History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jiwa Muda 05052025 - Gen Z merasa Gelar Sarjana Buang-Buang Waktu dan Uang karena AI

  • 05 May, 2025

Masalah Kesehatan Mental di Kalangan Muda, Tingkat Bunuh Diri Generasi Muda Taiwan di Atas Rata-Rata OECD

Para ahli menyampaikan, bahwa masalah kesehatan mental remaja Taiwan memburuk terkait dengan laporan Universitas Nasional Taiwan yang menunjukkan bahwa bunuh diri remaja telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dilansir dari UDN, menurut laporan Pusat Penelitian Anak dan Keluarga NTU, yang dirilis beberapa waktu lalu, membandingkan statistik remaja Taiwan dengan statistik negara-negara OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi). Laporan tersebut menunjukkan tingkat bunuh diri remaja Taiwan adalah tujuh per 100.000 pada tahun 2023, naik dari 4,5 pada tahun 2021 jika dibandingkan dengan rata-rata OECD sebesar 6,5.

Laporan tersebut mencatat bahwa tingkat bunuh diri di kalangan remaja Taiwan sedikit berubah antara tahun 1990 dan 2015, dan meningkat setelah itu. Angka tersebut sedikit menurun pada tahun 2020 sebelum terus meningkat.

Para ahli mengatakan tingkat bunuh diri mungkin terkait dengan perubahan dinamika keluarga. Namun, laporan NTU menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan penyebabnya.

Associate Professor Departemen Sosiologi NTU Kuo Chen-lan (郭貞蘭) mengatakan laporan tersebut menunjukkan kesehatan mental remaja dan dukungan sosial harus menjadi fokus pembuatan kebijakan. Ia mengatakan statistik kesehatan mental yang memburuk menunjukkan Taiwan memiliki masalah perkembangan keluarga yang perlu ditangani.

Direktur Institut Perilaku Kesehatan dan Ilmu Komunitas NTU Chang Shu-sen (張書森) mengatakan bahwa peningkatan angka bunuh diri, lebih banyak perceraian, dan penggunaan internet berkorelasi positif. Ia menambahkan kaum muda harus dibantu untuk menanggapi perubahan dalam keluarga.

Chang mengatakan stereotip negatif tentang anak-anak dalam keluarga orang tua tunggal dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental. Ia juga mengatakan peningkatan penggunaan media sosial dan konten yang menggambarkan tindakan menyakiti diri sendiri mungkin telah memengaruhi sikap remaja terhadap kesehatan mental.

Chang juga mencatat penelitian yang menunjukkan lebih banyak remaja percaya bahwa bunuh diri adalah hak pribadi, dan mengatakan norma-norma sedang berubah. Laporan Asosiasi Kesehatan Masyarakat Taiwan tahun 2023 menunjukkan bahwa 75% warga Taiwan berusia 15-24 tahun memiliki pandangan ini pada tahun 2020.

Kementerian Pendidikan Taiwan telah memberikan cuti kesehatan mental selama tiga hari kepada sejumlah siswa pada Februari lalu sebagai tanggapan atas kampanye mahasiswa untuk melawan bunuh diri dan melukai diri sendiri di kampus. Pada bulan Juli, Kementerian Kesehatan (MOHW) memperluas dukungan kesehatan mental dengan mengalokasikan NT$336 juta untuk konsultasi kesehatan mental gratis bagi warga berusia 15 hingga 45 tahun.

Presiden Lai Ching-te (賴清德) menyampaikan pada bulan November lalu bahwa pemerintah akan menerapkan lebih banyak program kesehatan mental untuk warga muda dan setengah baya, selain program yang diumumkan pada bulan Juli. Kebijakan kesehatan mental pemerintah melibatkan peningkatan layanan, perawatan untuk kekerasan, kekerasan seksual, dan kecanduan, serta "mengintegrasikan kesehatan mental ke dalam semua kebijakan."

Para pelajar Taiwan yang sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (foto: Rti)

Taiwan Membuka Pendaftaran Lowongan Kerja bagi Pekerja Migran di Sektor Daur Ulang dan Pemrosesan

Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan (MOENV) baru-baru ini mengumumkan bahwa pihaknya akan segera menerima lamaran bagi pekerja migran di sektor daur ulang dan pemrosesan Taiwan.

Dilansir dari CNA, Kementerian Tenaga Kerja Taiwan (MOL) diperkirakan akan merilis rancangan rencana pada awal Mei, yang membuka jalan bagi pendaftaran yang akan dimulai paling cepat pada pertengahan Mei.

Sektor daur ulang mencakup bisnis yang terlibat dalam pengumpulan, pemilahan, pemadatan, pengemasan, dan penyimpanan bahan limbah, tidak termasuk kegiatan operasi pembongkaran. Sektor pemrosesan mengacu pada bisnis yang mengolah limbah yang dapat didaur ulang melalui metode fisik, kimia, atau metode lain untuk pemulihan sumber daya, sebagaimana yang ditetapkan oleh Ditjen Sirkulasi Sumber Daya (RECA).

Dalam regulasi untuk daur ulang, MOENV menyampaikan bahwa operator usaha terkait harus terlebih dahulu memperoleh sertifikasi kualifikasi sebelum mengajukan permohonan izin perekrutan ke Kementerian Tenaga Kerja. Hanya setelah memperoleh izin ini, barulah badan usaha tersebut dapat mengajukan izin kerja bagi karyawan asing.

Sebelumnya, perusahaan memerlukan registrasi pabrik untuk mempekerjakan pekerja migran, yang menyulitkan banyak perusahaan di sektor daur ulang dan pemrosesan untuk memenuhi persyaratan kerja.

Berdasarkan aturan baru, perusahaan dapat mempekerjakan pekerja migran berdasarkan jumlah rata-rata dari karyawan lokal yang terjamin selama dua bulan sebelumnya. Alokasi pekerja migran dibatasi hingga 20% dari jumlah ini, dengan pembulatan diterapkan ke bilangan bulat terdekat.

Misalnya, perusahaan dengan satu karyawan lokal dapat mengajukan permohonan untuk satu pekerja migran, karena angkanya akan membulat menjadi satu.

Pejabat Kementerian Tenaga Kerja Su Yu-kuo (蘇裕國) mengutarakan, bahwa revisi peraturan sebagian besar telah disetujui. Kementerian sedang menyelesaikan kerangka hukum dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk mempersiapkan implementasi.

Saat ini, menurut Badan Pengembangan Tenaga Kerja (WDA), pekerja migran di Taiwan diizinkan untuk bekerja di berbagai sektor termasuk penangkapan ikan laut, pekerjaan rumah tangga, pengasuhan di lembaga, pengasuhan di rumah, manufaktur, manufaktur penjangkauan, konstruksi, pemotongan hewan, pertanian penjangkauan,, kehutanan, peternakan, atau akuakultur.

Truk yang membawa barang-barang daur ulang di Taichung (foto: Wikipedia)

Gen Z merasa Gelar Sarjana Buang-Buang Waktu dan Uang karena AI

Setelah kecerdasan buatan (AI) berada di berbagai lini tempat kerja, banyak pencari kerja yang merupakan generasi Z (Gen Z) menyampaikan, bahwa gelar mereka sudah tidak relevan lagi, sekaligus bertanya-tanya mengapa mereka harus repot-repot kuliah.

Dilansir dari the New York Post, berdasarkan laporan Indeed terbaru, kuliah dianggap hanya membuang-buang uang dan waktu, dengan 49% pencari kerja yang merupakan Gen Z menganggap, bahwa pendidikan tinggi mereka telah kehilangan nilai di pasar kerja karena AI.

Sementara itu, hanya 1/3 dari generasi milenial yang merasakan hal serupa, dan hanya 1 dari generasi X atau boomer yang memiliki perasaan yang sama, berdasarkan laporan CIO Dive.

Dengan demikian, pekerja muda, terutama lulusan baru adalah mereka yang paling merasakan tekanan.

Hal ini terungkap dari laporan Indeed yang dilakukan oleh Harris Pill berdasarkan tanggapan dari 772 pekerja dan para pencari kerja AS dengan gelar sarjana, mengungkap adanya kesenjangan fenerasi dalam keyakinan karir.

Dalam laporan itu, pencari kerja yang lebih muda merasa bahwa AI telah membuat keterampilan dan pendidikan mereka tidak berguna jika dibandingkan dengan pelamar yang lebih tua, utamanya setelah banyak perusahaan yang mengabaikan persyaratan 4 tahun kuliah, sehingga separuh dari Gen Z merasa bahwa kuliah adalah sebuah investasi yang buruk.

Kini, para pengusaha tidak hanya mencari orang-orang dengan gelar, tapi juga mencari orang-orang yang tahu cara bekerja dengan mesin.

Nyatanya, tekanan untuk beradaptasi dengan AI terlihat nyata, sebab AI tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tapi juga apa yang dikerjakan, bagaimana pembayarannya, dan siapa saja yang dipekerjakan.

Berbagai perusahaan telah merespons dengan penawaran program-program peningkatan keterampilan, pelatihan penggunaan AI, bahkan kursus-kursus pembelajaran mesin, rekayasa cepat, atau keterampilan lain dari platform pendidikan daring.

Saat ini, yang terbaik dalam pasar tenaga kerja adalah mempelajari teknologi, memiliki motivasi untuk mencoba perangkat AI, dan menerapkannya atau Anda akan tertinggal.

Ilustrasi AI dan manusia (foto: iStock)

Penyiar

Komentar