Taiwan akan menggelar pemilu memilih presiden pada awal tahun 2024 mendatang. Setiap kandidat dari masing-masing partai juga tengah menyuarakan sosialisasi ke tengah-tengah masyarakat, dengan harapan dapat memenangkan suara para warga.
Dan baru-baru ini, kandidat dari Taiwan People’s Party (TPP), Ko Wen-je mengungkapkan pendapatnya perihal *eutanasia.
*Eutanasia adalah praktik mengakhiri hidup seorang pasien karena pasien sangat sakit ataupun mengalami penderitaan yang hebat.
Dalam sebuah pertemuan di Keelung, Ko Wen-je yang adalah mantan Walikota Taipei tersebut menyampaikan, bahwa secara pribadi ia setuju dengan pelegalan eutanasia.
Ia juga sedikit menambahkan, kalau legalnya praktik eutanasia bukanlah persoalan medis, melainkan lebih kepada norma-norma kebudayaan.
Baru-baru ini, akun Ko We-je di media sosial Youtube mengunggah satu postingan video. Dalam video tersebut, Ko Wen-je terlihat tengah menghadiri sebuah seminar yang dihelat oleh “Kaohsiung Supplementary Education and Quality Assurance Association”.
Dan dalam sesi tanya-jawab, salah seorang warga kemudian bertanya, “Jika Anda terpilih sebagai presiden, apakah Anda akan mendukung perihal eutanasia?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ko Wen-je secara gamblang menyampaikan bahwa eutanasia bukanlah persoalan yang mudah untuk dibahas.
“Negara yang melegalkan praktik eutanasia, harus mempunyai tingkat kedisplinan yang sangat tinggi,” terang Ko Wen-je.
Ko kemudian menambahkan kalau dirinya pribadi mendukung praktik eutanasia, yang tentunya harus dilengkapi dengan prosedur matang dan relevan.
Dirinya lalu membagikan salah satu pengalaman di masa lampau saat ia tengah melakukan penelitian. Dalam penelitian tersebut, ia menemukan beberapa fakta unik.
“Saat dihadapkan kepada 2 pilihan genting; pertama, meninggal dunia, atau kedua, menderita *vegetatif persisten seumur hidup, maka 90% orang menyatakan lebih baik meninggal dunia. Dan uniknya ketika objek tersebut diubah menjadi orang yang dicintai, maka mereka akan terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban pasti,” terang Ko Wen-je.
*Vegetatif persisten adalah kelainan kesadaran di mana pasien dengan kerusakan otak serius berada dalam kondisi sadar secara parsial namun tidak menunjukkan persepsi dan reaksi kognitif terhadap rangsangan yang ada di sekitarnya. (Sumber Berita dan Foto: 自由時報)
RTI Radio Taiwan International 










