Di Mana 820 Ribu Pekerja Migran? Sektor Industri dan Perawat Rumah Tangga Mendominasi
Berdasarkan statistik Kementerian Tenaga Kerja Taiwan, hingga akhir Januari 2025, jumlah pekerja migran di Taiwan telah mencapai 818.467 orang. Dari jumlah tersebut, 568.308 orang bekerja di sektor industri, sementara 250.159 orang bekerja di sektor kesejahteraan sosial. Pekerja migran tersebar di 28 kategori pekerjaan dan telah menjadi kekuatan penting dalam menopang perekonomian dan kehidupan sosial Taiwan. Selain itu, industri terus mendorong pemerintah untuk membuka lebih banyak peluang dan meningkatkan perekrutan pekerja migran.
Dengan tren angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua, pekerjaan berat di berbagai sektor kini banyak ditangani oleh pekerja migran. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja Taiwan hingga akhir Januari 2025, pekerja migran di Taiwan didominasi oleh tenaga kerja asal Indonesia yang berjumlah lebih dari 300.000 orang (37,2%), diikuti oleh pekerja asal Vietnam sebanyak 281.000 orang (34,4%). Peringkat ketiga ditempati oleh pekerja Filipina sebanyak 160.000 orang (hampir 20%), sedangkan pekerja asal Thailand hanya berjumlah 72.000 orang (8,8%).
Di sektor industri, pekerja migran umumnya bekerja di bidang manufaktur, konstruksi, serta pertanian, kehutanan, perikanan, dan peternakan. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor industri, pekerja migran banyak ditempatkan di pekerjaan 3K (berbahaya, berat, dan kotor) serta proyek infrastruktur utama pemerintah, dengan jumlah masing-masing mencapai 353.424 dan 22.518 orang. Selain itu, sektor industri yang menerapkan sistem tambahan dengan “pembayaran tambahan kepada pemerintah” memiliki 136.735 pekerja migran.
Sementara itu, di sektor kesejahteraan sosial, mayoritas pekerja migran bekerja sebagai perawat rumah tangga. Hingga akhir Januari, jumlah perawat rumah tangga mencapai 228.448 orang, sedangkan jumlah perawat di lembaga perawatan hanya 19.424 orang, atau sekitar 8,5% dari total perawat rumah tangga.

(foto: Canva)
Pekerja Migran Mencapai 5,55% dari Jumlah Pekerja Taiwan, Proporsinya Terus Meningkat
Apakah peningkatan jumlah pekerja migran mengancam lapangan kerja penduduk lokal? Menurut laporan Kementerian Tenaga Kerja Taiwan pada November 2024, pekerja migran di sektor industri mencakup 4,57% dari total tenaga kerja di Taiwan (total pekerja migran dan lokal) dan 5,55% dari jumlah pekerja lokal.
Jika dibandingkan dengan data 10 tahun terakhir, proporsi pekerja migran terus meningkat. Persentase pekerja migran industri terhadap total tenaga kerja meningkat dari 3,08% pada 2015 menjadi 4,15% pada 2022, dan mencapai 4,57% pada November 2024. Proporsi pekerja migran industri terhadap jumlah pekerja lokal juga meningkat dari 3,85% pada 2015, melewati 4% pada 2016, mencapai 5,10% pada 2022, dan naik menjadi 5,55% pada November 2024.
Di sektor manufaktur, pekerja migran mencakup 15,38% dari jumlah pekerja lokal, sementara di sektor konstruksi mencapai 4,25%. Dalam sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan peternakan, pekerja migran mencapai 19,49% dari tenaga kerja lokal. Untuk sektor kesejahteraan sosial, pekerja migran di lembaga perawatan mencakup 3,51% dari jumlah tenaga kerja lokal di industri layanan kesehatan dan sosial. Sementara itu, pekerja migran sebagai perawat rumah tangga mencakup 40,32% dari jumlah tenaga kerja lokal di sektor layanan lainnya.
Kementerian Tenaga Kerja Taiwan menjelaskan bahwa saat ini hanya pekerjaan "perawatan fisik" dalam industri layanan kesehatan yang diperbolehkan untuk diisi oleh pekerja migran. Dengan menganalisis persentase pekerja migran dalam berbagai sektor layanan, termasuk pekerjaan dengan keterampilan tinggi, menengah, rendah, maupun tanpa keterampilan, pemerintah dapat menilai dampak pekerja migran terhadap lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal.
Kehadiran pekerja migran di sektor perawatan rumah tangga lebih memengaruhi peluang kerja tenaga kerja lokal di berbagai layanan domestic, dibandingkan pekerja migran yang bekerja di lembaga perawatan terhadap tenaga medis dan pekerja sosial lokal.

(foto: Canva)
Kapal Nelayan Terbakar di Lepas Pantai Pulau Pengjia, 2 Orang Hilang, 5 ABK Selamat
Kapal nelayan "San Xie Shun 26" yang terdaftar di Pelabuhan Huanggang, Distrik Jinshan, Kota New Taipei, berangkat untuk melaut pada tengah malam tanggal 26 bulan lalu. Namun, pada 2 Maret sore, kapal tersebut dilaporkan terbakar di perairan sekitar 90 mil laut timur laut Pulau Pengjia.
Menurut laporan dari lokasi kejadian, terdapat 7 orang di atas kapal, di mana 5 anak buah kapal (ABK) berhasil diselamatkan, sementara seorang ABK asal Indonesia dan kapten bermarga Jian masih belum ditemukan. Penjaga Pantai Taiwan telah mengirimkan kapal penyelamat, yang tiba di lokasi pada pukul 01.00 dini hari hari ini (3 Maret) untuk melakukan operasi penyelamatan.
Menurut informasi awal dari petugas Penjaga Pantai, kapal tersebut membawa 6 ABK asal Indonesia dan dinakhodai oleh kapten bermarga Jian untuk menangkap ikan di laut lepas. Pada 2 Maret sore, kapal lain yang berada di sekitar lokasi melihat kapal tersebut terbakar. Lima ABK Indonesia yang berhasil diselamatkan mengalami luka bakar dan melepuh di beberapa bagian tubuh mereka, sementara kapten berusia 41 tahun dan satu ABK Indonesia lainnya masih hilang.
Menurut laporan dari saksi mata, kebakaran diduga berasal dari ruang mesin sebelum api menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerusakan parah pada kapal.
Saat ini, Penjaga Pantai Taiwan telah mengerahkan beberapa kapal penyelamat, termasuk kapal "Wanli" dari Tim Patroli Laut Wilayah Utara, serta kapal PP-10069 dan PP-10090 dari Tim Penjaga Pantai Keelung, serta kapal PP-3558 dari Tim Penjaga Pantai Aodi, yang turut membantu melakukan operasi penyelamatan.

(foto: CGA via CNA)
Wawancara
Jason Wijaya – Konten Kreator & Edukator Bahasa Mandarin (bag.1)
Jason Wijaya adalah seorang konten kreator asal Indonesia yang berfokus pada edukasi bahasa Mandarin. Perjalanannya di Taiwan bermula dari dorongan sang kakek yang menyarankannya untuk belajar bahasa Mandarin di sini. Awalnya, Jason ragu, tapi siapa sangka, ia malah jatuh cinta pada Taiwan dan menikmati pendidikannya di sini.
Selama di Taiwan, Jason memperkaya pengalamannya dengan bekerja di sebuah media berbahasa Indonesia serta di perusahaan tur, yang memberinya wawasan lebih dalam tentang budaya dan kehidupan masyarakat Taiwan. Namun, kecintaannya terhadap dunia pendidikan membuatnya memilih untuk fokus menjadi konten kreator, dengan tujuan membantu lebih banyak orang belajar bahasa Mandarin dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Kini, Jason aktif berbagi materi pembelajaran bahasa Mandarin melalui berbagai platform digital, seperti TikTok dan Instagram, menginspirasi banyak orang agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi dalam bahasa Mandarin.
Bagaimana kisah perjalanannya ketika berada di Taiwan? Yuk langsung dengarkan di acara ini.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
