美食無國界 Jelajah Kuliner
摘星純米蘿蔔糕
Kue Talam Lobak Kampiun
Hari ini saya mengajak Anda menjelajahi kudapan jadul Taiwan dan juga Indonesia yang jaya raya selalu yaitu kue talam. Tapi kalau di Taiwan kue talam ini rasanya hambar karena hanya berisi serutan lobak putih. Tentu makna hambar di sini adalah perbandingan dengan kue talam di Indonesia.
Kue lobak putih di Taiwan dikenal dengan nama lopogao, kue lobak, cara buatnya mirip sekali dengan kue talam di Indonesia yaitu dikukus. Dan kue talam lobak ini menuruti cara buat kue talak lobak buatan seorang pemuda bermarga Hong yang saya perkenalkan di Jurnal hari ini juga, jadi setelah menikmati acara JK ini, Anda bisa melanjutkan ke acara Jurnal Maria. Yang memperkenalkan kegigihan Hong dalam memperjuangkan kudapan tradisional andalan sang nenek, dan di zaman modern sekarang ini, ia bersikeras untuk tetap menggunakan cara masak lama seperti yang dilakukan neneknya. Yaitu menggiling beras menjadi adonan tepung beras yang basah, lalu mencari jenis lobak putih yang manis dan berkualitas pria, diserut dan dicampur dalam adonan tepung beras yang segar baru digiling dari penggilingan ala tradisional. Dan dikukus menjadi kue lobak putih khas Taiwan di zaman dulu.
Ketika industri makanan Taiwan sudah berkembang menjadi industri yang serba otomatis, serba mesin. ada orang yang kangen dengan citarasa masa kecil dan kalau tidak ada orang yang rela berkorban mewujudkannya kembali, maka kudapan tradisional akan lenyap begitu saja dan mungkin hanya bisa ditemukan di museum kuliner saja nantinya.
Kue talam lobak putih ini ada kudapan murah, banyak dijual di pasar malam, di depot-depot makan pagi, dan juga bisa membeli yang siap saji di pasar swalayan maupun pasar tradisional. Tetapi kue talam ini sudah mengandung banyak bahan penyedap, dan juga terbuat dari tepung beras dan bukan dari tepung beras yang segar baru digiling melainkan menggunakan tepung beras yang sudah kering seperti bubuk dan dijual dalam kemasan kecil dan besar.
Nah, bagaimana cara masak secara tradisionalnya?
Pemuda Hong membeberkan cara buat tradisionalnya. Yaitu memilih beras prima produk Taiwan, lalu direndam semalam. Dan kemudian digiling dalam penggilingan batu ala tradisional. Hanya saja sudah menggunakan motor dinamo agar bisa berputar kontinyu. Lalu adonan tepung beras yang keluar harus tepat. Untuk hal ini Hong sudah bereksperimen selama 2 tahun lebih. Sampai menemukan takaran air yang paling ideal. Yaitu tidak boleh terlalu kering, tidak boleh terlalu basah alias encer. Jadi tidak ada resep takaran yang pasti, hanya mengandalkan pengalaman Hong sendiri. Jadi seperti kita membuat adonan kue bolu, ketika adonan dikocok sampai kalau diangkat kocokannya dan adonan yang menempel melengkuk tapi tidak jatuh ke bawah, berarti sudah OK. Begitulah kira-kira. Ketepatan dari tekstur adonan beras yang sebenarnya sederhana isinya, yaitu hanya air dan beras giling. Akan menentukan kue talam lobaknya, kekokohan hasil kukusan kalau terlalu encer adonannya, maka akan mudah hancur, dan kalau terlalu kental akan membatu mengeras dan tidak layak jual lagi.
Apakah sampai di situ? Tidak, karena lobaknya juga setelah diserus, harus dioseng lagi tanpa minyak agar airnya menguap dan membuat lobak menjadi tambah manis rasanya. Setelah itu baru dicampur dengan adonan beras, dan dibumbui dengan garam merica saja. Nah, dengan tanpa kehadiran bumbu penyedap lain yang berlebihan, maka lidah kita menjadi terlatih untuk menikmati rasa alami dari setiap bahan makanan yang terkandung dalam sepiring kuliner. Jadi konsumen bisa merasakan manisnya lobak putih dan harumnya beras yang sudah berubah menjadi kue talam. Meskipun bisa divariasi dengan aneka bahan isian, tetap jangan lupa semua harus mengutamakan rasa alami. Dan karena mengejar hal-hal yang alami dengan rasa alami yang sejati. Hong meraih penghargaan dalam kompetisi di LN. Orang Taiwan sendiri pun tidak bisa membayangkan kalau kudapan tradisionalnya yang begitu biasa, bisa menjadi kampiun.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 