History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jelajah Kuliner 美食無國界惜福惜食Cintailah Makanan

  • 21 October, 2024

美食無國界Jelajah Kuliner

 

惜福惜食Cintailah Makanan

Selamat datang di acara Jelajah Kuliner acaranya Maria Sukamto 歡迎收聽美食無國界, apa kabar para JK lovers para JKers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. berbicara tentang makanan, maka banyak sekali bahan pembicaraannya, tinggal kita bahan dari sudut apa. Hari ini saya mengajak Anda untuk menjelajahi suatu nuansa di Taiwan yang berkaitan dengan makanan. Apa itu?

 

Kalau Anda membaca berita-berita di LN mungkin di AS, maka di situ ada sebuah perkumpulan orang-orang yang menjadi relawan mengumpulkan makanan yang dibuang supermarket atau toko-toko. Karena sesuai dengan peraturan pemerintah setempat, mereka tidak boleh memberikan makanan yang tanggalnya sudah kedaluwarsa. Misalnya roti, walau masih baik tetapi menurut peraturan, di malam hari roti-roti yang tidak habis dijual harus dibuang semuanya. Maka perkumpulan pencinta makanan itu mengambil makanan yang dibuang supermarket. Dan semua makanan termasuk sayuran, daging dan apa saja yang tanggalnya sudah lewat, maka harus dibuang. Dan kalau diberikan ke orang lain, supermarketnya akan dituntut hukum. Tapi lain lagi kalau ada orang yang mengambil sendiri di tong sampah besar yang berada di belakang toko.

 

Kelompok orang-orang pencinta makanan, dan tidak mau menghamburkan makanan, mereka olah menjadi masakan untuk orang-orang homeless, karena di sana banyak orang homeless dan mereka setiap hari antre untuk mendapatkan makanan gratis di berbagai komunitas. Sayang sekali di Taiwan masih belum ada, tetapi digantikan dengan kesadaran dan kepedulian para pemerhati homeless, mereka menjadi badan sosial yang beramal dengan menyumbangkan makanan secara tidak berkala kepada para tunawisma.

 

Sebenarnya tindakan mengambil makanan yang masih baik dan tidak rusak di tong sampah supermarket, adalah tindakan yang mencintai bumi ini. Karena pangan semakin mengalami krisis, dan kalau dibuang-buang begitu saja, tentu sangat sayang sekali. Sementara begitu banyak orang masih kelaparan. Di Taiwan ada grup yang diadakan oleh swasta, grup ini ada di FB, di mana dinamai grup pencinta makanan, tidak menyia-nyiakan makanan, berbagi makanan yang lebih, dan dengan digaris bawahi risiko keamanan makanan ditanggung sendiri. Jadi seperti sebuah komitmen, di mana orang itu bersedia mengambil makanan dari orang lain, dan berjanji secara terbuka dengan menuliskan kalimat “Keamanan makanan ditanggung sendiri”. Sehingga kalau misalnya ia sakit karena memakan makanan pemberian orang, juga tidak boleh menuntut orang tsb. jadi ditanggung sendiri. Kalau tidak bisa dimanfaatkan oleh oknum, mungkin ada yang ingin mendapatkan uang santunan dengan pura-pura sakit perut dengan menuntut orang yang memberinya makanan.

 

Grup ini sebagian besar berjalan biasa, misalnya ada perusahaan yang mengadakan rapat, dan makanan bento atau nasi bungkusnya kelebihan, dan sisa makanan yang belum tersentuh itu diinfokan di grup tsb. dengan memberitahukan lokasinya. Agar yang Taipei tidak kecele mengambil makanan di Kaohsiung.

Ada pula makanan beku yang sudah jatuh tempo, tetapi tetap ada yang mau mengambilnya. Karena kita tahu, bahwa masa kedaluwarsa itu hanya peraturan pemerintah, kadang makanan masih baik hanya saja sesuai peraturan, masa nya sudah jatuh tempo.

 

Beberapa hari lalu, saya melihat ada berita di laman grup tsb. bukan berbagi makanan sisa, melainkan seruan SOS, ia sedang di gawat darurat sebuah RS di Taipei. Dan ia belum makan malam, dan tidak ada uang untuk mengorder makanan. Semula banyak komentar di bawah menyarankan dia untuk meminta tolong orang lain membelikan makanan yang ada di food court lantai bawah RS tsb, tetapi usut punya usut, ia tidak punya uang. Dan meminta bantuan dikirimi bento nasi kotak biantang.

Ini menarik perhatian saya untuk mengikuti perkembangannya. Ternyata ada orang yang sangat pemurah, ia mengatakan, siapapun pasti pernah mengalami masa sulit. Dan kalau sampai sudah mengeluarkan seruan permintaan tolong di laman FB ini, berarti ia sungguh perlu sekali.  Maka tanpa banyak bertanya macam-macam, ia pun bertanya, bagaimana kalau saya mengorderkan makan via uber dan minta alamat unit gawat darurat RS tempat ia berada. Dan bahkan meminta izin apakah cukup kalau diorderkan 2 porsi bakpao siaolungbao dan semangkuk sup tulang iga.

Tidakkah sangat mengharukan tindakan orang yang bersedia memesankan makanan dan dikirim via ubereats?

 

Sebenarnya membantu orang yang sedang terjepit, kita tidak perlu banyak tanya, janganlah kita sampai seperti polisi mengintrogasi tahanan. Bertanya sampai detail, hanya saja karena kita curiga apakah orang tsb. berbohong. Sebenarnya kalau pun ia berbohong, biarkan saja, karena dosa berbohong ia tanggung sendiri. Kita membantu ya membantu saja. Setujukah teman-teman?

 

Di laman grup FB itu saya baru tahu bahwa makanan sisa pun dari makanan pesta, juga ada yang mau. Ini menunjukkan bahwa begitu banyak orang yang masih hidup serba kurang. Dan tidak ada salahnya menerima bantuan orang di saat kita miskin. Dan nanti ketika kita sudah mapan, kita membayar kebaikan dengan membantu orang yang perlu.

 

Terima kasih, teman-teman, mari kita mencintai makanan dan tidak membuang-buang makanan, kita bagikan kepada yang perlu. Sampai jumpa!

 

Penyiar

Komentar