History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jurnal Maria 週記Baca Buku貧困危機1 Krisis Kemiskinan1

  • 17 March, 2025

 Baca Buku讀書會 困危機1 Krisis Kemiskinan1

 

Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記, hari ini saya mengajak Anda baca buku yang ditulis pengarang Jepang Fujita Takanori berjudul Krisis Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

Topik ini terbagi menjadi 2 bagian tayangan di Jurnal Maria hari ini dan pekan mendatang.

Isu kemiskinan tidak bisa diabaikan, fenomena yang dipaparkan dalam buku ini, sebenarnya mirip dengan apa yang sedang dihadapi Taiwan. Dan mungkin juga Indonesia, meskipun berbeda. Nah. Teman-teman, mari kita simak buku ini.


貧困危機日本最底層社會

Judul Buku: Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang
 Penulis: Fujita Takanori

Dengan mengandalkan studi kasus yang mendetail dan data yang akurat, penulis Fujita Takanori menganalisis kenyataan pahit bahwa masyarakat Jepang kini telah sepenuhnya terjerumus ke dalam krisis kemiskinan.

Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia semakin mendekat dan mengepung, hingga saat seseorang menyadarinya, mungkin sudah terlambat untuk bergerak. — Fujita Takanori

Era di mana Jepang dikenal sebagai negara dengan "satu miliar penduduk kelas menengah" telah lama berlalu. Kini, yang muncul adalah zaman "seluruh rakyat berada di lapisan terbawah." Buku ini mengungkap bagaimana kemiskinan terus menyusup dan menyebar ke setiap generasi—mulai dari orang tua, anak muda, hingga anak-anak, tanpa memandang gender. Semua generasi kini berjuang dalam jerat kemiskinan, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Berdasarkan pengalamannya yang luas dalam menangani bantuan sosial, serta didukung oleh data dan studi kasus yang komprehensif, Fujita Takanori mengungkap kenyataan pahit bahwa Jepang sedang menghadapi krisis kemiskinan secara menyeluruh—sebuah isu yang selama ini sering diabaikan. Ia memperingatkan masyarakat agar tidak menutup mata terhadap permasalahan ini dan selalu bersiap untuk menghadapinya. Selain itu, buku ini juga mengkritisi kekurangan dalam kebijakan kesejahteraan yang ada, serta mencari solusi konkret guna membangun masyarakat yang mampu memberikan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkan.

 

Mari kita mengenal latar belakang penulisnya.

Fujita Takanori

Lahir pada tahun 1982, saat ini tinggal di Kota Koshigaya, Prefektur Saitama, Jepang. Meraih gelar magister dari Program Studi Antropologi Manusia, Luther Gakuin University, serta menjabat sebagai Asisten Profesor Tamu di Seigakuin University, khusus dalam bidang Kebijakan Bantuan Publik. Pada tahun 2013, ia menjadi anggota komite khusus dalam Dewan Jaminan Sosial Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Sebagai Ketua Perwakilan dari organisasi nirlaba Hotplus, Fujita juga aktif sebagai pekerja sosial, Perwakilan Prefektur Saitama untuk Jaringan Gotong Royong Anti-Kemiskinan, serta salah satu pemimpin proyek kontra-perusahaan eksploitasi (black company). Ia berfokus pada pemberian bantuan bagi masyarakat miskin di kawasan metropolitan Jepang, mengorganisir berbagai kegiatan terkait sistem jaminan sosial, serta mengajukan rekomendasi kebijakan.

Karya-karyanya meliputi:

  • Lansia Kelas Bawah: Dampak Runtuhnya Kehidupan Lansia Satu Miliar Penduduk
  • Lansia Kelas Bawah: Datangnya Masyarakat yang Semakin Letih
  • Generasi Kemiskinan: Anak Muda yang Terperangkap dalam Sistem Sosial

Mengenal isi sebuah buku, jalan tercepat adalah membaca Prakata sang penulis.

Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia semakin mendekat dan mengepung, hingga saat seseorang menyadarinya, mungkin sudah terlambat untuk bergerak. Hingga saat ini, saya telah membunyikan alarm melalui buku-buku saya sebelumnya dengan istilah seperti Lansia Kelas Bawah (Downstream Elderly) dan Era Kemiskinan (Era of Poverty).

Buku ini membahas bagaimana kemiskinan terus menyusup dan menyebar ke setiap generasi. Orang tua, anak muda, anak-anak—tanpa memandang gender—semuanya tengah berjuang dalam kemiskinan. Zaman seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Sesuai dengan judul buku ini, masyarakat saat ini sedang berada dalam kondisi yang dapat disebut sebagai krisis kemiskinan yang sangat serius.

Sebagai contoh, kemiskinan anak sering kali tidak terlihat secara kasatmata. Mereka memiliki perlengkapan sekolah, mendapatkan bantuan pembebasan biaya buku dari pemerintah, bahkan memiliki ponsel dan pakaian yang tampak layak. Namun, di balik itu, ada anak-anak yang tertinggal dalam pelajaran karena tidak mampu mengikuti kelas tambahan berbayar. Ketika mereka merasa terisolasi dari pergaulan teman-temannya, mereka pun kehilangan tempat di sekolah. Tidak mampu mengikuti ritme kelas, mereka akhirnya menghabiskan waktu di rumah, mencari teman bicara di dunia maya. Saat malam tiba, mereka hanya bisa mengganjal perut dengan makanan sisa dari supermarket atau nasi kotak dari toko serba ada.

Sementara itu, ibu mereka masih bekerja paruh waktu dan baru pulang larut malam. Pada masa lalu, di jam seperti itu, anak-anak seharusnya sudah terlelap dalam tidur. Penghasilan ibu yang minim sulit untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, sehingga mereka sangat bergantung pada diskon makanan di supermarket setelah jam kerja. Karena terlalu sibuk bekerja, ibu tidak tahu apa yang dilakukan anaknya ketika ia tidak di rumah. Akibatnya, anak-anak yang bernasib serupa mulai berkumpul dan bermain hingga larut malam tanpa ada yang peduli. Lama-kelamaan, mereka mulai merasa seolah-olah tidak ada seorang pun yang peduli terhadap mereka, seakan mereka tidak pernah ada.

Anak-anak seperti ini hidup di berbagai penjuru Jepang, dalam keheningan yang nyaris tak terlihat.

Untuk keluar dari kemiskinan, para remaja yang baru lulus SMA memilih melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah lulus, mereka berusaha mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan gaji yang layak. Namun, untuk membiayai kuliah dan kehidupan mereka selama di kampus, mereka harus bekerja paruh waktu di beberapa tempat sekaligus, dari pagi hingga larut malam, hampir tanpa waktu untuk tidur ataupun bersenang-senang.

Begitu mereka lulus dan melangkah keluar dari gerbang universitas, bahkan sebelum sempat merayakan kelulusan, mereka sudah terbebani oleh utang yang secara eufemistis disebut sebagai “beasiswa.” Karena terjerat utang, mereka tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan di perusahaan eksploitasi (black company), menghadapi tekanan besar dari atasan, serta menjalani kehidupan kerja yang penuh ketakutan dan penderitaan.

Para senior mereka di perusahaan, yang telah lama kelelahan secara fisik dan mental akibat jam kerja berlebihan serta tekanan dari atasan, satu per satu mulai mengundurkan diri. Bisa jadi, sebentar lagi giliran mereka. Saat mencoba mencari pekerjaan lain dengan harapan mendapatkan kondisi yang lebih baik, mereka menyadari bahwa di mana pun mereka bekerja, situasinya tetap sama. Tidak ada jalan keluar.

Di seluruh Jepang, ada banyak anak muda yang hampir hancur karena tekanan hidup dan kecemasan yang tiada henti.

 

 

Penyiar

Komentar