(Taiwan, ROC) --- Di era modern seperti saat ini, banyak orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka, dan penggunaan terapi hutan sebagai cara untuk bersantai serta menenangkan pikiran dan jiwa semakin dipromosikan di banyak negara di seluruh dunia, tidak terkecuali oleh organisasi non-pemerintah.
Ditjen Kehutanan dan Konservasi Alam, yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian (MOA), telah menugaskan "Asosiasi Kesehatan Hutan Taiwan" untuk meluncurkan "Platform Pelatihan dan Sertifikasi Terapis Hutan" pada tahun 2021.
Sampai sekarang, sudah ada 34 peserta yang telah menyelesaikan kursus dan praktek lapangan. Upacara penyerahan sertifikat tersebut sendiri diadakan pada Selasa pekan ini (24/10). Ditjen Kehutanan juga menyatakan bahwa terapis hutan yang bersertifikat akan membimbing lebih banyak orang untuk merasakan alam melalui lima indra mereka. Melalui bimbingan para pakar, orang-orang yang ingin mengalami terapi hutan juga akan lebih terlindungi.
Faktor-faktor lingkungan di dalam hutan, seperti phytoncides dan ion negatif, telah diketahui dapat meredakan stres, meningkatkan kualitas tidur, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pemerintah dan organisasi NGO di berbagai negara di seluruh dunia sedang aktif mempromosikan aksi terapi hutan, dengan harapan dapat melayani sebagai salah satu cara untuk mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit, atau sebagai metode pengobatan tambahan.
Ditjen Kehutanan di bawah Kementerian Pertanian telah menugaskan "Asosiasi Kesehatan Hutan Taiwan" untuk mengumpulkan program pelatihan terapi hutan dari dalam dan luar negeri. Mereka juga merujuk pada sistem sertifikasi terapis hortikultura untuk mengembangkan kursus terapi hutan khusus Taiwan. Setelah diluncurkan pada tahun 2021, program ini menyediakan kursus online, kegiatan langsung, serta magang untuk mengikuti dan memimpin kelompok. Lebih dari 3.000 orang telah mendaftar di platform ini, dan akhirnya 34 peserta berhasil mendapatkan sertifikasi.
Lin Ching-hwa (林華慶), kepala Ditjen Kehutanan, mengatakan, “Kelahiran para terapis hutan hari ini merupakan titik balik dalam industri terapi hutan di Taiwan. Artinya, di masa mendatang, masyarakat atau berbagai kelompok, termasuk departemen perusahaan, yang membutuhkan terapi hutan, sekarang bisa dipandu oleh terapis hutan yang telah disertifikasi oleh pemerintah kita. Ini akan membuat kegiatan kita lebih efektif dan lebih aman. Para terapis hutan ini memiliki berbagai keahlian. Selain kompetensi profesional dalam terapi hutan, mereka juga harus memahami budaya ekologi hutan, serta memiliki keterampilan dalam pertolongan pertama dan penanganan krisis."
"Asosiasi Kesehatan Hutan Taiwan" menyatakan bahwa 34 terapis hutan gelombang pertama ini berasal dari empat kelompok utama, termasuk konselor psikologi, aromaterapis, relawan hutan nasional, dan anggota Suku Penduduk Asli.
Salah seorang warga berusia 35 tahun yang juga adalah bagian dari Suku Saisiyat, Gen Wei-chen (根瑋晨) memutuskan untuk mengikuti pelatihan terapis hutan dan berhasil mendapatkan sertifikasi. Di masa mendatang, ia juga akan membimbing masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya untuk berjalan-jalan santai di hutan, tetapi juga untuk merasakan budaya tradisional suku Saisiyat.
Gen Wei-chen mengatakan, "Dengan menyentuh tanah atau pohon kita, berhubungan secara tidak langsung dengan batu dan lumut, kita dapat membuat kontak yang lebih dalam, dan secara perlahan mendengarkan cerita suku Saisiyat, mencapai relaksasi. Karena terapi hutan yang paling sederhana adalah tentang relaksasi. Dengan bersantai dan merasakan alam, Anda dapat mencapai penyembuhan."
Mengingat terapi hutan telah menjadi tren global, 34 terapis hutan baru dari Taiwan ini juga akan berangkat ke Korea Selatan pada tanggal 26 untuk berpartisipasi dalam "Konferensi Internasional Terapi Hutan" dan berbagi pandangan dengan para profesional dari berbagai negara.







