History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Krisis Air di Gunung Yangming, Dampak Langsung dari Perubahan Iklim

  • 17 October, 2023

(Taiwan, ROC) --- Dengan meningkatnya dampak perubahan iklim, musim dingin kali ini hadir dengan curah hujan yang lebih sedikit, yang mana mengakibatkan krisis kekurangan air. Situasi ini pun mempengaruhi suplai air panas di Gunung Yangming.

Ketua Asosiasi Pemandian Air Panas di Samaoshan, Taipei, menyatakan bahwa kekurangan air di Gunung Yangming adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selama tahun-tahun sebelumnya, belum pernah ada laporan tentang kekurangan air. Namun, tahun ini, daerah tersebut mengalami kekurangan air, yang mungkin merupakan yang pertama dalam satu dekade terakhir.

Mantan Ketua Ditjen Klimatologi Sentral (CWA), Cheng Ming-dean (鄭明典), juga menyoroti perubahan cuaca ekstrem melalui akun pribadinya di media sosial Facebook, dengan menyatakan bahwa rata-rata suhu global pada bulan September terus memecahkan rekor. Menurutnya, peningkatan suhu ini adalah fenomena yang tidak biasa.

Ketika cuaca mulai berubah menjadi lebih dingin, banyak warga yang ingin berendam air panas untuk menghangatkan tubuh. Namun, dengan kondisi yang ada saat ini, mereka mungkin harus bergantung pada kemurahan hati alam semesta.

Ketua Asosiasi Pemandian Air Panas di Samaoshan, You Teng-zai (游騰在), “Ketika memasuki bulan September dan Oktober, hujan tampaknya jarang turun. Kejadian seperti ini cukup jarang dan tidak sering terjadi. Khususnya di kawasan Yangmingshan, ini tampaknya merupakan kali pertama menghadapi fenomena kekurangan air seperti ini.”

Ruang pemandian umum di kawasan Qianshan Gunung Yangming sempat ditutup pada bulan September karena sumber mata air panas mengalami kekurangan air. Perubahan iklim telah menjadi isu global yang sulit diatasi. Data suhu untuk tahun 2023 menunjukkan bahwa rekor suhu tinggi (panas) terus terpecahkan.

Pakar Cuaca, Peng Chi-ming (彭啟明) mengatakan, “Lihat skala ini, ini semua adalah rekor suhu tertinggi (panas) mencapai sepertiga.”

Garis hitam yang mewakili rekor suhu untuk tahun 2023 sangat mencolok terpampang grafik. Menurut analisis dari Administrasi Oseanografi dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat, suhu rata-rata global pada bulan September meningkat 1,44C, jauh melampaui rekor tahun-tahun sebelumnya.

Data tersebut membuat para ahli terkejut dan menyatakan bahwa fenomena ini benar-benar luar biasa.

Mantan Ketua CWA, Cheng Ming-dean mengatakan, “Di Samudra Pasifik, fenomena El Niño sedang berkembang. Perkembangan El Niño ini akan meningkatkan suhu permukaan laut. Tidak hanya itu, di Samudra Atlantik, dan banyak tempat lainnya, suhu laut telah mencapai rekor tertinggi.”

Peng Chi-ming mengatakan, “Biasanya, setahun setelah munculnya fenomena El Niño, suhu baru akan mencapai puncak tertinggi pada tahun berikutnya. Namun, tahun ini adalah pengecualian yang belum pernah ada sebelumnya. Meski El Niño masih dalam tahap perkembangan, tetapi suhu sudah mencapai rekor baru. Harga pangan di dunia akan terpengaruh oleh fenomena El Niño ini. Karena kecepatan pemanasan yang luar biasa ini, diperkirakan produksi pangan akan mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini akan memicu gelombang kenaikan harga barang di seluruh dunia.”

Perubahan iklim global memiliki dampak yang saling berkaitan. Amerika Serikat contohnya, jumlah bencana tahun ini diberitakan telah mencapai rekor tertinggi, yakni 24 kejadian hanya di bulan September.

Fenomena El Niño masih berlanjut dan menurut analisa para ahli, suhu akan terus meningkat. Manusia penghuni bumi harus waspada terhadap tantangan iklim yang semakin ekstrem di masa mendatang.

 

 

Penyiar

Komentar