History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jelajah Kuliner 美食無國界 Sambal Basid 的辣椒醬

  • 08 April, 2024
Jelajah Kuliner
Sambal Pucuk Rotan ala Basid Hasibuan

美食無國界 Jelajah Kuliner Sambal Basid 的辣椒醬

 

Selamat datang di acara Jelajah Kuliner acaranya Maria Sukamto 歡迎收聽美食無國界, apa kabar para JK lovers para JKers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

Pekan ini dapur Maria menerima seorang tamu besar atau lebih tepat seorang anggota keluarga besar Dapur Maria bernama Basid Hasibuan. Ia hadir dengan sajian menu sambal bawangnya dan juga membuka mata saya kalau rotan juga bisa jadi makanan enak. Nah, sambal ala Basid ini tentu sangat sedap rasanya, apalagi di saat bulan puasa ini.

 

Dalam surat elektroniknya Basid mengatakan:

Apa kabar kak Maria ?

boleh berbagi cerita masakan khas dengan sambal bawang yang disajikan di bulan puasa. Sajian hanya banyak ditemukan pada saat bulan puasa.

Ceritanya terlampir ya kak,  semoga berkenan.

Salam sehat dan sukses buat kakak kakak penyiar semuanya

 Postingan Kak Maria di facebook pada tanggal 17 Maret 2024 terkait dengan panen cabai. Hasil kebun kak Maria yang ditanam di lingkungan rumah, kelihatannya cabai sangat segar sehingga mengingatkan saya, dan membuka memori pada masa masa usia belasan tahun. Eh nyela dengan ralat sedikit, cabai cabai itu saya beli dari petani cabai secara langsung karena kebun saya sudah dibangun sekolah oleh pemilik tanahnya.

Yuk lanjut lagi dengan cerita Basid, melihat cabai cabai kak Maria, membuka memori saya pada masa usia belasan tahun. Saya masih bisa menikmati sambal khas kampung halaman, sehingga saya termotivasi  untuk membuat tulisan terkait dengan sambal yang biasa disajikan saat berbuka atau sahur di pagi hari di bulan suci Ramadhan di kampung halamanku di daerah Mandailing Natal.

 Bahannya sangat simpel alias sederhana cukup cabe di ulek di gilingan batu sedikit garam atau tanpa garam sama sekali. Karena biasanya garam sambel tersebut bisa diganti dengan kecap asin khas Sumatera Utara alias di produksi di Sumatera Utara. Tergantung selera mau sedikit asin boleh atau asin banget juga  boleh,  bisa di atur sesuai selera sendiri. Kemudian di iris iris bawang merah  lalu diaduk dengan sambal yang ulek tadi mau halus boleh mau setengah halus juga boleh. Setelah diaduk baru kasih dengan jeruk nipis.

Tidak perlu di goreng atau dimasak biasanya disajikan sekali santap. Bawangnya juga tidak perlu di ulek cukup di iris dan di aduk semuanya campuran sambal tadi.

 Saat menulis cerita ini saya sampai ngiler nelan ludah merasakan sensasi dan membayangkan jika makan sambal bawang ini. Sederhana kan?  Tapi kalau disajikan dengan pucuk rotan yang di bakar, wah ....sensasi luar biasa nikmatnya. Rasa pucuk rotan ini kalau menurut saya sedikit ada pahit atau mungkin juga ada yang hambar, tapi kalau sudah dicocol dengan sambal bawang tadi rasanya nikmatnya tidak bisa dilukiskan dengan kata kata. Saat Ramadhan tiba di daerah yang dulu namanya Tapanuli Selatan dengan ibukotanya Kota Padang Sidempuan,  atau sekarang lebih sering disebut Tapanuli Bagian Selatan. Kini terdiri dari  5 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara dan Kota Padang Sidempuan. Semuanya memiliki kekhasan yang sama dimana bulan Ramadhan ini banyak masyarakat penduduk menjual pucuk rotan yang sudah di bakar.  Setelah matang kalau ada pembeli datang di kupas kulit pucuk rotan tersebut lalu diambil bagian dalam pucuk rotan yang lunak kemudian dipotong potong kira kira 5-8 cm warnanya putih ke abu abuan. Itulah yang disajikan saat santap saat buka puasa disajikan dengan sambal bawang tadi, tinggal di cocol ditambah sayuran apakah sayur pucuk daun singkong yang direbus, terong yang direbus atau daun pepaya, plus dengan ikan asin sensasinya bikin keringat dan nambah selera.

Terkait pucuk rotan tadi di daerah kami dahulunya sangat banyak di hutan hutan sekitar kampung kami. Cuma sekarang pucuk rotan sekarang di datangkan dari kabupaten Pasaman Sumatera Barat tetangga kabupaten Mandailing Natal. Mungkin diwilayah saya sudah jarang ditemukan karena jumlah penduduknya bertambah sehingga banyak dijadikan perumahan, dan juga perkebunan kelapa sawit. Pucuk rotan ini yang di bakar  terlebih dahulu setelah matang kalau ada pembelinya baru di buka sehingga bagian yang lunaknyalah yang diambil rasanya mirip lalapan dengan dicocol sambal bawang tadi.

Akankah makanan khas sajian bulan ramadhan ini suatu saat nanti akan hilang, jika pohon rotan sudah sulit ditemukan dan langka bisa jadi kan? Atau mungkin akan menjadi suatu  cerita kenangan masa lalu ini hanya  bisa diceritakan kepada generasi yang akan datang bahwa pucuk rotan adalah bagian makanan yang bisa dinikmati masyarakat Tapanuli Bagian Selatan Sumatera Utara yang sangat populer sampai hari ini di bulan suci Ramadhan. Sekian dulu cerita khas masakan bulan puasa di kampung halamanku, yang  mungkin rada aneh bagi teman teman yang belum pernah menikmatinya. Saya yakin tiap daerah di Indonesia yang beragam budaya punya khas disajikan saat Ramadhan tiba.

Salam hangat dan memang cuacanya sangat panas pool saat ini di Jakarta Timur dan saya Basid Hasibuan berbagi cerita buat teman teman semuanya.

 

 

Penyiar

Komentar