Barang desainer buat kita semakin miskin ( Part 2 )
Konsumerisme sudah menjadi kebiasaan manusia di zaman sekarang, dimana merek-merek desainer telah mendominasi kancah fashion dan kita sebagai konsumen tentu mudah terjebak dalam sebuah keyakinan bahwa memakai label tertentu atau kelas atas sama dengan status sosial yang tinggi atau kesuksesan sejati. merek-merek ini seringkali menggambarkan sebuah citra prestise dan kemakmuran, namun dalam kenyataannya dalam dunia riil apakah betul seperti itu ? nampaknya jawabannya akan terdengar sedikit lebih kompleks.
Merek dagang kelas butik sudah memiliki berbagai pengalaman dalam mengkategorikan konsumen mereka dalam waktu yang cukup lama, maka tidak heran apabila berbagai riset dan eksperimen dagang yang mereka lakukan hanya untuk menarik kelompok konsumen yang datang dari kelas tertentu saja. maka tidak jarang dapat kita temukan sebuah berbagai konsumen yang mulai membandingkan satu dengan yang lainnya, dan terkadang inti dan fungsi dari tas itu sendiri sudah hilang dan mulai kabur. konsumsi yang mencolok ini tentu memiliki perannya tersendiri dalam meningkatkan gengsi seseorang, dimana mereka akan menghabiskan begitu banyak uang dalam membeli barang dan jasa mewah dengan tujuan untuk menunjukkan kekayaan dan status sosial dari orang itu sendiri. Merek-merek desainer ini telah menguasai konsep ini dalam kurun waktu yang cukup lama, mereka akan menciptakan sebuah daya tarik pada produk mereka yang menunjukkan bahwa memiliki produk ini akan meningkatkan status sosial pemiliknya. namun apakah semua pemilik dari barang butik ini betul orang kaya ? kekayaan sejati tentu tidak datang dari label desainer.
Pencerminan akan sebuah stabilitas finansial yang sesungguhnya tentu bukan berasal dari merek, orang-orang kaya raya atau super tajir ini seringkali memilih busana yang sangat bersahaja dan bahkan tidak berlogo. inilah yang disebut sebagai silent fashion atau Quiet Luxury, sehingga bagi mereka yang super kaya terkadang memilih untuk menghindari logo-logo yang mencolok yang membuat konsumen kelas menengah dan kelas bawah tertarik untuk mulai mengadopsi gaya hidup seperti ini, bahwa kekayaan dan kemakmuran yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa banyak label butik yang anda miliki, melainkan akumulasi aset dan kebebasan finansial.
Ironisnya bahwa kelas menengah terkadang dibutakan dengan karisma yang dibentuk oleh merek-merek butik tersebut, semakin banyak warga kelas menengah yang mencoba untuk memiliki produk mereka maka kemampuan mereka dalam bertahan hidup dengan pengeluaran yang begitu besar bagi klaster kelas menengah ini akan semakin berbahaya. dilansir dari Nurturingtomorrow.com yang menyatakan bahwa merek desainer ini tumbuh subur berkat dukungan konsumen kelas menengah dan bawah yang mencoba meniru gaya hidup orang super kaya atau terkenal. konsumen seringkali memprioritaskan kepuasan sesaat dibandingkan kesehatan keuangan jangka panjang, tanpa mereka sadari ini mendorong mereka memiliki kebiasaan untuk konsumsi yang berlebihan.
Menghabiskan banyak uang untuk membeli produk-produk desainer ini bisa berakibat fatal, banyak orang terlilit hutang yang tak kunjung selesai karena berusaha untuk mengikuti tren fashion terkini, yang akhirnya menghambat kemampuan mereka untuk mengumpulkan kekayaan dan mencapai di level kebebasan finansial. Nilai berhemat dan pola pikir untuk hidup sederhana menjadi mahal di zaman sekarang, krusial untuk konsumen dalam berfokus kepada pola pikir yang lebih kritis lagi terhadap sebuah merek. menyadur dari sebuah buku yang berjudul “ The Millionaire Next Door “ yang mengajarkan bahwa jutawan seringkali menjalani kehidupan yang sangat sederhana, memilih untuk menabung dan berinvestasi dengan bijak ketimbang untuk memanjakan diri dalam hal yang dirasa kurang krusial atau menghindari pembelian yang boros.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 