History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Di Negeri Rantau 290125: Serba-serbi Imlek

  • 29 January, 2025
Di Negeri Rantau - RtiFM Online Rabu
Imlek Tahun 2025 merupakan tahun ular (foto: pngtree)

Sejarah Imlek Dirayakan di Indonesia, Tantangan, dan Kemeriahannya di Masa Kini

Imlek telah dirayakan sejak ribuan tahun lalu di Negeri Tiongkok. Perayaan ini sendiri dihitung berdasarkan kalender Lunar yang menandai datangnya musim semi menyambut hari penanaman baru bagi para petani di zaman dahulu.

Di Indonesia sendiri, tradisi Imlek telah lama dirayakan sejak kedatangan para perantau Tionghoa, tapi lika-likunya beragam dengan berbagai tantangan, larangan, hingga akhirnya dinobatkan sebagai hari libur nasional dan dirayakan dengan meriah.

Suasana menjelang Imlek di wilayah Pecinan Jakarta (foto: RRI)

Awal Mula Imlek Dirayakan di Indonesia

Tradisi perayaan Imlek di Indonesia tidak lepas dengan kedatangan imigran dari daratan Tiongkok di masa lalu. Menurut catatan Fa Hien di abad ke-4 dan I Ching di abad ke-7, kedatangan para imigran Tionghoa ke Nusantara terjadi setelah berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, di mana sebagian besar hadir untuk kepentingan perdagangan. Berbagai prasasti juga mencatat nama-nama Tionghoa selain suku bangsa lainnya.

Di tahun 1873, berdasarkan catatan Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, eksodus besar-besaran masyarakat Tionghoa dari Daratan Tiongkok ke berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia terjadi. Hal ini dikarenakan perang, pemberontakan, kemiskinan, dan keinginan untuk merantau, mencari kehidupan yang lebih baik.

Setelah menetap di Indonesia, tradisi perayaan Imlek pun tetap dirayakan, tapi mulai disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Warga Tionghoa di Indonesia beribadah saat merayakan Imlek (foto: Okezone)

Masa Orde Lama

Hari Raya Imlek diundangkan secara sah sebagai salah satu hari raya di Indonesia melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM/1946 tentang aturan hari raya.

Di dalam Pasal 4 penetapan tersebut dijelaskan tentang hari raya khusus untuk etnik Tionghoa, salah satunya hari Raya Imlek.

Meski demikian sempat ada perubahan yang terjadi tentang perayaan Hari Raya Imlek saat Orde Lama, antara lain Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1953 tentang Penetapan Aturan Hari-Hari Libur.

Masa Orde Baru
Soeharto membuat Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Bunyi Inpres tersebut "Segala wujud budaya dan tradisi Tionghoa seperti Tahun Baru Imlek, pertunjukan wayang potehi, barongsai dan sebagainya hanya boleh dirayakan di kalangan keluarga di dalam rumah atau kelenteng."

Terdapat beberapa hal yang diberlakukan pemerintah berkaitan dengan kebijakan ini selama kurun waktu tersebut yaitu penghapusan tiga pilar kebudayaan Tionghoa, sekolah-sekolah menengah Tionghoa, dan organisasi etnik Tionghoa. Meski demikian kenyataannya ketiganya tidak hilang sama sekali.

Hal lain menyangkut peraturan ganti nama, yakni mengganti nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Pemerintah saat itu mencurigai etnik Tionghoa yang ada di Indonesia sebagai kaki tangan pemerintah RRT.

Era Gus Dur
Pada masa Kepresidenan KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal Gus Dur, masyarakat Tionghoa bisa merayakan Imlek secara terbuka. Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 menjadi Keppres Nomor 6 Tahun 2000.

Selain itu, Gus Dur juga mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Pada era tersebut, tahun baru Imlek dapat dirayakan secara meriah dan terbuka.

Tak lama kemudian, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Hal tersebut diputuskan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002 yang ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Orde Reformasi menggunakan prinsip koeksistensi etis dalam memandang persamaan hak setiap warga negara Indonesia sehingga ketentuan yang bersifat diskriminatif pada Orde Baru banyak tercabut.

Kini, perayaan Imlek di Indonesia terasa sangat meriah dengan aneka dekorasi dan kegiatan menyambut Imlek, mulai dari pusat perbelanjaan, Kota Tua, maupun daerah-daerah dan permukiman warga.

 

Kisah Unik dan Catatan Sejarah dalam Tradisi Imlek

Di Tahun Baru Imlek, anak-anak sangat menantikan untuk menerima angpao. Angpao juga memiliki sebutan lain, yakni 壓歲錢 (yā suì qián). 

Pada zaman dahulu, uang angpao diletakkan di bawah bantal untuk menenangkan "祟sui (yang memiliki bunyi sama dengan 歲suì", yang dipercaya adalah sosok roh jahat yang bisa membuat anak-anak jatuh sakit.

Di samping itu, juga ada tradisi meletuskan petasan, yang dipercaya dapat mengusir monster  untuk mengusir "年Nian", sosok mengerikan yang akan datang saat tanggal satu bulan pertama dalam penanggalan Lunar.

Di kehidupan modern, monster "年Nian" melambangkan wabah.

Dekan Fakultas Sejarah di National Central University (NCU), Profesor Pi Kuo-li (皮國立), berbagi bahwa menurut legenda, ada roh jahat yang disebut "祟sui", atau monster "年Nian", yang khusus menyentuh kepala anak-anak, menyebabkan mereka demam dan sakit. Pada masa lalu, kondisi ini disebut demam tifoid atau demam berulang, yang kini kita kenal sebagai flu.

"Zaman dulu, kondisi ini bisa menyebabkan kematian!" kata Profesor 皮國立.  

Untuk menjaga keselamatan anak-anak, uang 壓歲錢 (yā suì qián) diletakkan di bawah bantal. Salah satu ceritanya adalah uang tersebut harus dibungkus dengan delapan koin tembaga, yang dikatakan sebagai perwujudan dari Delapan Dewa yang secara diam-diam akan membantu mengusir monster  "年Nian". Selain itu, dikatakan bahwa monster tahunan takut akan suara gemerencing dari koin tembaga.

Pada zaman dahulu, menyalakan petasan saat perayaan Imlek memiliki makna "mengusir monster 年Nian". Para sejarawan telah mengkaji legenda monster  "年Nian" itu sendiri.  

Menurut Profesor Pi Kuo-li, konsep monster  "年Nian" baru muncul sekitar 100 tahun yang lalu, yang aslinya berdasarkan pada makhluk mitologi yang disebut "Shan Sao 山臊". Makhluk ini tidak hanya membunuh manusia tapi juga menyebabkan wabah.

Lebih lanjut , Profesor Pi Kuo-li menjelaskan,  pada masa Dinasti Sui dan Tang, penemuan bubuk mesiu terjadi secara tidak sengaja, para cendekiawan di masa tersebut hendak membuat eliksir keabadian.

Sebelum itu, selama periode Dinasti Wei, Jin, serta era Dinasti Utara dan Selatan, orang-orang menggunakan metode menabuh gong dan drum untuk mengusir roh-roh jahat.

Dengan ditemukannya bubuk mesiu secara tidak sengaja dalam proses pembuatan eliksir di era Dinasti Sui dan Tang, orang-orang kemudian mempercayai bahwa "petasan" lebih efektif dan berbunyi lebih keras dibandingkan sekedar menabuh gong dan drum.

Oleh karena itu, mereka mulai menggunakan petasan, dan kemudian ide mengenai monster  "年Nian" diintegrasikan ke dalam tradisi tersebut.

Sejatinya, tidak hanya selama Tahun Baru Imlek, tetapi juga dalam berbagai acara perayaan lainnya, seperti pernikahan, petasan digunakan dan diberikan berbagai makna simbolis.

Profesor Pi Kuo-li, yang telah lama meneliti sejarah kedokteran, membagikan sebuah cerita menarik tentang petasan. Komponen utama petasan adalah belerang dan kalium nitrat, di mana belerang dan senyawa sulfur lainnya memiliki efek desinfektan.

Pada akhir tahun 1910, terjadi wabah pes yang parah di tiga provinsi timur daratan Tiongkok. Menjelang Tahun Baru Imlek, dokter yang bertanggung jawab saat itu, Wu Lian-de (伍連德), menyarankan orang banyak untuk menyalakan petasan.

Tujuannya adalah menggunakan sulfur dalam petasan untuk sterilisasi dan mendesinfeksi seluruh kota.

Catatan sejarah di atas menunjukkan bahwa ada dasar ilmiah di balik penggunaan petasan untuk mengusir wabah.

Mengenai mengapa harus menggunakan bungkus (angpao) berwarna merah, Profesor Pi Kuo-li menjelaskan bahwa di zaman kuno, segala sesuatu yang berkaitan dengan mengusir roh jahat, hantu, atau binatang buas, sering kali berwarna merah.

Jadi, selain simbol keberuntungan, warna merah juga memiliki arti mengusir roh jahat.

Profesor Pi Kuo-li  juga menyebutkan, pada zaman Dinasti Wei dan Jin, penyebaran kacang uci (Vigna umbellate) untuk mengusir roh jahat didasarkan pada kepercayaan bahwa roh-roh jahat takut akan biji-bijian alami yang berwarna merah. Bagi para leluhur, biji-bijian yang tumbuh dari tanah secara alami sangat-lah penting.

Selain itu, makan kue tradisional selama Tahun Baru Imlek melambangkan panen yang berlimpah serta merupakan simbol kemakmuran dan kepuasan.

Dekorasi Imlek terkait dengan petasan yang di zaman dahulu bermanfaat menghilangkan wabah penyakit (foto: Honeycombers)

Penyiar

Komentar