History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Dua Sisi - 2024-12-18

  • 18 December, 2024

Jepang negara maju, tapi pelecehan seksual masih akrab dengan warganya. ( Part 2 ) 

Sang pelaku pelecehan adalah orang yang seperti apa yah ? tidak sedikit para netizen yang menyatakan bahwa pelaku pelecehan atau 痴漢 biasanya akan berpenampilan buruk, dengan baju compang-camping, ataupun terlihat seperti gelandangan. namun kembali kepada laporan dari pihak kepolisian yang mendapati bahwa para pelaku ini justru berpenampilan sebaliknya. tidak sedikit para pelaku yang nampak seperti layaknya para pekerja kantoran, baju kemeja rapi yang berwarna putih, dasi hitam terbuat dari sutra, ikat pinggang kulit, celana bahan yang disetrika dengan teliti, sepatu kulit yang tidak murah, terkesan perlente bukan ? ya, mereka adalah orang-orang yang mapan atau bahkan memiliki pekerjaan dan rumah tangga dengan kondisi finansial di atas rata-rata. 

Ada juga netizen yang beranggapan para pelaku adalah orang yang kesepian ataupun tidak memiliki pasangan hidup, maka dari itu demi memuaskan birahi pelaku memilih untuk melancarkan aksinya. dilansir dari The Creative Center Taiwan yang menyatakan bahwa tidak jarang ditemukan modus dari sang pelaku adalah ketidaksengajaan yang berkelanjutan, secara gamblang bahwa di dalam gerbong kereta yang begitu padat dengan penumpang, ketika kereta sedang bergerak pasti ada “ Kontak Fisik “ antar penumpang lainnya, maka dari itu ketika sang pelaku tidak sengaja memegang atau memiliki kontak dengan sang korban dan dirinya mendapati tidak mendapatkan respon apapun atau bahkan tidak ada orang yang menyadari kejadian ini, maka mudah untuk berasumsi bahwa niat ini bisa dilancarkan di kemudian hari. betul-betul sebuah konsep kesempatan dalam kesempitan. 

Tankobon Sasugas - 齊藤章佳 dalam bukunya terkait pelecehan seksual di Jepang menjelaskan bahwa Sasugas mendapati para pelaku ini mayoritas adalah orang yang tidak percaya diri dan skill sosial yang tidak baik, terlebih di jepang memiliki sebuah pandangan sosial terhadap gender yaitu 男尊女卑 - Dansonjohi adalah sebuah persepsi sosial dimana pria akan lebih mendominasi dari seorang wanita, derajat hidup seorang pria akan lebih tinggi dibandingkan wanita. namun dalam kehidupan sehari-hari banyak juga yang merasakan tidak sedikit pria yang memiliki derajat hidup yang tidak lebih tinggi dari wanita, maka dari itu kondisi ini tidak akan memenuhi standar sosial atau kacamata warganya. maka dari itu tidak sedikit para pelaku yang mendapati sebuah “ ketidaksengajaan “ dalam kontak fisik di dalam gerbong kereta dan tidak ada respon apapun dari sang korban, maka di saat inilah para pria menjadi lebih mendominasi untuk memenuhi harkat dan martabat dari seorang pelaku. jadi momen ini dipakai untuk melepaskan penat dan stres akibat tekanan sosial dan mendapatkan sensasi kontrol kepada seorang korban. 

Perlahan kebiasaan kecil ini akan menjadi lebih brutal dan bahkan tidak ada batasannya, bermula dari meraba yang kemudian menjadi memasukkan tangan pelaku ke dalam celana dalam korban pun pernah menjadi BAP di dalam kantor kepolisian Jepang. maka dari itu tidak sedikit para pelaku yang sudah tertangkap dan diberikan hukuman yang setimpal. ketika kembali ke ruang sosial, kebiasaan ini susah untuk dihilangkan begitu saja. Berdasarkan dari data Kepolisian yang menyatakan terdapat 30% para pelaku kejahatan akan kembali beraksi dalam kurun waktu 5 tahun dan tertangkap basah. 

 

Sering terjadi kasus pelecehan, apa tindakan dari pemerintah ? 

Mengapa hal ini bisa terus terjadi, dari buku Tankobon Sasugas yang juga menjelaskan bahwa pemerintah Jepang tidak begitu fokus terhadap problematika sosial ini, para pelaku hanya dapat ditindak dengan hukuman yang sangat ringan atau denda yang tidak setimpal. bahkan UU tersebut tidak menjadikan kasus pelecehan seksual menjadi sesuatu yang tabu, kembali kepada perspektif dan budaya Dansonjohi yang menganggap sepele terkait pelecehan seksual menjadi lebih lazim, bahkan banyak warga yang berfikir kasus pelecehan di dalam kereta adalah sebuah hal yang wajar. “ ah cuma meraba aja masa harus sampai ke kantor polisi “. kondisi ini sudah berakar dan beranak pinak, maka dari kebanyakan kasus yang dilaporkan mayoritas kasus ini hanya berakhir dengan mediasi damai dengan santunan berupa uang kontan. Maka dari itu, beberapa tahun terakhir pemerintah Jepang telah bersosialisasi dan bekerjasama dengan para aktivis untuk menuntaskan dilema sosial ini, selain itu juga berbagai revisi UU tindak pidana yang sudah siap untuk diajukan agar dapat memperberat hukuman bagi sang pelaku pelecehan seksual dan memberikan efek jera bagi sang pelaku. 

Pantau terus yows.. 

Penyiar

Komentar