47 mayat manusia ditemukan di dekat hutan di timur Kenya, Afrika. 47 mayat tersebut adalah pengikut dari sebuah sekte sesat, yang mengajarkan para pengikutnya untuk tidak makan (puasa) kemudian mati secara bersama-sama, dengan tujuan untuk bisa “melihat Yesus”.
Menteri Dalam Negeri Kenya, Kithure Kindiki menyampaikan, pihaknya telah menutup kawasan hutan dengan luas mencapai 324 hektar, untuk keperluan olah TKP dan investigasi.
Media BBC mewartakan, pemimpin dari Good News International Church, Paul Makenzie Nthenge adalah otak dari ajaran sesat ini. Ia mengklaim dan berkata kepada pengikutnya, bahwa mereka dapat “melihat Yesus” jika berada dalam kondisi lapar.
Akibatnya, banyak pengikut yang kemudian tercuci otak dan memilih untuk tewas dalam kondisi kelaparan. Bahkan, beberapa jenazah yang ditemukan adalah mereka anak-anak yang masih berada di rentang usia belia.

Media lokal Kenya mewartakan, ahli patologi setempat akan mengambil sampel DNA dari para korban untuk kemudian diuji, guna memastikan apakah almarhum meninggal disebabkan kelaparan.
Penggalian masih terus dilakukan, bahkan salah satu makam diketahui berisi 5 mayat yang adalah satu keluarga.
Hingga berita ini diluncurkan, sudah ada 58 lubang kubur yang berhasil diidentifikasi. Otoritas setempat menuturkan, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan munculnya korban tambahan di kemudian hari.
Pada tanggal 14 April 2023, Paul Makenzie Nthenge menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. 15 anggota organisasi sekte berhasil diselamatkan dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. 4 diantaranya akhirnya dinyatakan tewas saat berada di perjalanan ke rumah sakit.

Saat ini, Paul masih berada di dalam tahanan menunggu jadwal sidang. Ketika ditanya, Paul membantah kalau dirinya telah melakukan kesalahan.
Kepada media Guardian, staf dari organisasi HAM, Haki Africa menuturkan, salah seorang pengikut yang berhasil diselamatkan tetap bersikeras untuk tidak makan, meski dirinya sudah tergeletak lemah tidak berdaya.
Pengikut bersangkutan tidak mau menerima pertolongan dan tetap tidak mau membuka mulut. Ia seakan-akan tetap ingin melanjutkan aksi puasa hingga ajal menjemput. (Sumber Foto: Associated Press)
RTI Radio Taiwan International 










