History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Sanksi Amerika Serikat Membuat Perekonomian Iran Bergejolak

  • 01 May, 2019
Kedai RTISI
Sanksi Amerika Serikat Membuat Perekonomian Iran Bergejolak

(Taiwan, ROC) --- Sikap keras yang diambil Presiden Amerika Serikat, Donad Trump, semakin membuat posisi Iran terjepit. Ia kembali memperkuat sanksi internasional, yakni dengan mencabut hak imunitas dari delapan negara untuk mengimpor minyak dari Iran. Donald Trump terus mengupayakan agar Iran tidak dapat mengekspor minyak mereka hingga ke titik terendah. Perekonomian Iran yang sudah terpuruk, kini diperparah dengan keputusan penguasa Negeri Paman Sam tersebut.

Pemerintah Donald Trump diketahui telah menarik diri dari atas konferensi internasional untuk untuk melonggarkan sanksi Iran dengan meminta Iran untuk membatasi kegiatan nuklirnya. Tetapi, guna untuk mencegah terjadinya fluktuasi berlebihan di pasar minyak dunia, Negeri Paman Sam pada bulan November tahun lalu, untuk sementara mengizinkan 8 negara di dunia mengimpor minyak dari Iran. Negara-negara tersebut antara lain; Taiwan, Daratan Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Turki, Italia dan Yunani. Mereka diizinkan mengimpor minyak dari Iran dengan batasan tertentu. Namun demikian, otoritas Washington pada Senin (22/4) mengumumkan, mencabut ketentuan ini dan terhitung tanggal 2 Mei 2019, seluruh negara dilarang mengimpor minyak Iran.

Secara internal, pertumbuhan ekonomi Iran diketahui memang terkendala, dimulai dari masalah perbankan hingga pembatasan pada sektor swasta dan kurangnya investasi dari perusahaan asing. Sanksi dari Donald Trump semakin membuat perekonomian Iran terpuruk, harga barang melonjak drastis dan nilai mata uang yang semakin merosot.

Salah satu warga Iran mengatakan, “Kondisi beberapa warga sama seperti kita, gaji sudah tetap dan terbatas. Ketika harga-harga barang meningkat, banyak hal yang harus kami ubah. Harga sewa kami telah meningkat dan kami terpaksa menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan sewa, ketimbang makanan.”

Dalam menghadapi kebijakan Trump yang kian keras, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengkritik tindakan Donald Trump bagai ‘teroris ekonomi’. Pemerintahan Donald Trump berpendapat bahwa perjanjian nuklir yang dicapai pada masa pemerintahan Barack Obama terlalu buruk. Penguasa Amerika Serikat itu juga menyebutkan agar Iran segera menghentikan seluruh aktivitas nuklirnya dan tidak lagi mengintervensi politik negara-negara Timur Tengah.

Saat ini, Amerika Serikat tengah mengupayakan untuk memblokir akses Iran dalam memperoleh minyak mentah. Iran diketahui masih memiliki sumber daya di bidang ekspor mineral dan pertanian, dengan nilai sekitar US$ 8 miliar dan US$ 5 miliar. Pada awalnya, Iran berencana untuk memberikan subsidi bagi warga berpenghasilan rendah, untuk mengimbangi sanksi internasional Donald Trump. Namun sumber daya keuangan negara tersebut, diketahui juga semakin menyusut. Hingga saat ini, seluruh mata dunia tengah tertuju pada Iran. Mereka berharap akan ada negosisasi di masa depan, yang dapat saling menguntungkan dan menekan kemungkinan harga minyak dunia melonjak.

Penyiar

Komentar