(Taiwan, ROC) --- Yayasan Perlindungan Anak-Anak dan Keluarga Taiwan (TFCF) merilis hasil survei terkait “Perlindungan Diri Anak-Anak Tahun 2020”. Dalam jajak pendapat tersebut, 30% orang dewasa tidak menganggap bahwa hukuman fisik yang diterapkan orang tua kepada anak mereka merupakan tindakan penyiksaan. Dalam hasil survei tersebut, jumlah anak yang mendapat perlakuan keras pada tahun 2019 mencapai rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir. TFCF meminta kepada khalayak luas untuk lebih memperhatikan masalah kekerasan dalam rumah tangga, terutama bagi kaum anak-anak.
TFCF merilis data terbarunya perihal perlindungan kaum anak-anak tahun 2020, yang menyertakan sampel warga dengan minimal usia 19 tahun. Dalam hasil survei yang dirilis pada tanggal 26 Mei 2020 kemarin tersebut, terdapat sekitar 10% warga yang tidak setuju jika “memarahi anak kecil” diartikan setara dengan “melancarkan kekerasan terhadap anak kecil”. Di samping itu, lebih dari 34% warga tidak setuju jika hukuman fisik yang diterapkan oleh orang tua kepada anak mereka adalah tindakan kekerasan.
Pakar perkembangan anak-anak, Wang Hong-zhe (王宏哲) menyampaikan, di tengah ritme dan tekanan sosial yang padat, membuat tekanan para orang tua kian bertambah. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi emosi orang tua dalam menghadapi anak-anak mereka.
Wang Hong-zhe menekankan, psikologis anak kecil akan sangat terganggu jika harus menghadapi emosi orang tua mereka. Ia juga menambahkan, sikap keras orang tua dinilai tidak akan jauh lebih efektif untuk membuat sang anak jera atau setidaknya mengetahui duduk permasalahannya. Ia menyarankan kepada seluruh orang tua, untuk tidak langsung berhadapan dengan anak mereka ketika emosi tengah tidak terkontrol.
Wang Hong-zhe mengingatkan kepada seluruh orang tua untuk tidak terbawa emosi saat memberitahukan anak-anak mereka.
Wang Hong-che mengatakan, “Di saat emosi orang tua tengah memuncak dan harus mengajari anak mereka. Saya meminta kamu untuk duduk dengan baik dan makan, mengapa kamu tidak dapat menurutinya? Mungkin Anda kira, duduk permasalahannya terletak pada “duduk di kursi”. Namun, kini persoalannya adalah dia (anak) tidak menangkap maksud Anda. Yang ditangkapnya terlebih dahulu adala emosi Anda. Karena struktur otak besar manusia, pada umumnya akan terlebih dahulu menyerap emosi, kemudian baru menerima logika. Apalagi ketika anak-anak belum mencapai tahap dewasa, ia terlebih dahulu akan menerima emosi baru kemudian logika. Dan ketika ia menerima (penyampaian) emosi yang terlampau kuat, dan saat pesan yang tersampaikan dengan emosi melewati otak besar akan terputus, ia tidak akan mengingatnya.”
TFCF menyampaikan, jumlah anak di Taiwan yang memperoleh kekerasan pada tahun lalu mencapai rekor tertinggi dalam kurun 5 tahun belakangan. TFCF melanjutkan, Taiwan masih memiliki harapan yang besar untuk dapat menciptakan lingkungan kekeluargaan yang bebas dari kekerasan. Baru-baru ini, TFCF juga tengah mencanangkan draf pembentukan “Hari Perlindungan Anak” pada tanggal 28 April.







