History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2025-01-08

  • 08 January, 2025

Barang desainer buat kita semakin miskin ( Part 1 ) 

Belanja, siapa yang tidak suka dengan belanja ? baik itu pria maupun wanita nampaknya semua orang gemar dengan kegiatan membeli barang baru demi kepuasan kita. namun apa yang salah dengan berbelanja, di zaman yang serba cepat nampaknya sudah sering kita mendengarkan cara berbelanja yang berlebihan di era kapitalisme yang semakin kentara, kebutuhan sandang,pangan dan papan sudah bukan menjadi sebuah prioritas utama maka disaat seperti itulah kebutuhan tersier seperti barang-barang mewah menjadi pilihan utama bagi para siapa pun yang memiliki kocek lebih di dalam kantong uang mereka. 

pernah mendengar sebuah tas berwarna merah yang dibanderol dengan harga 298.000 USD ( setara dengan 9.7 juta NTD ) dengan deskripsi sebagai berikut : Hermes Braise Shiny Porosus Crocodile Birkin Bag - Blood Red. mengapa harganya bisa semahal itu ? apakah tas ini dipenuhi dengan berlian atau pernah dipakai oleh penyanyi atau publik figur ternama ? karena secara nominal harganya sudah cukup di luar dari nalar seseorang, harga tas yang dapat membeli sebuah properti. namun jawabannya kenapa tas ini mahal, ini tas Birkin. 

Seperti judul diatas, Barang desainer akan membuat kita semakin miskin ? mari kita dalami dulu judul diatas. banyak merek-merek desainer seperti Hermes, Gucci, Louis Vuitton telah menjadi sebuah simbol kekayaan dan status sosial dalam budaya konsumerisme manusia zaman sekarang. orang-orang rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli tas dan aksesoris mewah, seperti tas Birkin yang diidamkan oleh banyak wanita meskipun harganya mahal dan tidak semua orang yang memiliki budget untuk membeli tas Birkin dapat membeli tas ini secara langsung. 

Pasalnya ? Tas Birkin memiliki kisaran harga dari 8500 ~ 300.000 USD, belum lagi dengan eksklusivitas dari merek ini, dimana bagi pecinta barang Birkin yang memiliki budget untuk membeli tas ini tidak dapat membelinya langsung di toko, Hermes memiliki sebuah kebijakan eksklusif yang cukup unik, para pelanggan diharapkan dapat menunjukkan riwayat sejarah transaksi pelanggan dengan merek tersebut. kapasitas keanggotaan dari seorang pelanggan akan menjadi tolak ukur apakah Hermes akan menjual produknya kepada calon pelanggan pembeli tas baru ini. secara gamblang bahwa sebelum anda dapat membeli tas Hermes Birkin maka ada baiknya anda memiliki produk Hermes lainnya sebelum beranjak ke Tas, misal sepatu, minyak wangi, jaket, sabuk kulit, DLL. dan apabila semua kriteria diatas sudah terpenuhi, maka nama calon pembeli tas Hermes akan dimasukkan ke dalam daftar tunggu dengan rentan waktu 1 hingga 4 tahun. sudah mahal dan harus nunggu lama,  terdengar sedikit mencengangkan betul? tapi itu realitanya untuk sebuah produk eksklusif. 

Dengan begitu banyaknya peraturan dan persyaratan dalam membeli sebuah tas Birkin yang nampaknya lebih rumit ketimbang membeli sebuah properti, apakah persyaratan ini membuat orang ogah untuk membelinya ? faktanya tidak! banyak orang memilih untuk menunggu dan tetap menabung untuk dapat membeli tas ini. apakah ini adalah sebuah tas dengan kualitas yang tinggi ? apakah material yang mereka gunakan lebih tinggi dan bagus ketimbang tas lainnya ? apakah ini betul produk padat karya yang terkenal dari negara Eropa ? jawabannya cukup subjektif dan berbeda dari setiap orang. 

Manusia selalu mencari status sosial dimanapun kita berada, terkadang perbandingan akses dan produk yang kita gunakan dapat secara otomatis menambahkan sebuah sensasi terkait status yang kita miliki pada saat ini, misal sepatu yang kita gunakan, mereka pakaian, sekolah dimana, rumah dimana, termasuk juga tas apa yang kita gunakan ketika kita pergi keluar rumah. semua orang ingin mendapatkan sebuah gelar status sosial kelas atas terlebih dalam lingkaran sosial yang kita miliki saat ini. maka tidak heran apabila merek desainer ini menjadi jalan pintas yang paling cepat untuk menunjukkan kekayaan yang kita miliki. 

Namun dilain sisi, sudah bukan rahasia lagi apabila merek-merek desainer mewah ini memang menargetkan dan memangsa psikologi para calon konsumen, menyasar masyarakat miskin ketimbang orang-orang kaya, membuat masyarakat tetap miskin dan dampak potensial terhadap kesejahteraan finansial ini, dan ini berhubungan dengan daya tarik barang mewah dalam perspektif sosial kita. 

 

Bersambung di pekan depan, pantau terus yows.. 

Penyiar

Komentar