History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Seruan Uni Eropa untuk Semakin Bersatu di Tengah Pelaksanaan APE

  • 22 November, 2018
Kedai RTISI
Presiden Prancis Emmanuel Macron (Sumber Foto: BBC)
Kedai RTISI
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Sumber Foto: BBC)

(Taiwan/ROC) --- Pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) diselenggarakan di Papua Nugini pada Minggu (18/11) telah berakhir. Perseturuan dagang antar 2 negara adidaya Amerika Serikat dengan Daratan Tiongkok, diakui pemimpin dunia sebagai masa-masa yang sulit. Tidak sedikit negara-negara di Benua Asia harus terkena imbas dari peliknya perang perdagangan. Di tengah masa sulit ini, Presiden Perancis Emmanuel Marcon bersama dengan Perdana Menteri Jerman Angela Merkel menyerukan persatuan yang lebih erat, guna menghadapi APEC yang dirasa mulai terpecah.

Dalam pertemuan APEC, kehadiran 2 pemimpin dunia Amerika Serikat dan Rusia tidak terlihat. Amerika Serikat diwakilkan oleh Wakil Presiden Mike Pence, ia mengkritisi kebijakan perekonomian “One Belt One Road” Daratan Tiongkok. Ia menyerukan agar Pemerintah Beijing mengubah kebijakan tersebut. Dan jika tidak, maka penetapan tarif pajak impor atas produk Daratan Tiongkok tidak akan dicabut. Konfrontasi antar kedua negara adidaya tersebut, seakan-akan juga mempengaruhi kelangsungan berjalannya Konferensi APEC. Hal ini juga dapat terlihat dari reformasi kebijakan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang harus terpecah.

Namun demikian, di belahan dunia lain, Presiden Prancis Emmanuel Marcon pada Minggu (18/11) berangkat menuju ke Jerman dan menyampaikan pidato singkatnya di Parlemen Jerman (Bundestag). Melalui pidatonya, ia menyerukan agar jalinan persahabatan antar negara-negara Uni Eropa dapat semakin kuat. Dengan demikian, tidak mudah disusupi oleh isu-isu global yang merugikan.

Emmanuel Marcon mengatakan, “Ini semua adalah demi Eropa yang semakin besar dan berdaulat. Jika Eropa tidak dapat berperan sebagai perlindungan terhadap sesama, dan hanya berperan sebagai pemeran pendukung. Maka ditakutkan akan kehilangan peranan penting di panggung internasional. Saat ini, banyak negara yang ingin mengeluarkan kita dari arena-arena global”.

Menghadapi ekstremitas dari sayap kanan yang diperkirakan akan memetik beberapa manfaat dalam pemilihan kembali Parlemen Eropa, ditambah dengan sikap proteksionisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Presiden Prancis dan PM Jerman diketahui beberapa kali bertemu dalam 1 kegiatan. Keduanya juga menyerukan persatuan dari negara-negara Uni Eropa dan mendorong pembentukan front persatuan tentara Eropa.

Namun demikian, suara dukungan bagi keduanya di masing-masing negara, diketahui mengalami kemunduran. Berbagai pertemuan besar antar pemimpin dunia selalu menjadi fokus perhatian publik; termasuk APEC yang kali ini tidak dihadiri 2 tokoh besar, yakni Donald Trump dan Vladimir Putin, hingga pertemuan G20 yang akan berlangsung di Argentina pada akhir Bulan November mendatang.

 

Saksikan:

Penyiar

Komentar