Di tengah masa pandemi COVID-19, otoritas Taiwan telah memberlakukan pengontrolan ketat di seluruh kawasan perbatasan. Yang mana hal ini telah berdampak pada sulitnya 400 nelayan ABK Indonesia (Anak Buah Kapal) untuk berlabuh ke wilayah daratan, sehingga para ABK tidak dapat kembali ke kampung halaman dengan menggunakan pesawat.
Otoritas Indonesia secara resmi meminta pihak Taiwan untuk membantu proses pemulangan mereka sedini mungkin.
Kantor Perwakilan Republik Tiongkok (ROC) TETO di Jakarta juga telah menyampaikan, pihaknya akan segera merespons dan menangani kepulangan para ABK tersebut, dengan pertimbangan rasa kemanusiaan.
Menteri Ketenagakerjaan Indonesia - Ida Fauziyah bersama dengan Kepala TETO - John C. Chen (陳忠) menggelar rapat secara daring pada Kamis kemarin (18/3).
Menurut siaran pers yang ada, otoritas Indonesia menaruh perhatian yang mendalam terhadap nasib 400 ABK Indonesia yang terdampar di luar perairan Taiwan, akibat pemberlakuan pembatasan di kawasan perbatasan Taiwan.
Menteri Ida Fauziyah menyampaikan, kondisi para nelayan tersebut sangat rapuh, baik secara fisik ataupun mental. Untuk menghindari terjadinya situasi yang tidak menguntungkan, otoritas Indonesia berharap agar Taiwan segera mengizinkan mereka untuk merapat ke daratan secepatnya, guna mengurus kepulangan ke Tanah Air dengan menggunakan pesawat terbang. (Sumber Foto: CNA News)
RTI Radio Taiwan International 










