Petani Leci di Kaohsiung Gunakan Lampu Hijau untuk Kendalikan Hama
Leci merupakan salah satu produk pertanian penting di Kota Kaohsiung. Kini, para petani menggunakan lampu hijau di malam hari untuk mengusir hama utama tanaman ini: ngengat leci.
Lampu hijau terbukti efektif dalam menekan aktivitas ngengat pada malam hari. Uji coba ini akan diperluas pada bulan Mei, yang menandai dimulainya musim panen leci, dilansir dari CNA.
Kaohsiung adalah penghasil leci yuhebao (玉荷包) terbesar di Taiwan, dengan lahan budidaya seluas 2.340 hektar. Produksi tahunan kota ini diperkirakan mencapai 9.653 ton metrik, dengan nilai output mencapai NT$1,6 miliar (sekitar US$43,9 juta).
Meski konsumen menikmati buah yang manis dan berair ini, kehadiran larva ngengat yang nyaris transparan di dalam buah bisa sangat mengganggu. Larva tersebut berwarna sama dengan daging buah leci, sehingga bisa mengejutkan konsumen dan membuat hasil panen petani tak laku dijual.
Departemen Pertanian Kaohsiung (DOA) dalam siaran pers pada hari Senin (14/4) menyatakan bahwa larva ngengat merusak buah, menyebabkan buah rontok sebelum matang, dan menurunkan nilai jual. DOA juga memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk tantangan pengendalian hama karena mempercepat siklus perkembangbiakan hama.
Untuk mengatasi masalah ini, DOA menggandeng Universitas Nasional Chiayi sejak tahun 2021 untuk melakukan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi ngengat meningkat pesat saat pohon leci mulai berbunga dan berbuah.
Penelitian menemukan bahwa pencahayaan hijau di malam hari mampu menghambat aktivitas ngengat, sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida dan meningkatkan hasil produksi.
Menurut DOA, penggunaan lampu hijau dapat menggantikan dua pekerja yang biasanya dibutuhkan untuk penyemprotan pestisida harian—yang biayanya mencapai NT$4.000 (sekitar US$123) per hari—serta mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida sebanyak empat hingga enam kali dalam setahun.
Hasil uji menunjukkan bahwa lampu hijau dapat menekan kerusakan akibat ngengat hingga kurang dari 2% dari total panen. DOA juga menambahkan bahwa biaya pemasangan sistem lampu hijau dan listriknya dapat balik modal dalam waktu kurang dari satu tahun.

(foto: Website MOA)
MEDIATEK Luncurkan Chip Baru yang Dukung AI untuk Perangkat Chromebook
Perancang chip seluler MediaTek mengumumkan pada hari Rabu peluncuran chip terbarunya yang didukung AI, Kompanio Ultra, untuk perangkat Chromebook.
Dalam siaran persnya, MediaTek menyebut bahwa Kompanio Ultra adalah prosesor Chromebook terkuat yang pernah mereka buat, dengan kemampuan pemrosesan AI sebesar 50 TOPS. Chip terbaru ini mendukung kecerdasan buatan generatif (generative AI), otomasi waktu nyata, dan pemrosesan lokal yang aman, menurut laporan CNA.
Dibangun dengan proses fabrikasi canggih 3 nm, chip ini memiliki CPU all-big-core dengan inti Arm Cortex-X925 yang mampu mencapai kecepatan hingga 3,62 GHz, menawarkan performa tingkat atas untuk tugas single-threaded maupun multithreaded. Chip ini dioptimalkan untuk kebutuhan berat seperti pengeditan video, pembuatan konten, dan bermain gim, dengan kemampuan multitasking lancar dan lag minimal.
Kompanio Ultra juga unggul dalam efisiensi daya, berkat manajemen daya canggih dan cache besar di dalam chip. Ini memungkinkan masa pakai baterai sepanjang hari, sehingga pengguna dapat bekerja, streaming, dan bermain lebih lama hanya dengan satu kali pengisian daya.
Platform ini mendukung hingga dua layar eksternal 4K dan dilengkapi dengan audio Hi-Fi untuk panggilan yang jernih dan suara yang imersif. Dengan konektivitas Wi-Fi 7, chip ini menjanjikan kecepatan lebih tinggi, latensi lebih rendah, dan jangkauan yang lebih baik.
John Solomon, Wakil Presiden Chrome OS di Google, menyatakan antusiasmenya terhadap kemitraan dengan MediaTek. “Kompanio Ultra akan membuka berbagai kemungkinan baru bagi fitur AI langsung di perangkat Chromebook Plus, sekaligus menawarkan efisiensi daya luar biasa untuk penggunaan ekstra saat bepergian,” ujarnya.
MediaTek menyebut bahwa Chromebook yang menggunakan Kompanio Ultra akan mulai diluncurkan dalam beberapa bulan ke depan.

(foto: MEDIATEK)
Proyek Mahasiswa NTU Dibawa Ke JAXA Jepang
Sebuah eksperimen dinamika fluida yang terinspirasi oleh "slinky" yang diajukan mahasiswa National Taiwan University (NTU) akan dibawa ke luar angkasa oleh Badan Eksplorasi Aeroangkasa Jepang (JAXA) antara akhir 2025 dan awal 2026.
Proyek mahasiswa NTU ini, "The Liquid Waltz: Observing Fluid Dynamics in a Dancing Slinky", adalah satu dari sebelas tema yang dipilih dalam putaran final misi Asian Try Zero G 2025 (ATZ-G 2025) yang diselenggarakan JAXA, menurut pernyataan berita badan tersebut pada 24 Maret.
Setelah menerima 500 proposal di putaran pertama dari mahasiswa di sembilan negara Asia-Pasifik, ATZ-G 2025 mencari "Eksperimen yang memungkinkan konfirmasi visual fenomena fisik," yang akan dilakukan astronot Jepang di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) antara paruh kedua 2025 dan awal 2026, kata JAXA.
Chen Wen-ching (陳文慶), anggota tim mahasiswa NTU berjumlah lima orang yang menyebut diri mereka "Slinky Ninjas", mengatakan kepada wartawan dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (2/4) bahwa gaya yang digunakan untuk mengendalikan cairan di Bumi tidak selalu berlaku di luar angkasa.
Untuk mengeksplorasi perbedaan tersebut, tim mengusulkan ide menggunakan "slinky" dan kantong air untuk mengamati bagaimana cairan bergerak ketika dituangkan ke dalam struktur seperti pegas dalam lingkungan tanpa gravitasi, dengan tujuan melihat apakah tegangan permukaan dan tekanan Laplace dapat menciptakan "gaya tak terlihat" untuk menstabilkan cairan di dalam kumparan, kata Chen.
Sebuah tim mahasiswa dari National Taiwan University berpose dengan "slinky" yang menginspirasi proyek mereka.
Chen mencatat bahwa eksperimen awal menunjukkan tegangan permukaan dapat membatasi cairan dalam struktur spiral seperti "slinky" pada skala kecil, sedangkan pada skala yang lebih besar, seperti "slinky" berukuran penuh, gravitasi menyebabkan cairan melarikan diri melalui celah-celah.
Tim berharap bahwa dalam lingkungan mikrogravitasi ISS, ketika "slinky" ditarik, diputar, atau ditekuk, cairan akan terus mengalir dengan lancar di dalamnya, tambah Chen.
Ketika gerakan-gerakan tersebut terjadi dalam setiap peregangan eksperimen, "Seorang astronot yang memegang kedua ujung 'slinky' seperti melakukan tarian waltz di luar angkasa," katanya, menjelaskan inspirasi di balik nama proyek tersebut.
Tim membayangkan aplikasi masa depan teknologi kontrol fluida di industri seperti semikonduktor, farmasi, hingga kolonisasi luar angkasa, menurut Chen.
Chiang Ya-yu (蔣雅郁), seorang asisten ahli di Jurusan Teknik Mesin NTU yang memimpin tim, mengatakan proyek tersebut menduduki peringkat pertama di antara 67 proposal yang diajukan di seluruh Taiwan dan kemudian mewakili negara tersebut dalam tahap final ATZ-G 2025, yang mengevaluasi kelayakan teknis dari 27 tema yang masuk daftar.
Chiang mengatakan bahwa proyek NTU mendapat pujian tinggi dari astronot yang terlibat dalam proses seleksi, termasuk Satoshi Furukawa, yang melakukan eksperimen terpilih dalam edisi sebelumnya ATZ-G di ISS pada 2023.
ATZ-G pertama kali diluncurkan pada 2011, dengan ATZ-G 2025 menandai edisi kesembilan dari acara tersebut, diikuti 1.176 mahasiswa dari sembilan negara termasuk Taiwan, Jepang, Singapura, dan Australia.

(foto: JAXA)
NUWA Robotics dan Taiwan Mobile Luncurkan Robot Pelayanan Berbasis AI
Taiwan Mobile mengumumkan beberapa waktu lalu bahwa mereka telah bekerja sama dengan Nuwa Robotics untuk meluncurkan robot pelayan sebagai bagian dari paket berbasis AI bertajuk “Open Possible”.
Robot ini dirancang untuk tugas-tugas layanan seperti pengantaran hidangan dan pengisian ulang, menurut CNA. Fitur-fiturnya dapat disesuaikan sepenuhnya—interaksi suara, navigasi, dan kecepatan—sehingga cocok tidak hanya untuk restoran tetapi juga untuk lingkungan perawatan kesehatan.
Alih-alih investasi awal yang tinggi, robot ini ditawarkan melalui model sewa dengan harga mulai dari NT$8.000 (US$243) per bulan, menurut UDN. Ini membuatnya lebih terjangkau dibandingkan model impor yang biasanya melebihi NT$300.000.
Taiwan Mobile mengatakan bahwa opsi paling populer di kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) adalah “Easy Front-of-House Plan,” yang dimulai dari hanya NT$1.486 per bulan. Ketika dikombinasikan dengan robot pintar, proses pemesanan dan pengantaran makanan dapat diotomatisasi dengan biaya kurang dari NT$10.000 per bulan.
Wakil Presiden Bisnis UKM Taiwan Mobile, Lin Te-wei (林德偉), mengatakan bahwa paket ini menyediakan layanan modular yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, dengan panduan dari para ahli Taiwan Mobile. Dengan bekerja sama dengan startup AI lokal, Taiwan Mobile bertujuan membantu perusahaan mengatasi tantangan staf dan operasional.
Mengutip data dari Precedence Research, Lin mencatat bahwa pasar robot layanan global diperkirakan akan tumbuh dari NT$1,79 triliun pada tahun 2024 menjadi lebih dari NT$6,9 triliun pada tahun 2034. Seiring perkembangan AI dan otomatisasi, robot layanan interaktif akan memainkan peran penting dalam peningkatan operasional, terutama di wilayah dengan kekurangan tenaga kerja yang parah, tambahnya.
COO Nuwa Robotics, Chang Chih-chieh (張智傑), mengatakan bahwa transformasi digital tidak akan menggantikan pekerja, melainkan meningkatkan nilai manusia. Nuwa Robotics dan Taiwan Mobile berbagi visi ini, memungkinkan bisnis memberikan layanan yang efisien, tambah Chang.

(foto: NUWA Robotics)
Penyakit Parkinson di Taiwan Capai 80 Ribu
Direktur Departemen Neurologi Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan sekaligus Ketua Parkinson’s Alliance of Taiwan, Wu Ruey-mei (吳瑞美), menyatakan bahwa jumlah kasus penyakit Parkinson secara nasional hampir mencapai 80.000.
Wu menjelaskan bahwa penyakit Parkinson, gangguan otak yang lebih umum terjadi pada pria, biasanya dimulai pada usia antara 50 hingga 60 tahun. Kondisi ini disebabkan oleh penuaan dini sel-sel otak yang menyebabkan kekurangan dopamin—zat kimia penting untuk mengontrol gerakan tubuh—sehingga membuat pergerakan menjadi sulit, menurut laporan CNA.
Menurut Taiwan Clinical Oncology Research Foundation, penyakit Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif paling umum kedua setelah demensia, dan angka kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. Lembaga ini menyebutkan bahwa prevalensi penyakit Parkinson di Taiwan diperkirakan sekitar 150 hingga 300 kasus per 100.000 orang.
Taiwan resmi memasuki status sebagai masyarakat super-lanjut usia tahun ini, dengan lebih dari 2.000 kasus baru Parkinson yang didiagnosis setiap tahunnya. Wu mengatakan bahwa pasien pada tahap awal hingga menengah dapat menjalani kehidupan normal jika rutin mengonsumsi obat.
Gejala awal penyakit Parkinson meliputi tremor pada salah satu anggota tubuh, kekakuan dan nyeri pada sendi, gerakan yang melambat, serta keseimbangan yang buruk, kata Wu. Ia menyarankan agar siapa pun yang mengalami dua atau lebih gejala ini segera memeriksakan diri ke dokter.
Wu juga menyoroti bahwa sore hingga malam hari serta pagi hari adalah waktu-waktu puncak terjadinya episode “off” pada pasien Parkinson, yaitu saat pasien tiba-tiba kehilangan kemampuan bergerak. Ia menambahkan bahwa setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan, beberapa pasien mungkin mengalami penurunan efektivitas obat, sehingga episode “off” menjadi lebih sering dan lebih lama durasinya.
Untuk kasus Parkinson yang lebih parah, Wu mengatakan bahwa pembedahan untuk menanamkan alat yang menstimulasi arus listrik di otak mungkin diperlukan guna mengurangi episode “off.” Ia juga menyebutkan bahwa terapi noninvasif menggunakan ultrasound untuk menghancurkan jaringan saraf tertentu telah menunjukkan hasil yang baik. Namun, terapi ini belum ditanggung oleh Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan.

(foto: Canva)
SOSOK
Lin Hwai-min : Founder Cloud Gate Theater
Lin Hwai-min (林懷民; Lîm Hôai-bîn) adalah seorang penari, penulis, koreografer, dan pendiri Cloud Gate Dance Theater of Taiwan yang lahir pada 19 Februari 1947 di Taiwan.
Keluarga
Lin lahir di Xingang, Chiayi, dalam keluarga intelektual. Kakek buyutnya adalah seorang penyair dan pebisnis yang juga mendirikan sekolah pada masa penjajahan Jepang. Kakeknya seorang dokter, dan ayahnya, Lin Chin-sheng, lulusan hukum dari Universitas Kekaisaran Tokyo. Setelah Chiang Kai-shek memindahkan pemerintahannya ke Taiwan pada 1949, ayah Lin menjabat berbagai posisi penting, termasuk sebagai Bupati Chiayi antara 1951–1954. Ibunya, Lin Cheng Pen-pen, adalah lulusan Tokyo Economics College. Lin adalah anak sulung dari lima bersaudara.
Masa Kecil dan Pendidikan
Keluarga Lin sangat mencintai seni—ayahnya menyukai seni visual, sedangkan ibunya gemar musik klasik. Sejak kecil, Lin sudah akrab dengan berbagai bentuk seni dan budaya. Ia pernah berkata, "Ceritaku sejak awal adalah campuran antara pengaruh budaya Taiwan-Tiongkok, Barat, dan Jepang—karena orang tuaku dididik di Jepang."
Ia sempat bersekolah di SD Chun Wen di Chiayi, lalu pindah ke SMA Pertama Taichung, kemudian ke Weido, sebuah sekolah Katolik swasta untuk anak laki-laki. Ayahnya awalnya mendorongnya untuk mengambil jurusan hukum di Universitas Nasional Chengchi, tetapi setelah setahun Lin beralih ke jurusan jurnalisme. Setelah lulus, ia sempat wajib militer di Taipei dan bekerja di bagian komunikasi.
Minat Lin terhadap menulis sudah terlihat sejak muda—ia menerbitkan cerita pertamanya di United Daily News pada usia 14 tahun. Di usia 18, ia menjadi penulis kontrak untuk majalah Crown, salah satu majalah terbesar di Taiwan. Ceritanya yang berjudul Cicada pada 1969 menggambarkan tema "Generasi yang Hilang" di Taiwan dan sangat populer di kalangan muda. Kecintaannya pada sastra ini kemudian banyak memengaruhi visi artistiknya dalam dunia tari. Ia bahkan rutin membagikan buku kepada para penari di perusahaannya untuk dibaca dan dibahas bersama.
Awal Mula Mengenal Tari
Lin pertama kali tertarik pada tari saat berusia lima tahun setelah menonton film Inggris The Red Shoes. Ia terpesona dan mulai menari di hadapan keluarganya. Ketertarikannya semakin besar setelah menonton pertunjukan José Limón Dance Company dari AS di Taichung. Di tahun 1960-an, saat tari modern mulai populer di Taiwan, ia sempat ikut kursus tari namun berhenti setelah tiga bulan. Ia kemudian ikut lokakarya dengan penari terkenal seperti Chungliang Al Huang dan Yen Lo-Wong.
Pada 1969, Lin pergi ke AS untuk melanjutkan studi jurnalisme di Universitas Missouri. Ia mendapat beasiswa untuk program penulisan internasional di Universitas Iowa, di mana ia belajar dari penyair terkenal Paul Engle. Di sana, ia mulai aktif di dunia seni peran dan seni rupa, serta mengikuti kelas tari modern yang diasuh Marcia Thayer—yang kemudian menjadi sosok penting dalam perjalanan artistiknya. Ia lalu melanjutkan ke Martha Graham Center of Contemporary Dance di New York untuk memperdalam kemampuan tarinya.
Karier
Sepulangnya ke Taiwan pada tahun 1970-an, Lin mulai menulis, mengajar, dan menciptakan koreografi. Ia mengajar di Universitas Nasional Chengchi dan Universitas Kebudayaan Tiongkok. Pada 1983, ia mendirikan Departemen Tari di Universitas Seni Nasional Taipei. Sejak tahun 2000, ia menjabat sebagai Direktur Artistik Novel Dance Series di Novel Hall, Taipei.
Cloud Gate Dance Theater
Pada 1973, Lin mendirikan Cloud Gate Dance Theater, di mana ia menjadi pendiri, koreografer tetap, dan direktur artistik. Ia membubarkan grup ini pada Oktober 1988 untuk melakukan perjalanan ke India, Indonesia, dan New York University, lalu kembali ke Taiwan dan menghidupkan kembali kelompok ini pada 1990. Pada 1999, ia mendirikan Cloud Gate 2, sebagai wadah bagi para koreografer dan penari muda. Lin ingin menciptakan kelompok tari Tionghoa untuk menyampaikan karya seni dari dan untuk masyarakat Tionghoa.
Kesuksesan Internasional
Seiring semakin terkenalnya Cloud Gate, Lin mulai bekerja sama dengan seniman internasional. Ia berkolaborasi dengan perancang panggung terkenal Ming Cho Lee untuk karya Nine Songs pada 1993, serta dengan Sylvie Guillem dan Akram Khan dalam Sacred Monsters tahun 2006. Pada 1996, ia debut sebagai sutradara opera dalam produksi Rashomon. Meskipun banyak tawaran dari luar negeri, ia menolak untuk meninggalkan Taiwan, dengan berkata, "Bagaimana mungkin aku meninggalkan Taiwan? Semua teman dan keluargaku ada di sini. Dari sinilah aku mencipta."
Estetika dan Inovasi Gaya
Lin dikenal karena kemampuannya menggabungkan bentuk-bentuk tari tradisional dengan gaya kontemporer. Ia banyak memasukkan elemen dari opera Peking, meditasi Buddhis, seni bela diri seperti tai chi, hingga tarian ritual suku asli Taiwan. Ia juga mempelajari tari istana di Seoul dan mengamati upacara adat di Bali sebagai bagian dari riset artistiknya.
Karya-karyanya sering kali mengangkat tema tentang Taiwan. Di masa awal kariernya, ia sangat peduli dengan dinamika politik dan bangkitnya kesadaran identitas Taiwan. Ia merasa bertanggung jawab untuk menciptakan karya yang merefleksikan sejarah dan identitas bangsanya. Pengalaman keluarganya yang mencakup budaya Tionghoa dan Jepang, pendidikannya di AS, serta pemahamannya terhadap budaya Asia dan adat lokal sangat membentuk visi artistiknya.
Karya Terkenal: Legacy (1978)
Legacy disebut sebagai karya teater pertama yang menggambarkan sejarah Taiwan di atas panggung. Koreografinya menggambarkan perjuangan para pionir awal yang datang ke Taiwan untuk membangun kehidupan baru. Gerakan seperti membajak sawah dan panen dipadukan dengan elemen akrobatik, senam, dan tari tradisional Tionghoa. Pertunjukan ini pertama kali dipentaskan pada 16 Desember 1978, tepat ketika Presiden AS Jimmy Carter mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Taipei. Dalam situasi politik yang genting itu, Legacy sangat menggugah dan menjadi karya penting dalam pencarian jati diri masyarakat Taiwan.
Kehidupan Pribadi
Lin secara terbuka menyatakan dirinya gay dan telah lama menjalin hubungan dengan penulis dan seniman Taiwan, Chiang Xun. Mereka tinggal bersama di sebuah kompleks apartemen dekat Sungai Tamsui di Distrik Bali, New Taipei City.

(foto: Cloud Gate Theater)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 

