(Taiwan, ROC) --- Prosesi mengarak tandu Dewi Mazu Baishatun selama 10 hari 9 malam, telah berakhir pada Minggu kemarin (11/5).
Prosesi yang memiliki sejarah lebih dari 200 tahun ini mulai membuka pendaftaran 23 tahun lalu, saat itu hanya ada 3.000 lebih peserta. Tahun ini, hampir 330.000 orang berpartisipasi, meningkat lebih dari 100 kali lipat.
Bahkan media Inggris BBC membuat liputan khusus, mencerminkan pengakuan kembali generasi muda terhadap budaya tradisional di Taiwan.
Baik merangkak di bawah tandu maupun berebut untuk mengangkat tandu suci, semuanya bertujuan untuk lebih dekat dengan Mazu, dengan harapan bisa mendapat berkah dan perlindungan dari -Nya.
Meskipun prosesi ini dilakukan tanpa memiliki rute tetap, tetapi melalui GPS dapat terlihat gambar pola hati yang besar. Para pengikut percaya bahwa Dewi Mazu diam-diam menyampaikan cinta dan berkah yang mendalam untuk Taiwan.
Prosesi mengarak tandu Dewi Mazu dari Kuil Gongtian Baishatun telah menyelesaikan perjalanan 10 hari 9 malam dengan berjalan kaki.
Ritual ini sendiri telah memiliki sejarah hampir 200 tahun lamanya. Pihak kuil pertama kali membuka pendaftaran bagi seluruh warga pada 20 tahun lalu. Di kala tersebut, jumlah yang mendaftar hanya berkisar 3.000 orang.
Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun lalu, jumlah warga yang mendaftar mencapai 180 ribu orang, dan tahun ini melesat hampir satu kali lipat, yakni menjadi 330 ribu pendaftar.
Rekor terus terpecahkan dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ahli Budaya Tsai Shang-ji (蔡上機) mengatakan, "Taoisme adalah agama lokal, jadi dengan topografi pulau Taiwan, ke manapun Anda pergi, selama di tepi laut, Anda hampir selalu bisa melihat Kuil Dewi Mazu berdiri. Oleh karena itu, kepercayaan dan pemujaan Dewi Mazu di Taiwan telah menjadi konsensus bersama terbesar di antara semua Dewa dalam Taoisme."
Kasih Dewi Mazu tidak membedakan status atau kelas sosial. Siklus kebaikan menyebar di sepanjang rute prosesi setiap tahunnya. Di sepanjang jalan terdapat berbagai barang yang diberikan secara cuma-cuma kepada seluruh peserta, seperti air minum botol dan minuman olahraga untuk menghilangkan dahaga, makanan ringan dan kuliner lokal untuk memulihkan energi, serta jimat keselamatan buatan tangan dalam jumlah terbatas.
Semua ini adalah sumbangan tulus dari para pengikut. Meskipun setiap orang memiliki permohonan doa yang berbeda, tetapi sepanjang perjalanan dapat merasakan kasih yang melimpah.
Media terkemuka Inggris BBC juga membuat liputan khusus menganalisis semakin banyaknya anak muda yang berbagi aktivitas prosesi ini dan rute secara real-time.
Sebelumnya, kebanyakan orang menggunakan Facebook, sekitar 75% berusia 36-65 tahun. Kemudian di Instagram, lebih dari 68% berusia 18-39 tahun. Sekarang Threads menjadi media sosial paling populer di kalangan anak muda Taiwan, sebagian besar adalah Generasi Z berusia 16-24 tahun.
Peneliti dari Pusat Penelitian Agama Tionghoa Universitas Nasional Chengchi, HungYing-fa (洪瑩發) menerangkan, "Proporsi anak muda sangat tinggi karena mereka bersedia berpartisipasi dan peduli dengan budaya Taiwan. Partisipasi yang besar ini menjadi tren penting di kalangan anak muda. Karena Mazu menunjukkan keajaiban, hal ini menarik banyak anak muda untuk berpartisipasi. Selama berpartisipasi, mereka bisa mengekspresikan diri melalui pemberian barang atau berbagai pertunjukan, juga dapat mengakui keberadaan nilai diri mereka. Ini juga merupakan bentuk perasaan partisipasi komunitas kolektif. Oleh karena itu, semakin banyak anak muda tertarik untuk bergabung dalam lingkungan seperti ini."
Generasi muda kembali mengakui budaya tradisional, mencari nilai spiritual dalam prosesi keagamaan. Mereka juga memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengaruh kepercayaan mereka. Prosesi mengarak tandu Dewi Mazu dari Baishatun bukan hanya pemurnian spiritual, tetapi juga ujian fisik.
Melalui setiap langkah yang diambil, para generasi muda menemukan kembali hubungan mereka dengan tanah leluhur. Mereka berjalan berdampingan dengan orang yang tidak dikenal dan saling memberi semangat.
Tidak adanya rute tetap dan hanya mengikuti kemana Dewi Mazu hendak melangkah, menunjukkan kemampuan adaptasi orang Taiwan terhadap ketidakpastian.
Kepercayaan Dewi Mazu melampaui generasi dan kelas sosial. Melalui kegiatan keagamaan yang saling membantu ini, kehangatan kembali ditemukan di tengah masyarakat zaman now yang cenderung lebih individualis.






