History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Humantek 200225: Kung Teh-cheng: Pewaris Terakhir Gelar Adipati Yansheng dan Penjaga Warisan Konfusius

  • 20 February, 2025
Humantek - RtiFM Online Kamis

Tim Jepang Tiru Lambung Sapi untuk Mengembangkan Perangkat Pembangkit Listrik dari Gulma

Tim peneliti dari Universitas Prefektur Ishikawa, Jepang, berhasil mengembangkan teknologi yang meniru proses pencernaan di lambung sapi. Mereka membudidayakan mikroba dari lambung sapi yang mampu mencerna rumput, lalu memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari fermentasi gulma dan sisa sayuran untuk pembangkit listrik. Saat ini, mereka tengah mempromosikan teknologi tersebut sebagai perangkat mitigasi bencana.

Menurut laporan Kyodo News, salah satu anggota tim, Associate Professor Yasunori Baba dari Universitas Prefektur Ishikawa, mendapatkan ide ini saat menjadi peneliti di Universitas Tohoku pada tahun 2011. Ketika menghadapi gempa besar Tohoku (311) dan harus mengungsi, ia berpikir, "Seandainya gulma dan daun kering bisa diubah menjadi energi." Ide itulah yang kemudian memicu penelitiannya.

Sel tumbuhan memiliki dinding sel yang mayoritas terdiri dari selulosa, sehingga gulma sangat sulit terurai dan difermentasi. Karena itulah, tim peneliti memfokuskan perhatian pada lambung sapi (rumen) yang secara alami mampu mencerna serat tumbuhan. Mereka berhasil mengekstraksi mikroba dari cairan lambung sapi dan membudidayakannya dalam tangki khusus.

Mikroba yang diambil dari lambung sapi menghasilkan enzim selulase yang berfungsi memecah serat tumbuhan (selulosa) yang terdapat pada gulma dan sisa sayuran. Saat serat tumbuhan terurai, proses fermentasi menghasilkan senyawa bernama asam asetat. Mikroba khusus yang disebut metanogen akan mengubah asam asetat tersebut menjadi gas metana. Gas metana kemudian disalurkan ke generator khusus untuk membangkitkan listrik.

Awalnya, tim peneliti berencana mengirimkan perangkat ini ke wilayah terdampak gempa Semenanjung Noto. Namun, kerusakan infrastruktur jalan membuat pengiriman menjadi mustahil.

Sebagai langkah antisipasi agar teknologi ini dapat langsung digunakan saat terjadi bencana, tim peneliti memasang perangkat tersebut di sebuah supermarket di Kota Kawakita, Prefektur Ishikawa. Di sana, mereka terus memanfaatkan sisa sayuran untuk memproduksi gas metana sekaligus listrik.

(foto: Canva)

Bisnis Tukar Baterai Ionex Kymco Berhasil Berbalik Untung, Kuncinya Ada pada Umur Baterai

Bisnis tukar baterai (battery swapping) Ionex milik Kymco mencatatkan sejarah sebagai layanan tukar baterai pertama di dunia yang berhasil menghasilkan laba pada tahun 2024. Kunci keberhasilan ini terletak pada kemampuan Kymco dalam mengendalikan biaya, terutama biaya baterai.

Meskipun pasar sepeda motor listrik di Taiwan pada 2024 mengalami penurunan 1%, dan situasi pasar secara keseluruhan memburuk, bisnis Ionex dari Kymco justru berhasil membalikkan kerugian menjadi keuntungan. Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa selama dua bulan pertama tahun 2025, Ionex tetap mempertahankan laba. Apa rahasia di balik keberhasilan ini?

Melihat angka penjualan Ionex, meskipun i-One dan S6 Rex menunjukkan kinerja yang cukup baik pada tahun 2024, total penjualan kedua model utama tersebut hanya mencapai 11.000 unit, sedangkan total penjualan seluruh model Ionex hanya 17.700 unit, jauh di bawah pencapaian 52.000 unit milik Gogoro.

Dengan selisih penjualan yang begitu besar, bagaimana mungkin Ionex tetap bisa mencetak keuntungan? Bukankah hal ini terasa agak tidak masuk akal?

Faktanya, pada tahun lalu Kymco melakukan dua penyesuaian penting yang jarang disadari orang. Salah satu penyesuaian tersebut adalah memisahkan bisnis penjualan kendaraan dan layanan energi. Dengan pemisahan ini, mereka dapat menghindari praktik menurunkan tarif baterai secara berlebihan demi meningkatkan penjualan sepeda motor. 

Dengan pemisahan ini, setiap unit bisnis bertanggung jawab atas kinerjanya sendiri, sehingga Kymco dapat memahami kondisi bisnis secara lebih akurat.

Faktor kedua yang paling penting adalah umur baterai. Saat layanan tukar baterai Ionex pertama kali diluncurkan, muncul kekhawatiran dari kalangan internal Kymco, terutama terkait masa pakai baterai. Akibatnya, bagian keuangan menetapkan masa depresiasi baterai hanya 4 tahun, jauh lebih pendek dibandingkan pesaing utama mereka, Gogoro, yang menetapkan masa depresiasi 8 tahun.

Namun, menurut CEO Kymco Ko Sheng-feng, kekhawatiran tersebut tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa masa pakai baterai tidak hanya bergantung pada kualitas sel baterai (battery cell), tetapi juga pada sistem pengelolaan dan pemeliharaan yang tepat.

“Baterai di stasiun tukar justru lebih awet dibandingkan yang terpasang di kendaraan langsung.” kata Ko Sheng-feng. Ia menjelaskan bahwa Ionex menggunakan teknologi canggih untuk memperpanjang umur baterai.

Berdasarkan data internal Kymco, baterai tukar Ionex generasi pertama yang telah digunakan selama lebih dari 4 tahun masih memiliki kesehatan baterai (battery health) di atas 90%. Sebagai perbandingan, baterai lithium biasanya baru layak diganti jika kesehatan baterainya turun di bawah 70%.

Dengan data nyata tersebut, tim keuangan akhirnya menyetujui untuk memperpanjang masa depresiasi baterai menjadi 8 tahun, sama seperti Gogoro. Dengan total sekitar 3.000 stasiun tukar baterai di seluruh Taiwan, yang menggunakan setidaknya 15.000 unit baterai, penyesuaian masa depresiasi ini membuat biaya operasional turun drastis, sehingga Ionex dapat mencetak keuntungan.

光陽Ionex 3.0 掛牌能量爆發,一舉奪下2021 年度電車第三#機車(170920) - Cool3c

(foto: https://www.cool3c.com/)

Lalu muncul pertanyaan: Sama-sama menetapkan masa penyusutan baterai 8 tahun, mengapa pesaing masih merugi, sedangkan Kymco bisa mencetak keuntungan?

CEO Kymco Ko Sheng-feng (柯勝峯) menjelaskan, “Ada yang bilang lemari baterai kami terlalu sederhana, ukurannya kecil, atau lokasinya kurang strategis—semua itu adalah bagian dari pengendalian biaya.”

Ia menegaskan bahwa Kymco adalah pabrikan motor tradisional yang mengutamakan kestabilan sehingga mampu menghasilkan keuntungan jangka panjang.

Melihat situasi saat ini, kecuali terjadi gelombang besar pelanggan Ionex yang menjual motor dan berhenti berlangganan layanan baterai, maka meskipun penjualan tahun ini stagnan, Ionex tetap bisa mempertahankan keuntungan.

Bagi Ko Sheng-feng (柯勝峯), hal ini memiliki makna yang penting. Catatan keberhasilan ini menjadi bukti kuat untuk meyakinkan mitra bisnis di pasar luar negeri, khususnya di Vietnam, Thailand, dan Indonesia

Namun, di pasar Taiwan, Kymco masih menghadapi tantangan besar.

Meskipun pada tahun 2024 kompetitor utama (Gogoro) beberapa kali diterpa berita negatif, konsumen tetap lebih memilih Gogoro. Ini menunjukkan bahwa brand image (citra merek) Ionex masih belum berhasil menggeser dominasi Gogoro.

Kini, tantangan terbesar bagi Kymco adalah menghadirkan produk yang benar-benar menarik agar bisa memanfaatkan peluang dan melakukan “comeback” (serangan balik) di pasar lokal Taiwan.

 

Penawaran CDMS Foxconn kepada Nissan: Kemitraan, Bukan Akuisisi

Setelah gagalnya pembicaraan merger antara Nissan dan Honda, ketua Foxconn TaiwanYoung Liu, pada 12 Februari 2025 menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah bekerja sama dengan Nissan, bukan mengakuisisi. Pendekatan ini dapat memberikan Nissan jalan menuju stabilitas finansial, kemajuan teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan tanpa gangguan besar.

Foxconn ingin menjalin kemitraan dengan Nissan melalui model layanan desain dan manufaktur (CDMS), serupa dengan kerja sama mereka bersama Stellantis, dan bahkan mempertimbangkan kepemilikan saham guna memperlancar kolaborasi. Namun, Foxconn menegaskan bahwa mereka tetap ingin menjadi pemasok tingkat pertama (Tier 1) dan tidak berniat menciptakan merek mobil sendiri.

Penekanan Foxconn  adalah pada kerja sama, bukan akuisisi. Hal ini akan mengubah posisi Nissan dari yang sebelumnya dianggap sebagai target merger menjadi perusahaan yang mencari mitra untuk mendukung transisi ke kendaraan listrik (EV).

Meskipun Nissan awalnya menolak pendekatan Foxconn, tepat kegagalan negosiasi merger dengan Honda, dan desakan menghadapi perubahan teknologi membuat Nissan memiliki lebih sedikit pilihan. Hal ini membuatnya harus segera mencari mitra yang tepat.

Namun, sejumlah pelaku industri otomotif dan otoritas pemerintah Jepang, dalam pernyataan kepada media penyiaran Jepang, menyuarakan kekhawatiran terhadap investasi asing, terutama terkait risiko bocornya teknologi utama (proprietary technology).

Seorang perwakilan perusahaan otomotif yang bekerja sama dengan Nissan mengatakan kepada Nippon News Network bahwa industri otomotif Jepang adalah aset nasional (national patrimony). Potensi penyebaran teknologi melalui kerja sama internasional menjadi sumber kekhawatiran yang besar.

Sejalan dengan pendapat tersebut, seorang pejabat pemerintah Jepang menyatakan penolakannya terhadap kerja sama finansial antara Nissan dan Foxconn, dengan menegaskan bahwa peningkatan daya saing melalui kolaborasi yang fokus pada pertukaran teknologi adalah hal yang paling krusial.

Foxconn menegaskan bahwa mereka tidak akan menjadi merek otomotif, melainkan akan fokus pada layanan desain dan manufaktur (CDMS) untuk kendaraan listrik (EV).

Pendekatan ini mirip dengan hubungan BYD dan Toyota atau produksi kendaraan lengkap oleh Magna International, yang memungkinkan Foxconn memanfaatkan keahliannya sekaligus tetap mempertahankan status sebagai pemasok utama (Tier 1 supplier).Mutually beneficial partnership

Pendekatan kolaboratif yang diusung Foxconn memberikan peluang saling menguntungkan bagi Nissan. Melalui kemitraan ini, Nissan dapat tetap mempertahankan identitas mereknya sekaligus mengatasi tantangan keuangan dan mempercepat transisi ke kendaraan listrik (EV).

Model kemitraan ini memungkinkan Nissan untuk memanfaatkan keahlian manufaktur Foxconn tanpa harus menghadapi perbedaan operasional yang dapat memicu restrukturisasi besar-besaran atau melemahkan citra merek.

Penekanan Foxconn pada kerja sama juga mencerminkan pertimbangan strategis yang sejalan dengan pemerintah Jepang, yang akan meninjau secara ketat setiap perjanjian yang melibatkan investasi asing.

Mengingat Nissan menghadapi kesulitan keuangan dan telah merencanakan restrukturisasi, termasuk potensi PHK seperti yang disampaikan eksekutif pada akhir 2024, kemitraan dengan Foxconn dapat menjadi jalan penting menuju stabilitas jangka panjang.

Situasi yang dihadapi Nissan mencerminkan kesenjangan inovasi yang kini melanda industri otomotif Jepang. Meskipun memiliki sejarah sukses dengan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICEV), industri ini lambat beradaptasi terhadap elektrifikasi dan perkembangan kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicles).

Keterlambatan ini, ditambah dengan budaya birokrasi yang kaku, telah menghambat daya saing industri otomotif Jepang dibandingkan rival dari Tiongkok, Eropa, dan AS, terutama di pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara.

HHTD 2022 Unveils Two Concept Prototype EVs, Defines Contract and Design  Manufacturing Service (CDMS) First made-in-Taiwan electric pickup and  crossover hatchback - Hon Hai Technology Group

(foto: Foxconn)

Tantangan Transisi ke Kendaraan Listrik (EV) bagi Produsen Otomotif Jepang

Salah satu tantangan utama bagi Nissan dan produsen otomotif Jepang lainnya adalah peralihan ke kendaraan listrik (EV). Meskipun Jepang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pasar EV dibandingkan rekan-rekannya di Eropa dan Amerika, hal ini membantu Jepang menghindari investasi prematur yang menyebabkan masalah rantai pasok di Eropa dan AS pada tahun 2024.

Namun, dukungan kuat dari pemerintah Tiongkok terhadap industri EV terus menjadi tantangan berat bagi produsen asing, karena membuat permintaan pasar sulit diprediksi dan sulit merespons perubahan tren secara cepat.

Secara historis, produsen otomotif Jepang mengambil pendekatan konservatif terhadap teknologi otomotif cerdas, tetapi kini munculnya kecerdasan buatan generatif (Generative AI/GenAI) telah mendorong pergeseran strategi.

Perusahaan seperti Toyota, Honda, dan Sony Honda Mobility kini aktif mengeksplorasi dan mengintegrasikan teknologi GenAI untuk desain kendaraan, mengemudi otonom (autonomous driving), dan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (ADAS - Advanced Driver-Assistance Systems).

Seiring dengan pesatnya evolusi industri otomotif, kolaborasi yang efektif dengan perusahaan teknologi serta investasi strategis dalam teknologi AI akan menjadi kunci utama bagi produsen otomotif Jepang untuk tetap kompetitif di pasar global.

 

 

Kung Teh-cheng: Pewaris Terakhir Gelar Adipati Yansheng dan Penjaga Warisan Konfusius

Kung Teh-cheng adalah keturunan generasi ke-77 Konfusius dalam garis keturunan utama. Ia adalah orang terakhir yang dilantik menjadi Adipati Yansheng (gelar keturunan Konfusius) dan Pejabat Upacara untuk Konfusius pertama (nama gelar baru yang diberikan Taiwan). Kala itu, ia masih berusia 15 tahun dan mengambil sumpahnya di Nanjing. Dia membantu merumuskan dan bertanggung jawab memimpin upacara modern Konfusius yang diadakan setiap tahun di Taiwan.

Kong Te-cheng lahir di rumah keluarganya di Qufu, Shandong. Ia adalah anak ketiga dan satu-satunya putra dari Kong Lingyi (孔令貽, 1872–1919), yang bergelar Adipati Yansheng, dan istri keduanya, Wang Baocui (王寶翠, 1894–1921).

Nama ayahnya memiliki huruf "令" (Ling) karena itu adalah nama generasi untuk keturunan Konfusius generasi ke-76.

Kong Te-cheng lahir pada 23 Februari 1920. Tak lama setelah lahir, ia diangkat menjadi “Adipati Yansheng” oleh Presiden ROC Xu Shichang. Gelar ini diberikan sesuai tradisi kekaisaran yang dimulai sejak tahun 1055, yaitu memberikan gelar tersebut kepada anak laki-laki tertua dari garis keturunan utama Konfusius.

Sayangnya, ayahnya meninggal sebelum Kong Te-cheng lahir. Ia menjadi orang terakhir yang menerima gelar Adipati Yansheng karena pada tahun 1935, pemerintah Nasionalis menghapus gelar tersebut. Sebagai gantinya, Kong Te-cheng diberi gelar baru sebagai Pejabat Upacara untuk Konfusius.

Pada tanggal 16 Desember 1936, Kong Te-cheng menikah dengan Sun Qi-fang. Sun Qifang adalah cicit dari Sun Jianai (孫家鼐), seorang pejabat cendekiawan pada zaman Dinasti Qing. Sun Jianai juga dikenal sebagai presiden pertama Universitas Peking (Beijing University).  Dari pernikahan mereka, Kong dan Sun memiliki empat anak, terdiri dari dua putra dan dua putri.

Pada tahun 1937, saat ia berusia 17 tahun, Jepang menawarkan Kong Te-cheng posisi sebagai Kaisar boneka Tiongkok, tetapi ia menolak tawaran tersebut.

Pada Januari 1938, Kong melarikan diri dari invasi Jepang di Shandong menuju Hankou. Saat itu, tentara Jepang meledakkan kediamannya di Gunung Taishan.

Tahun 1948 ia melanjutkan pendidikan ke Amerika, di mana ia mulai mendapat pengaruh pendidikan kebudayaan barat, dan mulai mengapresiasi nilai-nilai demokrasi sipil.

Saat awal ketibaannya di Taiwan, Kung Teh-cheng sempat melakukan perjalanan beberapa kali ke Jepang, Korea, Eropa, Amerika, untuk memimpin upacara Seokjeonje. Tahun 1984 ia melakukan dialog dengan Paus Yohanes Paulus II dari Vatikan, yang menjadi sebuah pertemuan penting religius timur dan barat.

Tahun 1949, seiring dengan hijrahnya pemerintah ke Taiwan, maka benda yang tersimpan dalam National Palace Museum, Perpustakaan Pusat di Nanjing dan Museum Pusat di Nanjing, ikut dipindahkan ke Taiwan.

Tahun 1955, dibangunlah gudang penyimpanan artefak di Beigou Wufeng, yang diisi dengan berbagai benda peninggalan yang ada di Kung Family Mansion dari Qufu. Yang kemudian diubah menjadi Badan Gabungan National Palace Museum, dimana selanjutnya Kung Teh-cheng menjadi Kepala Badan tersebut.

Dari Juli 1956 hingga April 1964 (umur 36-44) ia menjabat sebagai Direktur Museum Istana Nasional di Taipei.

Dalam menjalankan tugasnya, semua artefak diinventarisasi dan diklasifikasikan sesuai dengan masa dan proses pembuatannya. Pada masa tersebut, Kung Teh-cheng sempat menggelar pameran lintas negara di Amerika, yang sempat mencengangkan dunia, dan turut mendorong upaya penggalangan dana bantuan pembangunan National Palace Museum di Shilin, Taipei.

Kung Teh-cheng sempat mengajar di National Taiwan University, National Taiwan Normal University, National Chung Hsing University, Fu Jen University dan Soochow University.
Kung Teh-cheng sangat ramah terhadap orang lain, namun sangat disiplin terhadap diri sendiri. Ia kerap mengundang anak didiknya yang kurang mampu untuk makan bersama setelah pulang sekolah, agar mereka dapat mengonsumsi makanan yang baik dan kenyang. Namun ia sendiri sangat irit dan sederhana, menurut Kung Teh-cheng sebutir bakpao mantou sudah cukup.

Kung juga menjabat sebagai Presiden Examination Yuan dari tahun 1984 hingga 1993 (umur 64-73).

Ia juga menjadi penasehat senior Presiden Republik Tiongkok (Taiwan) dari tahun 1948 hingga 2000 (umur 28-80 tahun).

 Pada 20 Oktober 2008, Kong dibawa ke Rumah Sakit Tzu Chi di Xindian. Saat tiba di unit gawat darurat, ia didiagnosis menderita pneumonia dan sepsis.

Kong meninggal 8 hari kemudian, pada 28 Oktober 2008 pukul 10:50 pagi, akibat gagal jantung dan gagal pernapasan.

Setelah wafatnya, Kementerian Dalam Negeri Republik Tiongkok (Taiwan) menunjuk cucunya, Kung Tsui-chang, sebagai penggantinya dalam jabatan Pejabat Upacara untuk Konfusius.

A Confucianist's Magnificent Century Commemorating Kung Te-cheng - Taiwan  Panorama

(foto: Li Pei-hui via Taiwan Panorama)

Penyiar

Komentar