JK 3 Feb 2025 Bandeng Taiwan dari Indonesia 台灣虱目魚來自印尼
美食無國界Jelajah Kuliner
Hari ini saya mengajak Anda mendengarkan surat tanggapan dari Waluyo Ibn Dischman tentang ikan bandeng di tahun lalu. Mari kita simak surat Waluyo dan terima kasih atas partisipasinya Waluyo yang dengan setia sering mampir berkomentar.
Salaam,
Hallo apa kabar kak Maria? Lama sekali tidak bersurat. Kali ini saya ingin menanggapi JM tanggal 16 Desember lalu, tentang ikan bandeng.
Ikan bandeng di kawasan Asia Tenggara seperti sebelumnya disebutkan oleh kak Maria adalah salah satu primadona di Vietnam dan juga Indonesia. Sedari kecil saya menikmati bandeng presto dan aneka olahan bandeng di pasar. Seingat saya para tukang bandeng membawa semacam ember terbuat dari stainless steel atau seng, di dalamnya terdapat tumpukan bandeng. Saat wadah bandeng dibuka aroma rempah dan amis gurih dari bandeng meruah ke sudut sudut toko kelontong. Saat dimakan rasanya gurih dan lidah pun ketagihan.
Ihwal masak memasak dengan bahan lokal seperti bandeng nyatanya menjadi hidangan legendaris, namun apakah bandeng masih tetap dimuliakan di Indonesia?! Ternyata belum ada dengung pemuliaan bandeng, nyatanya bandeng memuai dan menyisakan hidangan bandeng presto dengan slogan "tulangnya bisa dimakan". Sejauh ini belum ada berita yang memuliakan kembali ikan jenis ini, sementawis dengan bangganya Taiwan tetap memuliakan bandeng dengan berbagai disiplin ilmu teknologi. Hingga akhirnya terdapat banyak bandeng berkualitas. Beberapa hari yang lalu pun terdengar kabar bahwa harga ikan jenis ini anjlok di pasaran.
Berbicara tentang ekologi di Indonesia, bagiku kini kian morak marik. Baik di lautan, daratan, danau atau di tanah paya. Semua dimakan monster gila, lihat gropak Ciletuh - Sukabumi yang digadang gadang sebagai warisan dunia UNESCO rusak dengan banjir bandang minggu lalu. Alih alih warisan dunia yang semestinya dijaga, para monster mencakar bumi Ciletuh hingga porak poranda. Bukan hanya monster yang mencabik, tapi ada sistem di dalamnya yang mendukung kemudahan untuk merusak alam. Keseimbangan alam di Indonesia pun mulai goyah terlebih lagi jenis ikan-ikanan lokal mulai langka. Disetrum, diracun ataupun bencana serangan ikan predator yang bukan dari wilayah asli. Masih ingatkah ikan Sili, Betok atau Betik, Wader, dan ikan Boso? Dari sekian ikan lokal mulai jarang ditemui di tempatku. Beruntung bagi wilayah semisal Sumatra dan Kalimantan yang masih tersisa hutannya. Di Jawa tepatnya di kampungku sendiri sudah mulai jarang. Selain ikan ragam jenis capung pun tiba tiba engggan menunjukkan diri kembali. Kemana si capung jarum, capung cokelat, capung merah dan si capung maling. Si kadal kresek yang suka mengagetkan pun mulai hilang.
Ada masih banyak harapan untuk mengembalikan keseimbangan ekologi, memang tampak besar sekali usaha yang harus dikerjakan. Tapi setidaknya mulai dari diri sendiri dengan langkah kecil untuk kelestarian alam ini.
Terima kasih kak untuk kesempatannya. Salaam.
Waluyo Ibn Dischman Banjar - Jawa Barat
Budidaya Bandeng di Taiwan:
Kemungkinan Besar Dibawa dari Indonesia pada Era Pemerintahan Belanda
Budidaya bandeng (虱目魚) di Taiwan kemungkinan besar diperkenalkan dari Indonesia selama masa pemerintahan Belanda di Taiwan. Bukti menunjukkan bahwa pengembangan budidaya bandeng paling awal terjadi di wilayah Anping (安平), yang juga dikenal sebagai Tayuan (大員) di masa itu. Anping merupakan salah satu pusat perdagangan dan pelabuhan utama Belanda, sehingga teori ini sejalan dengan catatan sejarah Lian Heng yang menyebutkan bahwa bandeng berasal dari daerah Luermen (鹿耳門).
Menurut pernyataan Chen Tongbai, seorang tokoh senior dalam industri perikanan, buku berjudul "Perikanan Air Asin di Jawa" karya Schuster mencatat bahwa Indonesia telah memiliki tambak bandeng sejak tahun 1400 (sekitar 600 tahun yang lalu). Pada masa pemerintahan Belanda di Taiwan, mereka mendorong masyarakat setempat untuk mengembangkan perikanan dan berdagang sebagai sumber pendapatan pajak.
Saat itu, hubungan laut antara Taiwan dan daerah lain sangat aktif. Belanda, yang mulai memperluas pengaruhnya di Asia sejak akhir abad ke-16, menjadikan Batavia (kini Jakarta) sebagai pusat aktivitasnya. Interaksi erat antara Batavia dan kantor-kantor dagang lainnya memungkinkan pertukaran tenaga kerja dan produk secara intensif. Dengan kehadiran banyak komunitas Tionghoa di Indonesia, baik ide maupun teknologi budidaya bandeng dapat dengan mudah diperkenalkan ke Taiwan. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa budidaya bandeng di Taiwan berasal dari Indonesia selama masa pemerintahan Belanda.
Budidaya bandeng di Taiwan awalnya berkembang di Anping, yang merupakan basis utama perdagangan dan pelabuhan Belanda. Metode budidaya pada masa itu sangat sederhana, tanpa memperhatikan jumlah ikan yang dilepas maupun pemupukan tambak. Tambak hanya dibentuk dengan sedikit menyesuaikan kontur alami, dengan tanggul yang rendah. Akibatnya, saat hujan lebat atau angin kencang, ikan sering meluap keluar tambak. Ini adalah bentuk budidaya yang paling primitif dan ekstensif.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 