History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Humantek 010525: Kisah Kakak Beradik di Changhua Buat Casing HP yang 100% Bisa Didaur Ulang

  • 01 May, 2025
Humantek - RtiFM Online Kamis

Taipei Memasang Lebih dari 1.200 Pengisi Daya Kendaraan Listrik di Tempat Parkir Umum

Biro Transportasi Taipei pada 22 April mengungkapkan bahwa jumlah pengisi daya kendaraan listrik (EV) di tempat parkir umum Kota Taipei telah mencapai 1.276 unit.

Biro Transportasi menyampaikan bahwa pemerintah kota telah memperluas pemasangan stasiun pengisian daya EV untuk mencapai emisi karbon nol bersih dan mendorong transportasi ramah lingkungan. Taipei kini memiliki jumlah pengisi daya EV publik terbanyak di Taiwan, dengan total yang diperkirakan akan mencapai 1.600 unit pada akhir tahun ini, dilansir dari CNA.

Kota Taipei memiliki sekitar 24.000 kendaraan listrik, yang membantu mengurangi emisi karbon sebesar 54.000 ton per tahun. Departemen tersebut mencatat bahwa pengurangan ini setara dengan kapasitas penyerapan karbon dari hampir 140 Taman Hutan Daan.

Biro Transportasi juga menyampaikan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Evoasis untuk memperkenalkan pengisi daya pintar tipe AC. Pengisi daya ini memungkinkan pemilik kendaraan listrik untuk mengisi daya secara otomatis setelah satu kali pendaftaran melalui aplikasi seluler. Perusahaan tersebut telah memasang lebih dari 300 pengisi daya pintar di delapan distrik di Taipei.

Evoasis menyatakan bahwa stasiun pengisian pintar miliknya terintegrasi dengan sistem manajemen energi. Sistem ini dapat secara otomatis menyesuaikan daya pengisian berdasarkan penggunaan listrik di sebuah gedung, sehingga beban listrik dapat didistribusikan secara efektif dan mencegah pemadaman listrik.

Menurut Kementerian Transportasi, jumlah kendaraan penumpang listrik di Taiwan mencapai 99.980 unit per Februari, meningkat sekitar 39.000 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat ini terdapat 10.838 konektor pengisian daya publik di seluruh Taiwan, memenuhi rasio yang direkomendasikan Uni Eropa yaitu satu pengisi daya publik untuk setiap sepuluh kendaraan listrik.

Kementerian Transportasi mengalokasikan dana sebesar NT$980 juta (Rp509 miliar) untuk subsidi pemasangan 4.865 konektor pengisian daya publik. Dari jumlah tersebut, 1.075 telah beroperasi, dan sisanya sebanyak 3.790 unit diperkirakan akan selesai dipasang pada akhir tahun ini.

(foto: Delta Electronics)

Pegatron Resmikan Pusat Manufaktur Cerdas di Pulau Batam

Perusahaan penyedia layanan desain dan manufaktur produk elektronik (DMS), Pegatron secara resmi mengoperasikan pusat manufaktur pintar terbarunya di Pulau Batam, Indonesia. Manajemen perusahaan menyatakan bahwa fasilitas ini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), teknologi otomatisasi canggih, serta menjalin kemitraan strategis dengan Telkomsel, operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, untuk memperkuat transformasi digital dan jaringan produksi global melalui implementasi jaringan pribadi 5G.

Dalam upaya mewujudkan visi Industri 4.0, Pegatron bekerja sama dengan Telkomsel membangun jaringan 5G independen kelas korporat (SA) di dalam kawasan pabrik, guna menyediakan koneksi yang sangat andal dan aman. Telkomsel juga menyediakan hingga 1.200 kartu SIM, yang terintegrasi dengan sistem Smart Manufacturing 5G di pabrik, memungkinkan pemantauan mesin dan kontrol produksi secara real-time.

General Manager dan CEO Pegatron Gary Cheng (鄭光志) mengatakan bahwa pabrik cerdas ini memanfaatkan keunggulan jaringan 5G yang memiliki latensi rendah dan stabilitas tinggi, sehingga mampu mengintegrasikan ribuan sensor dan mesin secara efisien, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas.

CEO PT Pegatron Technology Indonesia Andy Hsieh, menambahkan bahwa sistem ini memungkinkan otomatisasi penuh, analisis data, serta optimalisasi dalam hal kualitas, biaya, dan manajemen pemeliharaan.

Industri manufaktur Indonesia mulai pulih secara bertahap sejak akhir tahun 2024, dengan peningkatan pesanan dari dalam dan luar negeri. PDB sektor manufaktur Indonesia diperkirakan tumbuh 5,2% pada tahun 2025, menunjukkan daya tarik pasar yang kuat serta potensi investasi yang menjanjikan. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian Indonesia, sektor manufaktur menyumbang 18,98% terhadap PDB nasional pada tahun 2024, menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pegatron optimis bahwa data ini mencerminkan keberhasilan awal pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri dan inovasi teknologi.

Saat ini Pegatron memiliki fasilitas di 13 negara di seluruh dunia dan terus berupaya memainkan peran penting dalam transformasi digital global dengan membangun ekosistem manufaktur yang tangguh, saling terhubung, dan berbasis inovasi. Strategi jangka panjang perusahaan mencakup pengembangan teknologi AI, menciptakan kapabilitas kerja inovatif, meningkatkan daya saing bisnis, serta memperkuat kemitraan. Di masa depan, perusahaan juga akan mengeksplorasi berbagai teknologi frontier seperti PEGAVERSE (platform internal), mobilitas masa depan, konektivitas canggih, kehidupan berkelanjutan, dan robot pintar.

Perwakilan Taiwan di Indonesia, Bruce Hung (kiri); Co-CEO Pegatron, Cheng Kuang-chih (tengah); Kemenko Kumham Imipas RI, Yusril Ihza; dan yang lainnya dalam persemian basis manufaktur Pegatron di Batam, Kamis. (Sumber Foto : Pegatron Corp.)

(foto: Pegatron Corp.)

Google Teken Kesepakatan Energi dengan Pembangkit Angin Lepas Pantai Taiwan

Google mengumumkan pada 22 April bahwa mereka telah menandatangani perjanjian pembelian listrik korporat pada bulan Maret untuk proyek pembangkit angin lepas pantai Fengmiao 1 di Taichung.

Berdasarkan siaran pers, kesepakatan ini ditandatangani melalui dana CI V milik Copenhagen Infrastructure Partners, menandai pembelian pertama Google semacam ini di Taiwan dan memperluas portofolio energi bersihnya. Perjanjian ini akan menyediakan listrik yang andal untuk mendukung pusat data dan kantor Google di Taiwan.

Thomas Wibe Poulsen, Kepala CIP Asia-Pasifik, mengatakan bahwa ini adalah kesepakatan angin lepas pantai kedua perusahaan dengan Google setelah perjanjian 250 MW untuk proyek Zeevonk di Belanda, dilansir dari CNA. Ia mencatat bahwa kontrak di Taiwan ini memperkuat basis pelanggan korporat Fengmiao 1.

Google mengatakan perjanjian ini merupakan tonggak penting dalam strategi energi bersihnya di Taiwan. “Setelah beroperasi pada tahun 2027, proyek ini akan menyediakan listrik andal untuk mendukung pusat data, wilayah cloud, dan kantor Google di Taiwan,” kata Google.

Hsiao I-chun (蕭義俊), Associate Senior untuk Infrastruktur Energi di Google Asia-Pasifik, berkomentar bahwa kesepakatan ini memberi Google akses terhadap listrik bebas karbon yang terjangkau. Ia mengatakan energi angin lepas pantai menjadi pelengkap tenaga surya dengan menyediakan output yang stabil saat sinar matahari rendah.

CIP menyatakan bahwa Fengmiao 1 saat ini sedang dalam tahap konstruksi setelah penutupan keuangan pada 19 Maret. Pembangkit angin ini akan berlokasi sekitar 35 kilometer dari pesisir Taichung dan akan dilengkapi dengan 33 turbin dengan total kapasitas 500 MW.

(foto: Canva)

 

Perluas Program Daur Ulang Casing HP, RHINOSHIELD Gandeng FamilyMart Dirikan Lebih dari 4.300 Titik Daur Ulang

Produsen aksesori ponsel ternama, RHINOSHIELD pada awal April mengumumkan kerja sama strategis dengan FamilyMart untuk meluncurkan program daur ulang casing ponsel. Lebih dari 4.300 gerai FamilyMart di seluruh Taiwan kini akan menjadi titik pengumpulan casing RHINOSHIELD, sebagai bagian dari perluasan jaringan program daur ulang “RHINO LOOP Ekosistem Sirkular RHINOSHIELD”. Langkah ini diharapkan dapat menjadi tonggak baru dalam mendorong ekonomi sirkular lintas sektor industri.

RHINOSHIELD menyebutkan bahwa setiap tahun lebih dari 1 miliar casing ponsel diproduksi dan dikonsumsi di seluruh dunia. Namun, desain dengan campuran berbagai bahan ini membuatnya sulit untuk didaur ulang. Untuk mencegah casing ponsel menjadi sampah sekali pakai, perusahaan ini telah mengubah desain dan proses produksi plastik, serta membangun sistem daur ulang tertutup yang mengelola seluruh siklus produk plastiknya. Semua casing RHINOSHIELD kini dirancang dengan material tunggal, memastikan bahwa casing yang dikembalikan dapat didaur ulang secara efektif.

Sejak tahun 2022, RHINOSHIELD telah membuka 10 gerai resmi di Taiwan, serta bekerja sama dengan toko ponsel dan distributor produk teknologi ternama. Tahun lalu, mereka meluncurkan casing ponsel pertama yang terbuat dari 100% bahan daur ulang, dilengkapi sistem pelacakan jejak produk. Hingga akhir 2024, lebih dari 30.000 casing bekas RHINOSHIELD telah berhasil didaur ulang. Perusahaan memperkirakan ekspansi jaringan tahun ini akan memberikan dorongan pertumbuhan hingga 40%.

Taiwan dikenal memiliki kepadatan minimarket tertinggi kedua di dunia, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mulai kini, konsumen cukup membawa casing ponsel bekas yang telah dikemas, lalu menggunakan mesin FamiPort di gerai FamilyMart untuk memilih layanan “Stasiun Daur Ulang RHINOSHIELD”, dan menyerahkan paket di kasir. Proses daur ulang ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu menit.

Kerja sama strategis ini juga menjadi kali pertama FamilyMart berkolaborasi dengan merek casing ponsel dalam model daur ulang balik (reverse logistics). Dengan memanfaatkan sistem logistik FamilyMart yang sudah ada, mereka dapat mengangkut produk ke gerai sambil mengumpulkan casing bekas dari konsumen, kemudian mengirimkannya secara terpusat ke RHINOSHIELD untuk didaur ulang 100%, memberi kehidupan baru pada casing ponsel yang sebelumnya dibuang.

犀牛盾|官方網站– 犀牛盾RHINOSHIELD

(foto: Rhinosheild)

SOSOK:

Kisah Kakak Beradik di Changhua Buat Casing HP yang 100% Bisa Didaur Ulang

Apakah ponselmu pernah jatuh dan pecah meski sudah dipasangi casing?

Kali ini kami akan membahas kisah pendiri salah satu merek casing hp yang terkenal di Taiwan, RhinoShield
Setiap tahun, mereka menjual casing setinggi 100 gedung Taipei 101

Mereka memulai usaha pada tahun 2012. Dari perusahaan yang hanya terdiri dari dua orang, kini berkembang menjadi tim dengan 500-an karyawan. Berkat produk andalan seperti pelindung layar anti-pecah dan casing transparan anti-menguning dengan garansi seumur hidup, RHINOSHIELD telah lama menduduki posisi tiga besar pasar aksesori ponsel di Taiwan.

Saat ini, lebih dari 70% dari pendapatan mereka berasal dari luar negeri. Di negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol, pangsa pasar mereka juga termasuk tiga besar. Dalam setahun, mereka bisa menjual produk setinggi 100 gedung Taipei 101.

Pada bulan Maret tahun ini, mereka meluncurkan casing ponsel pertama di Taiwan yang 100% dapat didaur ulang dan diproduksi ulang. Casing ini bahkan bisa didaur ulang hingga enam kali. Mereka juga berkomitmen dalam sepuluh tahun ke depan membangun sistem siklus tertutup (closed loop) untuk produk mereka — dari desain, produksi, hingga daur ulang, semuanya ditangani sendiri.

Namun, sistem closed loop bukan hal mudah. Artinya, produsen tidak hanya harus membuat dan menjual produk, tapi juga menemukan cara untuk menarik kembali produk yang telah dijual. Ini melibatkan teknologi material, logistik, jalur distribusi, dan kerja sama dengan konsumen — sesuatu yang bahkan merek besar seperti H&M dan Apple masih dalam tahap percobaan.

Kisah ini kembali ke belasan tahun lalu, ketika sepasang kakak beradik bernama Eric dan Ray memulai usaha. Saat itu, mereka masih belum berusia 30 tahun — sang kakak sedang menjalani studi doktoral di bidang material di Universitas Cambridge, Inggris, sedangkan sang adik bekerja sebagai manajer produk di perusahaan teknologi Pegatron.

Momentum lahirnya bisnis mereka muncul seiring peluncuran iPhone 4, ponsel pertama dengan desain kaca di kedua sisi. Desainnya indah, tapi karena permukaan kaca terlalu licin dan luas, banyak pengguna menjatuhkan ponsel hingga layarnya retak.

Saat itu, sang kakak, Eric, yang setiap hari terkurung di lab untuk riset material, tiba-tiba sadar bahwa bahan yang sedang dia kembangkan punya kemampuan tahan guncangan tinggi — sangat cocok untuk pelindung layar kaca. Ia pun merekam hasil eksperimen dan mengirimkannya ke adiknya, Ray.

Tapi tanpa uang dan tanpa studio, “kantor” pertama mereka hanyalah lantai granit di depan rumah orang tua.

Untuk menguji kekuatan pelindung layar, Ray duduk di lantai dan menjatuhkan bola baja ke atas kaca — delapan jam sehari. Setiap kali menghancurkan satu kaca “Gorilla Glass”, itu berarti rugi NT$60.

 “Saya seperti penjual mi jalanan, duduk di tempat yang sama delapan jam. Sampai-sampai orang tua saya pikir saya sudah gila… Bahkan pernah sekali, ibu saya kira tumpukan kaca itu sampah, semua disapu bersih!” Mereka tertawa saat mengenang masa-masa itu dalam wawancara dengan majalah Business Weekly.

Mereka lalu membawa produknya ke Kickstarter, platform pendanaan kolektif terbesar di dunia, dengan target £50.000 (sekitar NT$2,6 juta waktu itu). Tapi di Taiwan kala itu, crowdfunding belum populer, dan ayah mereka yang berlatar belakang manufaktur konvensional sama sekali tak mengerti apa yang sedang mereka lakukan.

Mereka pun sadar bahwa hanya mengandalkan kualitas produk tidak cukup — promosi juga penting. Hari pertama produk mereka diluncurkan, hanya 19 orang yang mendukung kampanye mereka. Akhirnya mereka mengirim ratusan email ke media teknologi dan blogger luar negeri, bahkan juga ke pemain basket Jeremy Lin!

“Kami benar-benar mati-matian. Bangun tidur langsung kirim email, minta orang mencoba produk kami,” kata Ray. Mereka bahkan mengirim ratusan paket media berisi pelindung layar dan potongan kaca iPhone.

Dana yang dikumpulkan dari crowfunding akhirnya cukup, tapi setelah dipotong pajak dan biaya platform, hanya balik modal dari biaya pengembangan awal yang mereka keluarkan sendiri.

Karena mereka menerima ribuan pesanan dari lebih dari 60 negara dalam waktu singkat, mereka tidak punya sistem logistik yang siap untuk menangani itu. Maka, mereka mencari orang lain di Taiwan yang juga pernah menjalankan kampanye crowdfunding dan harus mengirim produk ke luar negeri.

Mereka juga menawarkan bantuan administratif gratis (seperti bantu urus pengiriman atau dokumen), dengan syarat: mereka bisa menggabungkan pengiriman dan berbagi kontainer agar lebih hemat ongkos kirim. Meski begitu, mereka tetap sering begadang di gudang, mengemas pesanan hingga pagi.

Karena volume barang mereka begitu besar, bahkan petinggi FedEx Asia datang langsung ke Taiwan. Tapi sesampainya di “kantor” RHINOSHIELD, mereka kaget — sebuah gedung tua, lantai berlapis rumput sintetis, dan meja dari kardus. “Mereka pasti kaget!” ujar Eric sambil tertawa.

Perjalanan wirausaha dua bersaudara ini selalu diwarnai oleh pertumbuhan di tengah kejaran masalah. Setiap kali mereka menemukan solusi untuk satu masalah, mereka langsung harus menghadapi tantangan berikutnya.

Misalnya, mereka membangun platform e-commerce sendiri karena tidak ada yang mau menjual produk mereka. Namun, justru karena itu, mereka bisa membangun sistem produksi real-time sendiri, menerima masukan langsung dari pelanggan, dan menekan stok hingga seminimal mungkin.

Dari awalnya mengembangkan pelindung layar, hingga akhirnya memproduksi casing ponsel, itu semua karena casing ponsel lain tidak pas dengan pelindung RHINOSHIELD. Maka, mereka sekalian meluncurkan casing ponsel sendiri — dan produk ini menjadi mesin pertumbuhan kedua bagi perusahaan.

Kali ini, untuk mewujudkan ekonomi sirkular, mereka menginvestasikan 1 miliar NTD (sekitar Rp 500 miliar) untuk membangun pabrik sendiri, dari riset hingga produksi. Alasannya? Karena tidak ada pabrik injection molding yang bersedia bekerja sama. Namun tantangan kali ini jauh lebih rumit dan tekanannya jauh lebih besar dari sebelumnya.

Secara umum, margin laba kotor untuk casing ponsel tergolong tinggi — sekitar 30–40%, bahkan produk kolaborasi bisa mencapai 70%. Selama ini, RHINOSHIELD bisa mempertahankan margin tinggi karena mereka mengendalikan sendiri R&D dan pemasaran lewat kanal e-commerce. Tapi membangun pabrik sendiri pasti akan meningkatkan biaya produksi.

Pada Maret 2024, RHINOSHIELD meluncurkan seri “CircularNext”, yaitu casing ponsel pertama di Taiwan yang dapat didaur ulang 100%, sekaligus mencapai target agar semua produk seperti casing, AirPods, dan aksesori AirTag juga bisa masuk ke dalam sistem daur ulang.

Bagi Eric, keahliannya di bidang ilmu material benar-benar terlihat dalam penentuan posisi produk ini. Dengan menggunakan material tunggal, casing bisa dihancurkan menjadi partikel kecil di pabrik lalu dibentuk kembali—dan bisa didaur ulang setidaknya enam kali.

Agar siklus daur ulang dari seri CircularNext benar-benar bisa diwujudkan secara nyata, RHINOSHIELD sejak tahun 2022 sudah lebih dulu memulai program “Circular Ecosystem Recycling Plan”. Sementara itu, konsumen di Amerika Serikat dan Eropa bisa memanfaatkan layanan pengembalian lewat pos.

Kembali ke alasan awal mengapa ingin membangun ekonomi sirkular — pada dasarnya, mereka ingin mengubah pola lama, dari yang selalu “dikejar masalah”, menjadi proaktif: menemukan masalah lebih dulu, menyelesaikannya, dan menjadikannya misi wirausaha mereka.

Dulu, mereka menganggap wirausaha sebagai hal “kecil”. Sekarang, mereka ingin menggambarkan visi yang “besar”.

Dua bersaudara ini sempat memperdebatkan satu pertanyaan: “Apakah kita akan menjual casing ponsel seumur hidup?”
Eric berkata, latar belakangnya dari dunia material, jadi secara alami ia ingin menyelesaikan masalah material.
“Material itu netral. Yang membuat casing ponsel jadi seperti botol plastik PET kedua adalah karena kita tidak mengelolanya dengan benar. Target kita adalah menjadikannya 100% bisa digunakan ulang.”.
Dulu, adik kadang menarik rem ketika kakaknya terlalu ngebut. Tapi kali ini, mereka memutuskan untuk menginjak gas bersama-sama .

(foto; https://www.algenesislabs.com/)

Penyiar

Komentar