STI Kembangkan AI untuk Mengurangi Insiden Lalu Lintas
Institut Teknologi Perangkat Lunak (STI), sebuah unit penelitian dari Institut Industri Informasi (III) yang disponsori pemerintah, berhasil menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi berbagai jenis pelanggaran lalu lintas, yang membantu mengurangi insiden lalu lintas di Taichung hingga 39%.
Berdasarkan data dari Kementerian Transportasi, Taiwan memiliki 8,68 juta mobil terdaftar dan 14,65 juta sepeda motor terdaftar.Kombinasi mobil dan sepeda motor memperumit situasi lalu lintas dan sering menyebabkan insiden, kata Direktur Jenderal STI, Meng Yi-xiang (蒙以亨) pada 23 Februari.
Tujuan dari pengembangan sistem perlindungan keselamatan transportasi yang menggunakan teknologi pengenalan gambar berbasis AI adalah untuk membuat jalan lebih aman, ujar Meng. Teknologi ini tidak hanya akan membantu pengembangan teknologi berkendara pintar, tetapi juga mengidentifikasi lokasi yang sering terjadi insiden lalu lintas, tambahnya.
“Kunci dalam pengembangan teknologi AI adalah data... Kami menggunakan 4 juta data yang tercatat dalam basis data Sardina untuk melatih model pengenalan gambar berbasis AI. Kami juga terus meningkatkan akurasi model ini,” ujarnya.
Namun, tantangannya adalah bagaimana menggunakan teknologi pengenalan gambar berbasis AI dalam kondisi cuaca hujan dan berkabut, tambahnya.
Sistem ini pertama kali diuji di kampus dan kemudian menjalani uji coba di Keelung, New Taipei City, Taichung, dan Kaohsiung, dengan tingkat akurasi pengenalan mencapai 96%, menurut keterangan STI.
Pelanggaran lalu lintas yang paling umum termasuk putar balik ilegal, menerobos lampu merah, dan belok kanan yang tidak sah, kata tim peneliti STI.
Teknologi AI memungkinkan pemantauan lalu lintas sepanjang waktu dan meningkatkan efisiensi penempatan personel penegak hukum, ujar Meng, seraya menambahkan bahwa sistem ini membantu mengurangi insiden lalu lintas di Taichung hingga 39%.
STI berencana untuk memperkenalkan sistem evaluasi AI langsung pada perangkat guna menilai akurasi sistem pengenalan gambar yang dikembangkan oleh berbagai kontraktor.
Jadi, sebelum kontraktor (perusahaan pengembang teknologi) bisa ikut serta dalam proyek penegakan hukum berbasis teknologi di seluruh negeri, sistem AI ini akan digunakan untuk menguji seberapa akurat teknologi pengenalan gambar mereka.
Dengan kata lain, pemerintah ingin memastikan bahwa hanya teknologi yang benar-benar akurat dan andal yang akan digunakan dalam proyek penegakan hukum berbasis AI.

(foto: Canva)
Jumlah Penerbitan Gold Card Melampaui 12.000, Bidang Ekonomi Terbanyak, Disusul Teknologi
Dalam menghadapi kemajuan teknologi yang pesat, sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya saing nasional. Dewan Pembangunan Nasional (NDC) meluncurkan Gold Card sebagai insentif untuk menarik lebih banyak talenta luar negeri agar menetap di Taiwan.
Menurut statistik, hingga akhir tahun 2024, jumlah penerbitan Gold Card telah melampaui 12.000, mencapai 12.082 orang, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 34,8%. Jika dilihat berdasarkan bidang, bidang ekonomi menduduki peringkat pertama, disusul oleh bidang teknologi.
Untuk memperkuat upaya menarik tenaga profesional asing, NDC menyederhanakan prosedur pengajuan izin kerja dan izin tinggal, serta meningkatkan insentif bagi tenaga kerja asing agar tetap tinggal di Taiwan. Hal ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai kementerian terkait dalam menerapkan Undang-Undang Perekrutan dan Pekerjaan Tenaga Profesional Asing, salah satunya dengan menghadirkan kebijakan Gold Card.
Gold Card mulai diberlakukan pada 8 Februari 2018. Kartu ini menggabungkan izin kerja, visa tinggal, izin tinggal asing, dan izin masuk kembali dalam satu dokumen. Selama masa berlaku, pemegang kartu yang memenuhi syarat dapat dengan bebas mencari pekerjaan, bekerja, dan berpindah tempat kerja dengan lebih mudah.
Dengan kebijakan yang terus berkembang, jumlah penerbitan Gold Card terus meningkat secara stabil. Hingga akhir Mei 2022, jumlah penerbitan melampaui 5.000, mencapai 5.140 orang. Kemudian, pada akhir Mei 2024, jumlahnya menembus angka 10.000, mencapai 10.198 orang.
Berdasarkan data terbaru dari NDC, hingga akhir Desember 2024, total penerbitan Kartu Emas Ketenagakerjaan mencapai 12.082, dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 30%.
Jika ditinjau berdasarkan bidang, bidang ekonomi memiliki jumlah pemegang terbanyak, mencapai 46% dari total penerbitan. Disusul oleh bidang teknologi sebesar 18%, kemudian pendidikan 15%, keuangan 6%, budaya dan seni 6%, serta digital 6%.
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan negara asal pemegang kartu, Amerika Serikat menempati peringkat pertama dengan 25%, diikuti Hong Kong sebesar 12%, dan Jepang di peringkat ketiga dengan 8%. Selain itu, terdapat pula banyak pemegang kartu dari India, Inggris, Singapura, dan Kanada.
Di tengah persaingan global untuk menarik talenta, pemerintah Taiwan terus memperkuat kebijakan perekrutan tenaga kerja asing. Dengan dimulainya sidang baru di Yuan Legislatif, Kabinet Eksekutif juga akan memprioritaskan revisi Undang-Undang Perekrutan dan Pekerjaan Tenaga Profesional Asing guna mendukung pengembangan industri di Taiwan.

(foto: NDC Website)
Kementerian Urusan Digital Taiwan Luncurkan Dompet Digital, Rencanakan Uji Coba pada Desember
Kementerian Urusan Digital (MODA) Taiwan tengah mengembangkan dompet digital dan sedang bernegosiasi dengan berbagai kementerian untuk mengintegrasikan informasi seperti Citizen Digital Certificate (CDC), Sertifikat Bisnis dari Kementerian Ekonomi, serta SIM dari Kementerian Transportasi. Mereka juga mengundang pelaku industri swasta untuk bergabung, dengan harapan agar selain sektor perbankan dan asuransi, pengecer swalayan juga ikut serta dalam proyek ini, dengan rencana uji coba pada Desember tahun ini.
Dompet fisik pribadi biasanya menyimpan dokumen seperti kartu identitas dan kartu asuransi kesehatan yang perlu ditunjukkan jika diperlukan. Namun, dalam praktiknya, hal ini dapat mengungkapkan informasi pribadi yang tidak perlu. Konsep dompet digital mirip dengan dompet fisik, berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan berbagai identifikasi digital. Jika dompet digital berhasil mengintegrasikan kartu identitas digital dan kartu asuransi kesehatan, maka membawa ponsel saat keluar rumah akan setara dengan membawa dompet fisik yang berisi dokumen-dokumen tersebut.
Direktur Divisi Digital Internasional MODA Zhuang Ying-zhi (莊盈志) menjelaskan, untuk membangun kepercayaan masyarakat, kode program yang dikembangkan akan dipublikasikan secara lengkap, agar publik dapat mengetahui dua hal: pertama, bahwa proses dompet digital tidak melanggar hak asasi manusia; kedua, bahwa proses pengembangan telah melalui uji keamanan yang ketat dan pemeriksaan celah. Kemudian, setelah kode dipublikasikan, komunitas teknis dan publik dapat memeriksa serta memperbaiki masalah jika ada, menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Menanggapi pertanyaan apakah ini akan meningkatkan potensi serangan hacker, Zhuang mengatakan bahwa jika hacker dapat menembus sistem, itu berarti ada celah keamanan yang sudah diketahui oleh hacker, dan lebih baik membuka kode tersebut untuk mendapatkan kepercayaan publik serta melibatkan banyak pihak untuk memperkuat keamanannya.
MODA juga mengundang lebih banyak perusahaan swasta untuk bergabung dan memperluas aplikasi dompet digital. Industri perbankan telah memberikan respons positif karena dokumen dalam dompet digital dikeluarkan oleh pemerintah, yang akan membantu mengurangi beban verifikasi pelanggan (KYC) bagi para pelaku industri.
Selain itu, Zhuang menyoroti bahwa belanja online sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan saat mengambil barang di toko swalayan, pelanggan harus menunjukkan identitas. Jika mereka juga perlu mengumpulkan poin anggota atau memverifikasi nomor telepon, ini bisa menimbulkan risiko kebocoran data pribadi. Oleh karena itu, jika dompet digital bisa digunakan untuk verifikasi identitas saat mengambil barang di swalayan, ini akan sangat memudahkan pelanggan. MODA berencana untuk bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan hal ini.
Berdasarkan jadwal pengembangan, dompet digital akan diuji dalam uji coba sandbox pada pertengahan Maret dan diharapkan dapat diluncurkan pada Desember.
Proyek Infrastruktur Kunci Inovasi Digital yang digagas oleh MODA bertujuan untuk mengembangkan sistem verifikasi terdesentralisasi dan otorisasi (dompet digital). Proyek ini dijadwalkan untuk dilaksanakan antara 2024 hingga 2027, dengan kontrak utama untuk pembangunan sistem diberikan kepada Chunghwa Telecom.
Zhuang menyatakan bahwa biaya awal proyek ini cukup besar, dengan pengeluaran sekitar NT$ 100 juta pada tahun lalu dan diperkirakan beberapa puluh juta pada tahun ini. Meskipun ada masalah terkait pemotongan anggaran di legislatif, Zhuang berharap jika dana yang cukup tersedia, proyek ini dapat berjalan lancar. Ia juga menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya dilakukan di Taiwan, tetapi juga di negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Australia. Taiwan berharap dapat terhubung dengan sistem internasional, sehingga perkembangan digital di Taiwan tetap sejalan dengan tren global.

(foto: UDN)
Tsai Wen-shiung - Pengusaha Taiwan di Indonesia Wujudkan Impian Budidaya Ikan Laut Ramah Lingkungan
Tsai Wen-shiung pertama kali menjajaki dunia usaha di Indonesia pada tahun 1986. Ia mencetus Lucky Samudra pada tahun 2011 dan berhasil mendapatkan sertifikat budidaya organik AquaGAP dari Institute for Marketecology (IMO) Swiss. Tidak hanya menjadi orang pertama di Indonesia yang berhasil mendapatkan sertifikat tersebut, namun Tsai Wen-shiung juga berhasil mewujudkan impian budidaya perikanan yang alami, sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Keluarga Tsai Wen-shiung berlatar belakang usaha tambak. Jika menelusuri lebih jauh ke masa saat Koxinga berhasil mendarat lewat pelabuhan kecil di Lacquymoy, Tainan, kala itu keluarga Tsai ditunjuk sebagai penjaga pos keamanan laut. Jaman dahulu hanya ada ultimatum militer tanpa bekal, sehingga leluhur Tsai memulai usaha tambak ikan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bertambak butuh benih, sementara saat itu benih ikan hanya dapat diperoleh di Daratan Tiongkok. Karena era itu belum maju, maka penduduk setempat hanya menggunakan bambu yang dilumuri dengan minyak Tung sebagai wadah untuk menaruh benih ikan.
Setelah tahun 1949, iklim politik antar selat berubah. Keluarga Tsai berpindah mencari benih ikan di Jepang, sembari belajar budidaya ikan yang baru di sana. Jepang mulai mementingkan perlindungan ekosistem di tahun 1960, 1980 an. Hal ini berlanjut dengan pengurangan lahan tambak di darat dan mulai mengembangkan pertambakan di atas laut. Sistim budidaya ikan di atas laut mengacu kepada pengembalian habitat ikan yang alami, tidak menggunakan senyawa non organik apapun dalam upaya pengembangannya. Prinsip budidaya yang menjamin keamanan untuk dikonsumsi oleh manusia adalah impian lama ayah Tsai Wen-shiung, dimana gagasan budidaya ini akhirnya berhasil diwujudkan oleh Tsai Wen-shiung.
Karena suhu iklim perairan Taiwan kerap menghadapi perubahan yang drastis, ditambah dengan kawasan perairan Barat yang datar dan kawasan perairan Timur yang terlampau terjal, membuat Tsai Wen-shiung memutuskan untuk memulai usahanya di luar negeri.
Usaha budidaya Tsai Wen-shiung pertama kali dilakukan di Sabah, Malaysia. Namun karena kondisi pasir tanah Malaysia termasuk tua dan kerap bertimbun sampah di atasnya usai hujan, menaikkan kandungan asam tanat dalam air. Kondisi air seperti demikian memudahkan perkembangan ganggang laut, sehingga mempengaruhi penyediaan oksigen dalam laut serta berefek negatif untuk budidaya laut yang ada. Selang 4 tahun kemudian, Tsai Wen-shiung akhirnya melepaskan usahanya.
Tsai Wen-shiung memutar lokasi usaha ke Indonesia pada tahun 1986. Ia menemukan bahwa industri perikanan Indonesia sangat bervariasi, bahkan masih belum perlu melakukan budidaya ikan. Saat itu jumlah kapal nelayan asal Taiwan yang menjala ikan di perairan Indonesia mencapai lebih dari 1.000 kapal. Tsai Wen-shiung memulai usaha barunya sebagai nelayan, dan menjala ikan tuna selama 15 tahun. Karena penjalaan hewan laut yang berlebihan, menyebabkan penurunan kualitas yang sangat dratis, dimana sebelumnya ikan tuna yang ditangkap mampu mencapai 55 kg per ekornya, namun telah menyusut menjadi 30 kg per ekornya. Hal inilah yang kembali membangkitkan impian yang dipendam lama, Budidaya Laut.
Pada tahun 2003, ia membeli setengah pulau di kawasan perairan Utara Jakarta dengan dana sebesar lebih dari US$ 900 ribu. Tsai memasang jala berbentuk kotak di sekitar perairan pulau dan mulai melakukan budidaya lautnya. Suhu rata-rata tahunan Indonesia sekitar 25°-30° Celcius, sementara suhu air sekitar 27°-30°, tanpa perlu mengkhawatirkan badai Taifun, Tsai menyebut bahwa perairan Indonesia sangat cocok untuk industri budidaya laut. Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi pulau untuk budidaya laut adalah kualitas air, arus laut dan kondisi geografis lainnya. Selain itu Tsai juga menitikberatkan efisiensi upaya pengadaan barang konsumen. Pulau kecilnya terletak dekat dengan Jakarta, terbentuk dari karang yang tumbuh menjorok ke atas laut, dimana kondisi ini menciptakan beda kedalaman air hanya cukup dengan selisih hitungan beberapa meter saja. Terhitung jarak 3 meter dari tepi pulau, maka kedalaman air laut telah menjadi 25 meter. Hal ini tentu akan sangat memudahkan proses pemberian makan, budidaya dan pengawasannya.
Bagian lain yang penting dalam budidaya laut adalah proses manajemen, antara lain: Rancangan sistim pemberian makan, pemeriksaan medis kesehatan dan pencegahan penyakit ikan, pendataan perkembangan hasil budidaya per kwartal, pembersihan jala ikan setiap selang 14 hari, dan pemantauan terhadap resiko yang berkemungkinan terjadi. Tsai Wen-shiung mengandaikan pemeliharan bibit ikan bagaikan mengasuh bayi yang harus dilakukan selama 24 jam sehari. Banyak jenis ikan yang termasuk binatang malam, sehingga pemberian makan juga dilakukan pada malam hari. Karena bibit ikan mudah terjangkit penyakit, maka pemberian makanan juga harus diatur secukupnya saja. Tsai menemukan bahwa ikan juga memiliki emosional khusus, sehingga perhatian yang diberikan oleh Tsai baru dapat memberikan hasil yang baik. Semua yang disebutkan Tsai, juga dapat ditemukan dalam berbagai laporan riset. Semua usaha dapat terus diperbaiki, demikian juga dengan dunia budidaya laut masa kini yang terus menumpuk pengetahuan baru.
Tsai Wen-shiung berpendapat bahwa budidaya laut di masa depan harus membutuhkan pengakuan dunia internasional, jika tidak maka hasil budidaya tidak dapat diekspor masuk ke pasar Eropa, Amerika, Jepang dan Australia. Untuk itu Tsai menggunakan sumber daya alam Indonesia yang kaya dan beragam, memadukannya dengan ilmu perikanan saat menjadi mahasiswa jurusan perikanan di National Taiwan Ocean University (NTOU), menciptakan sistim budidaya sealami mungkin dan ramah lingkungan. Perusahaan Lucky Samudra yang didirikannya, berhasil mendapatkan sertifikat pengakuan budidaya organik AquaGap dari Institute for Marketecology (IMO) Swiss. Tsai juga menjadi orang pertama di Indonesia yang berhasil meraih sertifikat pengakuan tersebut. Pabrik pengolahan makanan yang dimilikinya juga mengikuti standar sistim pengawasan keamanan makanan HACCP dan termasuk dalam kategori makanan baik GMP. Produk makanan hasil olahannya memiliki catatan informasi yang lengkap, agar mampu memberikan jaminan keamanan bagi para konsumen.
Adapun pasar utama untuk Perusahaan Lucky Samudra adalah Jepang dan Amerika. Hubungan yang terjalin lama dengan konsumen Jepang, turun menambah kepercayaan para koki setempat terhadap hasil produk Tsai Wen-shiung.
Tsai Wen-shiung kerap berbagi pengalaman tentang pasar besar Indonesia. Dengan berbekal sertifikat AquaGap, Tsai lebih percaya diri dalam mencoba membuka pasar Eropa.
Tren pasar masa depan adalah pabrik berbasis dunia dan mempunyai sertifikat pengakuan internasional.
Karena lahan di Taiwan kecil, banyaknya jumlah pengusaha budidaya lokasinya berdekatan, memudahkan penyebaran bibit penyakit dan lingkungan habitat sehat sulit untuk terjaga. Taiwan memiliki keunggulan teknologi budidaya dan sumber daya manusianya. Lengkap dengan sistim metode operasional budidaya, maka Taiwan hanya tinggal mencari lokasi pengembangan yang strategis dan baik saja.
Tsai Wen-shiung memberikan saran agar pemerintah dapat mendukung program pengembangan ilmu teknologi, sehingga mampu menciptakan hasil riset bibit ikan yang baik, efektif dalam pencegahan penyakit dan dapat berkembang dengan cepat. Dengan bibit yang baik seperti demikian, maka para pengusaha Taiwan juga bisa menggunakannya untuk membuka industri budidaya di perairan negara lain. Hal ini mengingat jumlah tenaga kerja yang banyak di negara lain, harga lahan yang lebih murah, keunggulan teknologi pengusaha Taiwan, maka dapat menciptakan sebuah rangkaian ekonomi yang baru, menghasilkan ikan yang baik dan aman untuk dimakan oleh pasar dunia.

(foto: Taiwan Panorama)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 

