Harga Tiket TRA akan Naik hingga 30%
Dewan direksi Taiwan Railway Corp. pekan lalu mengadopsi rencana untuk menaikkan tarif tiket rata-rata sebesar 26,8 persen, kata perusahaan kereta api tersebut.
Rencana penyesuaian tarif telah dikirim ke Kementerian Transportasi dan Komunikasi untuk ditinjau, setelah itu akan ditinjau oleh Yuan Eksekutif.
Setelah tinjauan berlalu, tarif baru akan diumumkan dua bulan sebelum diterapkan secara resmi setelah pemutakhiran sistem.
Menteri Transportasi Chen Shih-kai (陳世凱) menyampaikan, bahwa tarif baru tersebut dapat mulai berlaku paling cepat pada paruh pertama tahun 2025.
Penyesuaian tarif akan berkurang relatif terhadap jarak yang ditempuh, yang berarti perjalanan jarak jauh akan mengalami kenaikan yang relatif lebih rendah, menurut perusahaan tersebut.
Misalnya, harga tiket kereta ekspres Tze-Chiang dari Taipei ke Kaohsiung akan naik dari NT$824 menjadi NT$975 -- kenaikan sebesar 18,33 persen, sementara perjalanan dengan kereta yang sama dari Taipei ke Taichung akan naik dari NT$375 menjadi NT$501 -- kenaikan sebesar 33,6 persen.
Pada tahun 2024, Administrasi Kereta Api Taiwan, yang dikelola oleh pemerintah, direorganisasi menjadi Taiwan Railway Corp.
Pada tahun pertamanya sebagai perusahaan milik negara, perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar NT$13,79 miliar, dengan kerugian sebesar NT$10,1 miliar dari operasi transportasi kereta apinya.
Salah satu faktor yang menyebabkan kerugian tersebut adalah harga tiket yang rendah, kata perusahaan tersebut. Sebelumnya, harga tiket untuk transportasi Kereta Api Taiwan tidak berubah selama 30 tahun.

Kereta Taiwan (foto: Taiwan Railways Corp.)
Jembatan Tamkang Diharapkan akan Segera Dibuka Awal 2026
Jembatan Tamkang (淡江大橋) baru yang menghubungkan distrik Tamsui (淡水) dan Bali (八里) di Kota New Taipei akan rampung pada akhir tahun ini, dan dibuka untuk lalu lintas awal tahun depan, kata Wali Kota New Taipei Hou You-yi (侯友宜) beberapa waktu lalu.
Menurutnya, populasi di Tamsui telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, sementara infrastruktur transportasi seperti Jembatan Tamkang sedang dibangun, kota ini juga harus mengembangkan sumber daya pendukung seperti pendidikan dan layanan sosial untuk mendukung peningkatan populasi, katanya.
Wali kota mengumumkan rencana untuk membangun kampus baru SMP Tamsui di dekat Stasiun Binhai Yishan dengan kereta ringan (LRT) untuk melayani pendatang baru di Kota Baru Tamhai (淡海新市鎮).
Berdasarkan rencana pemerintah kota, sekolah tersebut akan mulai menerima siswa pada tahun 2032, tambahnya.
Mengenai Jembatan Tamkang, Hou mengatakan bahwa pembangunan berjalan sesuai jadwal, dengan rencana untuk dibuka untuk lalu lintas pada awal tahun depan.
Ia juga menyatakan harapan bahwa pemerintah pusat akan segera menyetujui rencana untuk memperluas jalur kereta ringan (LRT) di atas jembatan ke Bali dan memperbarui jalan raya untuk menghubungkan Tamsui, Bali, dan Distrik Linkou (林口) menjadi satu jaringan yang berkesinambungan.

Jembatan Tamkang yang menghubungkan Tamsui dan Bali (foto: CNA)
Mazu dari Klenteng Tianhou Kaitai Anping Diundang ke Indonesia untuk Festival Cap Go Meh
Dewi Mazu dari Klenteng Tianhou Kaitai Anping diundang untuk menghadiri Festival Cap Go Meh dan prosesi keagamaan di Indonesia. Pemerintah Kota Tainan sangat menaruh perhatian pada kunjungan perdana patung Mazu nasional ke Indonesia. Pada 8 Februari lalu. Wali Kota Tainan Huang Wei-che dan Wakil Wali Kota Ye Ze-shan menghadiri upacara penyerahan bendera sebelum keberangkatan, berharap budaya Mazu Taiwan dapat diperkenalkan ke Asia Tenggara serta menampilkan soft power diplomasi rakyat.
Klenteng Tianhou Kaitai Anping mengadakan upacara penyerahan bendera untuk meningkatkan semangat para peserta. Pada upacara tersebut, Wali Kota Huang Wei-che secara khusus datang untuk berdoa, membubuhkan tanda tangannya pada bendera, dan memberikan doa restu bagi delegasi yang akan berangkat ke Indonesia. Ia berharap melalui budaya Mazu Taiwan, hubungan keagamaan antara kedua negara dapat diperkuat.
Atas undangan komunitas masyarakat di Indonesia, delegasi dari Klenteng Tianhou Kaitai Anping telah berangkat ke Kota Bogor dan Kota Bandung pada 11-15 Februari nanti untuk menghadiri Festival Cap Go Meh. Patung suci Mazu dan tandunya akan dibawa ke Indonesia untuk mengikuti prosesi keagamaan dan mendoakan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, Grup Silaian juga turut serta dalam acara tersebut untuk menampilkan seni pertunjukan budaya agama Taiwan.
Wali Kota Huang Wei-che menyatakan bahwa Kuil Tianhou Kaitai Anping adalah salah satu tempat ibadah paling penting di Tainan dan pusat kepercayaan masyarakat. Kunjungan ini tidak hanya menjadi bagian dari pertukaran budaya keagamaan, tetapi juga dihadiri oleh pejabat tinggi pemerintah Indonesia. Ia yakin bahwa acara ini akan membantu komunitas Tionghoa Indonesia dan masyarakat lokal lebih memahami nilai budaya keagamaan Taiwan.
Selain itu, ia juga menyoroti Grup Seni Pat Ka Chiong Silaian yang turut serta dalam festival ini. Tainan adalah pusat utama budaya Pat Ka Chiong di Taiwan, dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mempelajari serta melestarikan seni budaya ini. Dengan mengikuti Festival Cap Go Meh, diharapkan dapat mempererat pertukaran budaya antara Taiwan dan Indonesia.
Camat Anping, Xiao Tai-hua, menjelaskan bahwa Klenteng Tianhou Kaitai Anping adalah pusat kepercayaan masyarakat Anping, Tainan. Ketika Zheng Chenggong (Koxinga) datang ke Taiwan pada tahun 1661, ia membawa patung Mazu dari Klenteng Leluhur Meizhou untuk menjadi pelindung armada perangnya. Setelah Belanda meninggalkan Formosa, Koxinga menetap di daerah Dayuan dan mengubah namanya menjadi Anping. Gereja peninggalan Belanda diubah menjadi Klenteng Tianfei, yang menjadi klenteng Mazu pertama yang didirikan secara resmi di Pulau Taiwan.
Melalui berbagai masa pemerintahan, mulai dari Dinasti Qing, era kolonial Jepang, hingga masa pemerintahan Taiwan, tiga patung utama Mazu di dalam klenteng mengalami berbagai perjalanan dan perpindahan akibat perang, tetapi tetap memiliki hubungan erat dengan klenteng-klenteng lain di Anping. Sebagai salah satu pusat awal kepercayaan Mazu di Taiwan, Klenteng Tianhou Kaitai Anping mendirikan Akademi Mazu, yang menyelenggarakan seminar dan diskusi untuk membantu masyarakat lebih mengenal sejarah dan mukjizat Mazu di Anping.

Dewi Mazu di Klenteng Tianhou Kaitai Anping (foto: LTN)
Mimpi Studi Hancur! Seorang Pelajar Asing Jadi PSK setelah Keluarganya Bangkrut
Pekan lalu, polisi Tainan menggerebek sebuah tempat prostitusi yang beroperasi di bekas hotel, membawa 15 pekerja seks asing dan 6 pelanggan untuk diproses hukum. Pemilik hotel bermarga Xing (邢) ditangkap dan dijerat dengan pasal pelanggaran kesusilaan serta perdagangan manusia. Salah satu yang ditangkap adalah Ah Nan (nama samaran), seorang transgender asal Thailand. Awalnya, ia datang ke Taiwan dengan visa pelajar untuk belajar bahasa Mandarin di sekolah bahasa.
Namun, setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan dan bisnis keluarganya bangkrut, ia kehilangan dukungan finansial. Terpaksa, ia masuk ke industri hiburan malam sebagai pendamping minuman. Setelah visanya habis, ia tetap tinggal di Taiwan secara ilegal dan mulai bekerja sebagai pekerja seks, pindah dari Taipei ke Tainan melalui perantara teman.
Hotel tempat prostitusi ini sebelumnya pernah menjadi lokasi kasus kematian anak akibat penganiayaan pada tahun 2023. Kali ini, polisi mendapatkan informasi bahwa tempat tersebut digunakan sebagai lokasi prostitusi. Setelah penyelidikan panjang, pada tanggal 5 sore hari, 41 polisi dikerahkan untuk menggerebek hotel. Mereka membawa surat perintah penggeledahan, menguasai meja resepsionis untuk mendapatkan kunci utama, lalu memeriksa kamar satu per satu. Jika tidak ada respons dari dalam kamar, polisi langsung membuka pintu.
Polisi memeriksa lebih dari 90 kamar, hingga tangan mereka kelelahan. Akhirnya, mereka menemukan 15 pekerja seks asing, yang terdiri dari warga Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Indonesia. Dari jumlah tersebut, 8 orang telah overstay. Selain itu, 6 pelanggan juga ditangkap. Polisi juga menyita uang hasil prostitusi sebesar NT$694.700, uang agen sebesar NT$160.300, serta alat kontrasepsi dan pelumas sebagai barang bukti.
Saat Ah Nan dan para pekerja seks lainnya dibawa ke kantor polisi, seorang kenalan yang mengetahui penangkapannya datang membawakan nasi kotak dan produk pembersih wajah ke kantor polisi. Saat menerima pemberian itu, Ah Nan menangis tersedu-sedu.
Menurut polisi, kelompok prostitusi ini merekrut pelanggan melalui media sosial. Para pelanggan harus bergabung dalam akun LINE tertentu untuk melakukan reservasi. Mereka kemudian diarahkan ke hotel dan langsung masuk ke kamar untuk bertransaksi dengan pekerja seks, tanpa bertemu dengan mucikari. Polisi masih menyelidiki apakah kelompok ini terlibat dalam pemaksaan atau perdagangan manusia.
Setelah pemeriksaan, penanggung jawab hotel bermarga Xing telah diserahkan ke Kejaksaan Distrik Tainan dengan tuduhan pelanggaran kesusilaan dan perdagangan manusia. Sementara itu, para pekerja seks asing akan dikirim ke Kantor Imigrasi untuk ditampung dan diproses secara hukum.

Penggerebekan di sebuah hotel di Tainan (foto: SETN)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
