JAWABAN TAIWAN ATAS KELUHAN TRUMP SOAL DOMINASI CHIP
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluhkan dominasi Taiwan dalam industri chip semikonduktor. Menurutnya, industri yang kompleks ini seharusnya tidak dikendalikan oleh satu negara saja dan membutuhkan kerja sama global. Trump juga menegaskan keinginannya untuk membawa kembali manufaktur chip ke Amerika Serikat guna memulihkan industri tersebut di negaranya.
Menanggapi pernyataan ini, Kepala Dewan Sains dan Teknologi Nasional Taiwan, Wu Cheng-wen, memberikan pandangannya. Meskipun tidak menyebut nama Trump secara langsung, ia menegaskan kembali pernyataan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, yang menekankan bahwa Taiwan adalah mitra tepercaya dalam rantai pasokan semikonduktor global yang berbasis pada demokrasi.
Wu menjelaskan bahwa kesuksesan industri semikonduktor Taiwan bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah atau diambil dari negara lain. Taiwan telah berinvestasi dalam industri ini sejak tahun 1970-an, termasuk mendukung pendirian TSMC pada tahun 1987, yang kini menjadi produsen chip kontrak terbesar di dunia. Keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras selama lebih dari 50 tahun.
Ia juga menyoroti bahwa setiap negara memiliki keunggulan tersendiri dalam industri chip. Jepang unggul dalam produksi bahan kimia dan peralatan, sementara Amerika Serikat tidak tertandingi dalam desain dan pengembangan sistem inovatif. Karena industri ini sangat kompleks dan membutuhkan pembagian kerja yang spesifik, tidak perlu ada satu negara yang sepenuhnya menguasai atau memonopoli seluruh teknologi semikonduktor.
Wu menambahkan, Taiwan siap berperan sebagai pusat dalam mendukung sahabat negara-negara demokratis untuk berkontribusi sesuai keunggulan masing-masing dalam rantai pasokan semikonduktor global.
![]()
(foto AA.com)
SEMIKONDUKTOR JADI PENENTU SKALA GLOBAL, BISAKAH JADI RUANG AMAN TAIWAN?
Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam industri semikonduktor semakin ketat, dengan Taiwan berada di pusatnya. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memainkan peran penting dalam memasok chip canggih untuk berbagai teknologi, mulai dari smartphone hingga sistem militer. Dominasi Taiwan dalam industri ini disebut sebagai “Silicon Shield”, yang diyakini dapat melindungi Taiwan dari ancaman Tiongkok karena perannya yang vital dalam rantai pasokan global.
Namun, posisi ini juga membawa risiko. Jika produksi chip Taiwan terganggu, ekonomi dunia bisa mengalami dampak besar, yang dapat mendorong negara-negara besar seperti Amerika Serikat untuk melindunginya. Di sisi lain, keunggulan ini juga bisa meningkatkan tekanan dari berbagai pihak—Tiongkok mungkin ingin menguasainya, sementara Amerika Serikat mendesak Taiwan untuk mendiversifikasi produksinya ke negara lain.
Untuk menghadapi tantangan ini, konsep “Silicon Shield 2.0” diusulkan oleh peneliti Wu-Jieh Min dari Academia Sinica. Strategi ini bertujuan memperkuat posisi Taiwan dengan memperluas jaringannya dalam rantai pasokan global, termasuk melalui investasi di luar negeri seperti di AS, Jepang, dan Jerman. Alih-alih melemahkan Taiwan, langkah ini justru meningkatkan pengaruhnya dalam ekonomi dunia dan mempererat hubungan dengan negara-negara demokratis.
Meski ada kekhawatiran bahwa Taiwan hanya menjadi alat bagi negara lain, keberhasilan industri semikonduktor Taiwan tidak lepas dari kerja keras para insinyurnya. Taiwan telah lama bekerja sama dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk membangun teknologi manufaktur kelas dunia. Dengan memperluas perannya dalam keamanan ekonomi global, Taiwan dapat memastikan posisinya tetap kuat di tengah ketidakstabilan geopolitik.
Silicon Shield bukan hanya soal Taiwan, tetapi juga isu global. Untuk menjaga stabilitas industri semikonduktor, Taiwan perlu terus mengembangkan strategi jangka panjang yang melibatkan kerja sama internasional. Silicon Shield 2.0 menawarkan solusi dengan memperdalam hubungan Taiwan dengan komunitas demokratis dunia, memastikan keamanan rantai pasokan semikonduktor, dan menjaga stabilitas ekonomi global.
![]()
(foto: cadal.org)
STASIUN PENELITIAN TAIWAN LUNCURKAN MESIN PEMBERSIH HAMA SRIKAYA
Stasiun penelitian pertanian di Taiwan timur, Rabu (19/2) mengumumkan mereka telah mengembangkan mesin pembersih buah atemoya yang dapat memproses 3,3 kali lebih cepat dibanding tenaga manusia dan menghilangkan kutu putih, meningkatkan daya saing ekspor yang sempat terhambat akibat hama tersebut.
Pada 2021, Tiongkok sempat melarang impor atemoya -- buah hasil kawin silang antara manoa dan srikaya -- Taiwan karena mendeteksi adanya kutu putih. Saat ini, ekspor ke sana telah dibuka kembali tetapi hanya untuk kebun dan fasilitas pengemasan tertentu yang telah disertifikasi.
Direktur Stasiun Penelitian dan Penyuluhan Pertanian Distrik Taitung (TTDARES), Chen Hsin-yen (陳信言), mengatakan bahwa kutu putih berukuran sangat kecil, dengan telur seukuran ujung jarum dan bentuk dewasanya sekecil setengah butir beras, sehingga pembersihan manual sangat sulit dan memakan waktu.
Mesin baru ini, kata Chen, telah diperbarui dengan cakar penjepit buah yang lebih stabil, sehingga mampu menangani berbagai bentuk buah, termasuk yang bentuknya tidak sempurna.
Mesin ini juga dapat beroperasi secara terus-menerus, membersihkan lebih dari 1.200 buah per jam, yang membuat kebutuhan akan pekerja manual berkurang dari sepuluh menjadi tiga orang, membuatnya 3,3 kali lebih cepat, menurutnya.
Selain membersihkan hama, kata Chen, mesin ini juga meningkatkan standar kebersihan dengan menambahkan proses penyemprotan larutan natrium hipoklorit untuk sterilisasi setelah pencucian air dan udara bertekanan.
Saat ini, sekitar 30 fasilitas pengemasan di Kabupaten Taitung masih menggunakan tenaga manual, tetapi setelah mengetahui inovasi ini, salah satu perusahaan pengemasan di sana telah menyatakan minat untuk membelinya, imbuhnya.
Menurut peneliti senior TTDARES, Huang Jheng-long (黃政龍), satu perusahaan telah berminat untuk memproduksi mesin ini secara massal dengan perkiraan harga NT$1,8 juta (Rp897,95 juta).
Jika tidak ada kendala, mesin ini diperkirakan mulai digunakan untuk pembersihan buah pada akhir tahun ini, ujarnya.

(foto: CNA)
INSTAGRAM LUNCURKAN FITUR BARU DI TAIWAN UNTUK LINDUNGI PENGGUNA REMAJA
Instagram meluncurkan fitur baru di Taiwan pada hari Selasa yang diklaim oleh perusahaan induknya, Meta, dapat melindungi pengguna remaja.
Dalam siaran pers, Meta menyatakan bahwa fitur ini akan secara otomatis membatasi beberapa fungsi akun bagi pengguna di bawah 17 tahun di Taiwan. Dengan fitur baru yang disebut “Akun Remaja”, pengguna dalam kategori ini harus menyetujui pengikut baru, dan orang yang tidak mengikuti mereka tidak akan bisa melihat unggahan mereka.
Selain itu, aplikasi ini akan memperketat pembatasan dalam perpesanan dan konten sensitif. Meta menjelaskan bahwa Instagram juga akan memberi peringatan kepada pengguna akun remaja jika mereka telah menggunakan aplikasi lebih dari satu jam per hari, serta secara otomatis menonaktifkan notifikasi antara pukul 22.00 hingga 07.00.
Meta menyebutkan bahwa konten sensitif yang akan dibatasi meliputi adegan perkelahian atau promosi prosedur kosmetik. Selain itu, Instagram juga akan membatasi akses remaja terhadap konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan gangguan makan.
Pengguna dapat menghapus pembatasan ini dengan izin orang tua. Meta menjelaskan bahwa untuk menghapus pembatasan tersebut, pengguna remaja harus terlebih dahulu mengundang akun Instagram orang tua mereka untuk memantau aktivitas mereka.
Seorang juru bicara Meta yang berbasis di Singapura mengatakan kepada Taiwan News pada hari Rabu bahwa pembaruan akun remaja ini sedang diluncurkan secara bertahap di Taiwan, sehingga beberapa pengguna mungkin belum mendapatkannya. Namun, Meta tidak memberikan perkiraan waktu kapan fitur ini akan tersedia sepenuhnya.
Menurut laporan DataReportal, pada awal 2024, Instagram memiliki 11,35 juta pengguna di Taiwan, meskipun Meta tidak mengungkapkan jumlah spesifik pengguna berusia 13-17 tahun.
Meta pertama kali mengumumkan fitur Akun Remaja pada bulan September 2023, dengan rencana peluncuran di AS, Inggris, Kanada, dan Australia dalam dua bulan pertama. Pengguna di Uni Eropa menerima pembaruan sebelum akhir 2023, sementara negara lain, termasuk Taiwan, mulai mendapatkan fitur ini pada Januari 2024.
Meta juga menyatakan bahwa pembaruan serupa akan diterapkan pada platform lain miliknya, seperti Facebook dan Threads, sepanjang tahun ini.

(foto: META)
PENDAFTARAN COMPUTEX TAIPEI PADA MEI MENDATANG TELAH DIBUKA!
Pameran Artificial Intelligence of Things (AIoT) COMPUTEX akan kembali digelar di Taipei Nangang Exhibition Center pada 20-23 Mei, dan pendaftarannya kini telah dibuka.
Tahun ini, COMPUTEX mengusung tema “AI Next”, dengan fokus pada AI & robotika, teknologi generasi mendatang, dan mobilitas masa depan, menurut siaran pers resmi. Acara ini akan menghadirkan hampir 1.400 perusahaan teknologi terkemuka dari seluruh dunia, termasuk Asus, Acer, dan MSI. Produsen elektronik besar seperti Foxconn dan Pegatron juga akan berpartisipasi.
Dengan 4.800 stan yang tersebar di area seluas 80.000 meter persegi, perusahaan akan memamerkan teknologi terbaru mereka kepada audiens global yang terdiri dari pakar industri, pemodal ventura, dan media internasional. Tahun ini, COMPUTEX juga menghadirkan area pameran baru, termasuk teknologi layanan AI, robotika, dan zona gaming.
COMPUTEX juga akan menawarkan berbagai kesempatan jaringan dan kolaborasi, termasuk acara pencocokan bisnis (business matchmaking), tur berpemandu, inisiatif keberlanjutan, dan kompetisi presentasi startup.
Selain itu, COMPUTEX Keynote dan Forum akan kembali menghadirkan pemimpin industri AI dari sektor rantai pasokan dan aplikasi, memberikan wawasan tentang industri dan tren masa depan.
Platform startup InnoVEX juga akan menjadi bagian dari acara ini, mempertemukan startup global, investor, dan akselerator untuk mendorong kolaborasi dan inovasi. Sebagai platform utama, InnoVEX akan memfasilitasi jejaring bisnis, peluang pendanaan, serta pertukaran ide-ide inovatif, memberikan energi baru bagi ekosistem teknologi global.
Pendaftaran online kini tersedia, dan para profesional industri dari seluruh dunia didorong untuk mendaftar guna menghadiri acara bergengsi ini.

(foto: Commonwealth)
PENULIS TAIWAN, LI CHIAO
Li Chiao (李喬), lahir pada 15 Juni 1934, adalah seorang novelis dan kritikus budaya asal Taiwan. Ia dikenal sebagai penulis keturunan Hakka dari Kabupaten Miaoli. Debutnya dimulai pada tahun 1962 dengan cerita pendek Uncle Amei dan kemudian memenangkan penghargaan untuk cerita pendek Bitter Water Pit pada tahun 1963. Pada tahun 1980, ia menerbitkan trilogi Wintry Night, yang menggambarkan tiga generasi sebuah keluarga dalam konteks sejarah penjajahan Jepang dan peperangan di Taiwan.
Li Chiao juga aktif dalam melestarikan budaya Hakka di Taiwan dengan mendirikan Miaoli Hakka Cultural Radio Station. Dalam menulis, ia sering mengeksplorasi tema tentang kerentanannya hidup, ketidakberdayaan, dan penderitaan dalam kehidupan manusia, dengan gaya realistis yang kuat. Ia menganggap trilogi Wintry Night sebagai karya terpentingnya yang menggambarkan penderitaan bangsa Taiwan dan ikatan mereka terhadap tanah air.
Selain karya fiksinya, Li juga menulis esai dan prosa. Ia mempelajari sastra Tiongkok dan filsafat Barat, yang memengaruhi tulisan-tulisannya yang sering terinspirasi oleh ide-ide filsafat Buddha. Li menggambarkan kehidupannya yang sederhana dengan ayah yang terlibat dalam gerakan sosial dan ibu yang menjadi figur penting dalam hidupnya.
Karya Li yang lain, Buried Grief: 1947 (埋冤・1947・埋冤), membahas pembantaian 28 Februari 1947, sebuah peristiwa tragis dalam sejarah Taiwan yang sebelumnya disembunyikan oleh rezim otoriter Kuomintang. Melalui penelitian mendalam, Li mengungkapkan ketidakakuratan sejarah dan menyajikan gambaran lengkap tentang peristiwa tersebut, yang ia anggap sebagai utang yang harus dibayar untuk tanah airnya.
Pada tahun 1995, setelah lebih dari satu dekade penelitian, Li menerbitkan Buried Grief sebagai bagian dari misinya untuk memperbaiki narasi sejarah dan menghormati mereka yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Ia melihat karyanya sebagai bentuk pengabdian terhadap Taiwan.

(foto: hakkanews.tw)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
