History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

“Karnaval Tokoh Besar Pekerja Migran” Digelar Penuh Semarak, Hadirkan Keberagaman Budaya yang Terpadu Lewat Pertunjukan Seni

  • 28 August, 2023
Galeri
(Sumber foto: One-Forty)

(Taiwan, ROC) -- Biro Tenaga Kerja Kota Taoyuan dan organisasi nirlaba One-Forty bersama-sama menggelar “Festival Asia Tenggara 2023, Memasuki Kehidupan Sehari-hari Pekerja Migran di Taiwan” selama 1 bulan. Acara puncaknya yang bertajuk “Karnaval Tokoh Besar Pekerja Migran” digelar di area Taman Budaya dan Kreatif Desa Baru Matsu, pada Minggu (27/8) kemarin. Acara tersebut secara khusus mengundang para pekerja migran menjadi bintang utama, termasuk dalam acara peragaan busana, nyanyian, serta tarian tradisional.

Biro Tenaga Kerja Kota Taoyuan mengatakan, “Seni mampu menembus sekat-sekat ras, bahasa dan budaya. Melalui pertunjukan ini, kami berharap warga kota dapat melihat jika Taiwan adalah masyarakat yang mencakup beragam budaya yang saling berpadu.” Selain mengundang pekerja migran untuk tampil, acara tersebut juga menyilakan mereka untuk berbagi kisah hidup, termasuk alasan mengapa mereka memilih untuk bekerja di luar negeri, pengalaman bekerja dan tinggal di Taiwan, hambatan-hambatan apa saja yang mereka hadapi, serta mimpi atau impian apa yang ingin mereka wujudkan kelak saat kembali ke kampung halaman mereka masing-masing di Asia Tenggara.

 “Melalui serangkaian kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan kepada masyarakat luas akan gambaran yang berbeda terkait para pekerja migran di seluruh Taiwan. Ketika Anda menyadari jika pekerja migran juga menyukai tarian dan seni seperti kita, maka akan ada kesempatan untuk saling berempati”, kata Kevin Chen (陳凱翔) selaku pendiri One-Forty.

Grup Peragaan Busana “Mila Boutique Fashion Show” yang terdiri dari para pekerja migran, merupakan sebuah grup peragaan busana yang didirikan oleh Mila, seorang siswa pekerja migran dari One-Forty. Ketika di Indonesia, dirinya pernah menjadi model majalah, penata rias, dan turut serta dalam berbagai kegiatan pemilihan model, bahkan membuka toko pakaian tradisional di daerahnya. Selama 10 tahun di Taiwan, dirinya sering menggunakan waktu liburnya untuk mengikuti berbagai pelatihan tata rias dan fashion guna mewujudkan mimpinya. Grup peragaan busananya bahkan pernah turut tampil dalam acara “Nuit Blanche” pada tahun 2018 yang lalu.

Dalam peragaan busana kali ini, Mila mengintegrasikan elemen tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, seperti: Padang, Palembang, Yogyakarta, dll, dengan harapan dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat kota untuk lebih memahami keunikan budaya Indonesia. “Saya suka hidup di Taiwan, bagi saya Taiwan adalah rumah keduaku. Di sini, saya memiliki banyak teman bak keluarga.”

Acara tersebut juga turut diramaikan dengan alunan lagu yang dinyanyikan oleh Band Lü Xiaoxiao (呂曉曉樂團), sebuah band yang terdiri dari kakak adik generasi kedua imigran dari Filipina, yakni Patricia dan Abby. Mereka tumbuh besar di Taiwan sejak kecil dan setiap tahunnya menghabiskan masa liburan musim panas dan musim dingin mereka di Filipina, sehingga mereka sangat akrab dengan budaya Filipina, serta mahir berbahasa Filipina, Tagalog. Sang Kakak, Patricia juga merupakan seorang guru di sekolah pekerja migran One-Forty, yang mengajar bahasa mandarin kepada teman-teman migran senegaranya.

Selain itu juga masih ada pertunjukkan tarian tradisional Jawa yang dibawakan oleh “Grup Tari Tradisional Indonesia Seno Widodo” atau juga dikenal sebagai “AYYODYALOKA Art”, yang didirikan oleh pekerja pabrik Indonesia bernama Seno. Jenis tarian ini mengkomunikasikan nilai-nilai tradisional, adat istiadat dan nilai-nilai keagamaan Indonesia. Kali ini kelompok tarinya mempersembahkan sebanyak 3 tarian, yakni “Tari Rama Shinta” yang menceritakan legenda percintaan Rama dan Shinta, kemudian “Tari Gambir Anom” guna menyambut tamu, dan “Tari Gatotkaca” yang terinspirasi dari kisah Mahabharata.

Penyiar

Komentar