(Taiwan, ROC) --- Menanggapi kebijakan baru tarif timbal balik AS, baru-baru ini Presiden Lai Ching-te mengusulkan untuk memulai negosiasi perdagangan berdasarkan tarif nol bilateral, yang kemudian memicu reaksi keras dari sektor pertanian.
Terutama di distrik Houbi, Tainan, yang terkenal dengan produksi beras berkualitasnya, membuat para petani sangat khawatir.
Saat ini, harga beras Taiwan berkisar di angka NT$40 hingga NT$50 per kg, tetapi beras AS sekitar 30%-40% lebih murah. Jika tarif benar-benar dihapuskan dan pasar dibuka sepenuhnya di masa depan, petani khawatir akan menghadapi tiga pukulan sekaligus, yakni anjloknya harga beras, pengangguran, dan kehancuran sektor pertanian!
Sejauh mata memandang, hamparan hijau membentang luas. Di seluruh distrik Houbi, Tainan, pemandangan ini dapat dilihat di mana-mana, karena daerah ini terkenal dengan produksi beras berkualitas tinggi.
Lin Yi-hsin (林怡歆), Direktur Jenderal Asosiasi Petani Distrik Houbi, Tainan mengatakan, "Kami memiliki 3.200 hektar sawah padi, dan setiap 5-6 orang, satu di antaranya bekerja di sektor pertanian."
Distrik Houbi di Tainan merupakan lumbung beras penting Taiwan, dengan sebagian besar penduduk setempat terlibat dalam industri pertanian terkait. Namun, menanggapi kebijakan baru tarif timbal balik AS, kemungkinan negosiasi perdagangan dengan tarif nol bilateral di masa depan telah memicu protes dari para petani.
"Harga jual mereka (beras AS) adalah NT$25 per kilogram, sementara Taiwan sekitar NT$40 hingga NT$50 per kilogram. Jika beras AS membanjiri pasar, harga gabah kami bisa turun hingga setengahnya," tambah Lin Yi-hsin.
Salah seorang petani di Distrik Houbi, Tsai Chih-jen (蔡志仁), mengatakan, "Dengan masuknya beras AS, kami benar-benar tidak bisa bersaing. Kami sudah tidak mampu menanggung biaya produksi. Mereka masuk dengan harga NT$20-an per kilogram, kami sama sekali tidak bisa bersaing. Kalau tidak bertani, bagaimana kami bisa hidup."
Jika di masa depan pasar dibuka sepenuhnya dan beras AS diimpor secara massal ke Taiwan, dari segi harga, setiap kilogram akan 30% hingga 40% lebih murah dibandingkan beras Taiwan. Jika beredar di pasar, perang harga ini akan berdampak pada beras produksi dalam negeri.
Salah seorang petani muda di Distrik Houbi, Lien Chi-hun (連啟宏) mengatakan, "Hal ini akan menimbulkan masalah bagi kehidupan kami. Dalam skenario terburuk, kami harus berhenti bertani. Untuk anak-anak di rumah, kita pikirkan solusinya nanti saat menghadapinya. Tidak ada gunanya terlalu banyak berpikir sekarang."
Mereka mungkin menghadapi tiga pukulan sekaligus, meliputi anjloknya harga, pengangguran, dan kehancuran pertanian. Mereka berharap pemerintah dapat mendengar suara mereka dan tidak membiarkan kebijakan mempengaruhi mata pencaharian mereka.






