History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

100 Hari Genap Menjabat, Presiden Lai Ching-te: Memperkuat Taiwan dari Dalam

  • 06 September, 2024
Kedai RTISI
100 Hari Genap Menjabat, Presiden Lai Ching-te: Memperkuat Taiwan dari Dalam

(Taiwan, ROC) --- Dalam sebuah wawancara eksklusif memperingati 100 hari masa jabatannya, Presiden Lai Ching-te (賴清德), menyampaikan bahwa dirinya menantang klaim kedaulatan Beijing atas Taiwan. Beliau mempertanyakan sikap Tiongkok tentang "menjaga integritas teritorial" dengan menekankan bahwa jika Tiongkok benar-benar peduli dengan hal itu, bukankah mereka juga harus berusaha untuk merebut kembali tanah yang diserahkan kepada Rusia pada abad ke-19.

Presiden Lai menegaskan bahwa fokus Taiwan saat ini adalah memperkuat dirinya sendiri, karena kedaulatan adalah kunci keberadaan suatu negara. Ia dengan tegas menolak gagasan Konsensus 1992 yang didasarkan pada "Satu Tiongkok".

Dalam wawancara tersebut, Presiden Lai mengungkapkan bahwa pekerjaannya saat ini jauh lebih berat dibandingkan saat menjabat sebagai Wakil Presiden. Selain menanggung tekanan yang besar, ia juga merasakan adanya rasa tanggung jawab yang besar.

Berbicara tentang sikap Tiongkok yang selalu berbicara perihal "menjaga integritas teritorial", Kepala Negara mempertanyakan logika di baliknya. Ia berpendapat bahwa jika Tiongkok benar-benar konsisten dengan prinsip tersebut, maka mereka seharusnya berusaha untuk merebut kembali wilayah yang diserahkan kepada Rusia.

"Tiongkok ingin menyerang dan mencaplok Taiwan bukan karena perkataan atau perbuatan individu atau partai politik tertentu di Taiwan. Alasan sebenarnya di balik ambisi Tiongkok untuk mencaplok Taiwan juga bukan untuk menjaga integritas teritorial. Jika memang demikian, mengapa mereka tidak berusaha merebut kembali wilayah yang direbut oleh Rusia," ujar Presiden Lai.

Presiden mencatat bahwa gaya hidup demokrasi dan bebas yang dianut oleh rakyat Taiwan tidak boleh dilihat sebagai ancaman oleh Tiongkok. Terlebih lagi, posisi strategis Taiwan di jantung rantai pulau pertama Pasifik semakin memperkuat argumen ini.

Klaim Tiongkok atas Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan latihan militer yang sering dilakukan di sekitar Taiwan, meskipun secara resmi diklaim sebagai penegasan kedaulatan, sebenarnya merupakan upaya untuk membangun hegemoni.

"Tujuan sebenarnya di balik agresi Tiongkok terhadap Taiwan adalah untuk mengubah tatanan dunia yang berdasarkan aturan. Mereka ingin mencapai hegemoni di kawasan Indo-Pasifik dan di panggung global," lanjut Kepala Negara.

Media asing, mengutip pernyataan Presiden Lai, memuat berita utama dengan tajuk "Presiden Taiwan Menolak Klaim Teritorial Tiongkok" dan "Taiwan Menyindir Tiongkok dengan Isu Wilayah Rusia".

Presiden Lai menegaskan kembali komitmen Taiwan untuk menjaga perdamaian di Selat Taiwan, tetapi menekankan bahwa hal itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan bermartabat. Ia dengan tegas menolak gagasan Konsensus 1992 yang didasarkan pada prinsip "Satu Tiongkok".

Presiden Lai juga menyatakan bahwa saat ini ia tidak memiliki rencana untuk mengunjungi Tiongkok. Fokus utamanya adalah memperkuat Taiwan dari dalam, termasuk memperkuat pertahanan nasional, meningkatkan perekonomian, dan membawa Taiwan menuju kemakmuran.

Penyiar

Komentar