(Taiwan, ROC) --- Bank Sentral Taiwan akan menggelar rapat dewan gubernur pada hari Kamis ini (13/6). Perhatian publik tertuju pada apakah Gubernur Bank Sentral, Yang Chin-long (楊金龍), akan meluncurkan paket kebijakan keenam untuk mengendalikan pasar properti.
Sejumlah pihak memperkirakan Bank Sentral akan merespons tingginya harga properti dengan empat skenario. Pertama, menurunkan rasio pinjaman terhadap nilai (loan-to-value ratio/LTV) untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) kedua di Taipei, New Taipei, Taoyuan, Taichung, Tainan, dan Kaohsiung dari 70% menjadi 60%. Tidak menutup kemungkinan aturan ini akan diperluas ke seluruh wilayah Taiwan.
Kedua, Bank Sentral juga dapat mengambil langkah untuk mencegah munculnya "tuan tanah abal-abal" dan masalah kepemilikan rumah atas nama orang lain yang dipicu oleh kebijakan subsidi sewa baru. Ketiga, Bank Sentral dapat menurunkan ambang batas definisi properti mewah.
Memiliki rumah sendiri merupakan impian banyak orang agar terbebas dari jeratan "generasi tanpa rumah". Namun, para ahli menilai bahwa sentimen positif di pasar saham yang didorong oleh isu kecerdasan buatan (AI) telah mendorong rekor baru, mengakibatkan kelebihan likuiditas yang kemudian mengalir ke pasar properti. Hal ini menyebabkan harga properti terus meroket.
Direktur Database Ekonomi Industri Taiwan Institute of Economic Research (TIER), Liu Pei-chen (劉佩真) mengatakan, “Industri semikonduktor, tercermin dari kontribusinya terhadap PDB yang terus meningkat, juga berdampak pada pasar properti melalui investasinya di perusahaan-perusahaan seperti TSMC dan berbagai kawasan industri sains ... yang pada akhirnya akan berdampak pada pasar properti.”
Apakah Bank Sentral Taiwan akan kembali turun tangan untuk mengendalikan pasar property, menjadi fokus utama dalam rapat dewan gubernur pada hari Kamis ini.
Spekulasi pasar menunjukkan bahwa rasio pinjaman terhadap nilai (LTV) untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) kedua di enam kota metropolitan (Taipei, New Taipei, Taoyuan, Taichung, Tainan, dan Kaohsiung) kemungkinan akan diturunkan dari 70% menjadi 60%.
Sebagai contoh, untuk properti dengan harga NT$10 juta, jumlah maksimum pinjaman yang dapat diperoleh akan berkurang dari NT$7 juta menjadi NT$6 juta, sehingga uang muka yang harus dibayar naik dari NT$3 juta menjadi NT$4 juta, atau bertambah sebesar NT$1 juta.
Direktur Eksekutif Riset dan Perencanaan Real Estat, Jessica Hsu (徐佳馨) mengatakan, “Bagi masyarakat yang ingin pindah rumah dan masih memiliki pinjaman, mereka mungkin akan menghadapi batasan dalam pinjaman karena pembelian rumah kedua. Bagian kedua ditujukan untuk beberapa kelompok pembeli rumah beberapa tahun yang lalu. Bagi beberapa kelompok masyarakat yang disebut sebagai 'pembeli rumah'."
Bank sentral juga dapat memperluas kontrol dengan menerapkan langkah-langkah pembatasan hipotek rumah kedua di seluruh negeri tanpa memandang wilayah, atau dengan menurunkan ambang batas "rumah mewah" untuk lebih memperketat hipotek perumahan kelas atas.
Pada saat yang sama, mereka juga dapat menetapkan batasan pada kebijakan baru untuk mengontrol hipotek kaum muda-mudi dan mencegah spekulasi properti melalui penggunaan nama orang lain.
“Hal ini menyoroti banyak orang yang memanfaatkan celah dalam program perumahan baru untuk pemuda. Terutama mereka yang menyewakan rumah mereka atau berencana untuk menjual kembali rumah tersebut di masa depan. Kementerian Keuangan (MOF) sebenarnya dapat melakukan pemeriksaan dengan membandingkan alamat tempat tinggal terdaftar dengan alamat rumah yang dibeli untuk melihat apakah keduanya sesuai. Namun, proses pemeriksaan ini memang membutuhkan usaha yang cukup besar,” lanjut Jessica Hsu
Gelombang keenam dari serangkaian tindakan pengendalian pasar properti sudah di depan mata. Keefektifan tindakan ini dalam mengekang spekulasi properti, atau bahkan mengatasi harga rumah yang terus melonjak, akan bergantung pada apakah instrumen kebijakan bank sentral dapat mencapai hasil yang diinginkan.






