Harga pada produk “soft commodities” diberitakan akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun ini.
“Soft commodities” atau komoditas lunak adalah komoditas seperti kopi, biji coklat, gula, gandum, jagung, kedelai dan sejenisnya.
Kenaikan harga pada komoditas lunak akan diperparah dengan datangnya fenomena El Nino yang membuat negara produsen mengalami musim kemarau dan kering berkepanjangan.
Bahkan pengecer di Inggris diberitakan sampai mengunci kaleng kopi instannya di dalam brankas agar tidak dicuri oleh orang lain.
Di Jepang, salah satu perusahaan minuman raksasa setempat mengumumkan untuk menangguhkan sementara penjualan jus jeruk Tropicana mereka.
Sedangkan pengusaha coklat dan biskuit di Jerman mengeluh terhadap melonjaknya harga gula dan biji coklat.
Salah seorang Kepala Pusat Penelitian di Lembaga ED&F, Kona Haque menyampaikan bahwa harga komoditas lunak pada tahun ini telah melonjak sebesar 24%.
Hanya produk jagung dan gandum yang harganya perlahan-lahan mengalami penurunan.
Oleh karena itu, Kona Haque melanjutkan harga roti dan pasta akan menjadi sedikit lebih murah ketimbang waktu-waktu sebelumnya.
Pecinta coklat mungkin harus merogoh kocek lebih untuk bisa menikmati produk favorit mereka.
Selain coklat, produk makanan ringan manis seperti permen dan gula-gula juga akan menjadi lebih mahal.
Salah satu lembaga penelitian komoditas konsumen, NielsenIQ menyampaikan bahwa harga coklat dalam setahun belakangan sudah meningkat sebanyak 14%.
Dan bukan tidak mungkin jika komoditas coklat akan kian mahal, mengingat pasokannya yang kini semakin menipis.
Kepala Pakar Riset di S&P Global Commodity Insights, Sergey Chetvertakov menuturkan, datangya fenomena El Nino dan angin Harmattan ke wilayah penghasil biji coklat di Afrika Barat telah memukul berat perindustrian coklat.
Negara-negara seperti Pantai Gading dan Ghana adalah penyumbang lebih dari 60% biji coklat dunia.
Kepala Perusahaan Pemasaran Kakao Ghana, Fuad Mohammed Abubakar menyampaikan, produksi biji coklat di Afrika Barat pada musim mendatang diprediksi akan menurun sebanyak 8% dikarenakan faktor cuaca yang memburuk.
Di samping itu, harga biji coklat pada musim ini telah melonjak ke level tertinggi dalam tujuh tahun belakangan, karena kuantitas panen di negara Pantai Gading yang terlalu mengecewakan.
Dengan kata lain, kelangkaan terhadap biji coklat masih akan menghantui hingga musim panen mendatang.
Bulan Oktober hingga September tahun mendatang akan menjadi waktu di mana komoditas coklat menjadi kian susah diperoleh. (Sumber Foto: 財經新報)
RTI Radio Taiwan International 










