Otoritas Korea Selatan baru-baru ini mengusulkan reformasi ketenagakerjaan, yakni memperpanjang jam kerja, dari yang awalnya 52 jam/minggu menjadi 69 jam/minggu.
Wacana di atas mendatangkan ketidakpuasan dari kalangan pekerja, khususnya generasi milenial dan generasi z.
Serikat pekerja setempat mengkritik pemerintah Korea Selatan karena dianggap telah mengabaikan kesehatan para pekerja. Wacana ini dicemaskan dapat dimanfaatkan oleh pihak pemberi kerja untuk melakukan eksploitasi kepada karyawan mereka.
Di bawah tekanan opini publik, Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol akhirnya melunak, kemudian menginstruksikan Departemen Tenaga Kerja setempat untuk membahas kembali wacana tersebut.
Presiden Yoon Suk Yeol menuturkan, dirinya berjanji akan mendengarkan seluruh aspirasi dari masyarakat, terutama pandangan kaum muda.

Jajak pendapat Korea Selatan memperlihatkan, hampir separuh dari karyawan pekerja kantoran setempat lebih memilih jenis pekerjaan yang “tidak terlalu sering lembur”.
Di samping itu, angka kelahiran Korea Selatan diketahui kembali mencetak rekor terendah. Dan jika wacana tersebut benar-benar diloloskan, maka dicemaskan dapat membuat angka kelahiran setempat kian tertekan. (Sumber Foto: TVBS News)
RTI Radio Taiwan International 










