalam sebuah tulisan memiliki potensi kekuatan yang bias menginspirasi banyak orang.
Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa karya-karya pemenang akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan beberapa karya terbaik juga akan diadaptasi menjadi film pendek.
Salah satu pendiri Penghargaan Sastra Pekerja Imigran, yang juga adalah Ketua Asosiasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan Asia Tenggara, Chang Cheng (張正), dan beberapa tamu terhormat lainnya yang hadir dalam upacara penghargaan hari ini berulang kali menyebutkan bahwa "Penghargaan Sastra Pekerja Imigran" memiliki mekanisme yang sama dengan "Penghargaan Nobel Sastra", karena melibatkan terjemahan karya dalam berbagai bahasa.
Chairwoman Radio Taiwan Internasional (Rti), Cheryl Lai (賴秀如), menunjukkan bahwa keterampilan penerjemahan sering kali menentukan popularitas sebuah karya dalam Penghargaan Sastra Pekerja Imigran dan Penghargaan Nobel Sastra. Oleh karena itu, dia berharap bahwa pemerintah dan industri di masa depan akan lebih mementingkan bakat multibahasa dan terjemahan sastra.
Penghargaan Sastra Migran tahun ini juga diramaikan dengan sosok yang menarik perhatian, yakni seorang warga Taiwan yang mahir berbahasa Indonesia, Lin Qun (林群).
Pada tahun 2018, terinspirasi oleh Toko Buku Brilliant Time, Lin Qun memodifikasi sebuah van menjadi perpustakaan keliling. Van itu penuh dengan buku-buku yang ia beli sendiri dari negara-negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Kamboja. Di akhir pekan, ia akan pergi ke daerah terpencil untuk menyediakan layanan peminjaman buku bagi penduduk baru dan pekerja migran asing.
Pada tahun 2019, mengemudikan van perpustakaannya menuju Aodi, Gongliao, memulai kehidupan baru di tepi laut, dengan melayani para abk asing, termasuk salah satunya berasal dari Indonesia.






