Adu Jotos, teriakan dan aksi Vandalisme sudah jadi budaya dalam dunia Politik Taiwan ? ( Part 2 )
nampaknya tidak akan mungkin apabila kita dapat membahas semua perkembangan dan revisi RUU yang tengah terjadi, mari kita simak apa yang pernah terjadi di tahun 1988, Pejabat ketua Legislatif Liu Kuo Tsai baru saja menghitung suara pada tanggal 7 April 1988, saat itu Chu Kao Cheng langsung lompat ke atas meja pembicara untuk menghentikan Liu mengumumkan hasil rapat, maka tidak butuh waktu lama perkelahian antara Chu dan Liu pun terjadi hingga harus berakhir keduanya jatuh dari meja.
Dibutuhkan lebih dari 10 legislator untuk melerai perkelahian mereka berdua, Partai Progresif Demokratik ( DPP ) yang diwakili oleh Chu telah menemui jalan buntu dan tidak mencapai mufakat dengan Partai Nasionalis Tiongkok ( KMT ) terkait anggaran di tahun berikutnya, maka tidak butuh waktu lama emosi mereka berdua pun memuncak dan harus berakhir dengan adu jotos.
Taiwan sendiri memiliki reputasi yang cukup buruk dalam hal berpolitik, aksi kekerasan yang terjadi dalam ruang kenegaraan ini telah terjadi semenjak dahulu kala, hal ini mungkin tampak kekanak-kanakan, namun ternyata para politisi Taiwan memiliki insentif tertentu untuk melakukan aksi kekerasan dari waktu ke waktu, terhitung dari tahun 90-an ketika Taiwan sedang mengalami masa transisi secara damai ke dalam rezim demokratis dan terhitung cukup damai dengan artian tidak ada pergolakan yang secara masal, dimana pada masa itu KMT sebagai partai yang berkuasa secara administrasi memiliki lebih banyak kekuasan dan sumber daya ketimbang partai baru saja bergabung untuk membawa Taiwan lebih baik dan visi yang berbeda, DPP bisa dibilang adalah sebuah partai dengan pendukung yang cukup sedikit.
Agar tidak bingung mari kita pilah kedua partai ini dengan menggunakan warna, Biru itu KMT dan Hijau itu DPP. berdasarkan hasil pemilu di tahun 1991 pada saat itu KMT belum terpecah-pecah karena beberapa alasan termasuk salah satunya adalah keunggulan struktural yang jelas, perolehan suara hampir dua kali lebih banyak dan kedudukan kursi di partai yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan partai politik lainnya. namun pihak oposisi harus berjuang untuk kelangsungan hidup politiknya, sementara KMT yang tidak sepopuler itu yang dapat ditunjukkan dengan jumlah kursi yang dimilikinya dalam ruang dewan, meskipun memiliki keunggulan struktural, namun KMT sebetulnya adalah partai yang lebih besar dengan cakupan jaringan politik yang lebih baik ketimbang DPP.
Bahkan tawuran antar dua partai terbesar di Taiwan pun terjadi sebelum pelantikan presiden Taiwan untuk masa jabatan yang baru yaitu Lai Ching Te yang berasal dari anggota Partai DPP, sementara KMT memiliki lebih banyak kursi di parlemen meskipun bukan mayoritas.
RUU yang tengah diusulkan oleh KMT secara luas dianggap lebih bersahabat dengan Beijing dan disahkan dengan dukungan minoritas dari Partai Rakyat Taiwan ( TPP ) setelah beberapa sesi parlemen. Taiwan adalah negara dengan asas demokrasi yang aktif dan reformasi parlemen bukanlah sebuah isu pertama yang berubah menjadi pertikaian dan tawuran di jajaran parlemen. Dilansir dari abc.net.au yang menyatakan bahwa pada tahun 2020, seorang politis KMT pernah melemparkan isi perut babi ke lantai majelis dalam sebuah perselisihan terkait UU impor daging babi asal Amerika Serikat.
Terlepas dari isi RUU yang diusungkan oleh sebuah partai ,mari kita lihat mengapa masyarakat Taiwan sepertinya dapat mentoleransi aksi kekerasan di jenjang pemerintahan ? apakah betul semua warga Taiwan dapat menerima hal ini ? bukankah Taiwan adalah sebuah negara maju yang menjunjung tinggi HAM serta nilai moral, meski demikian aksi kekerasan tersebut bukan menjadi sebuah hal yang memalukan atau aib bagi kebanyakan orang. Jenaka yang terjadi bukanlah karena para politisi hobi adu jotos ataupun bosan dalam melakukan tugasnya, namun ada sesuatu yang unik karena hal tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan politik dari pelakunya.
Jika anda dapat menganalisa dengan cermat, maka anda akan menemukan bahwa hampir dari setiap insiden terdapat sekelompok minoritas yang pertama kali membuat gaduh atau menimbulkan masalah. ketika sebuah Undang-undang akan segera disahkan maka Presiden Legislatif Yuan akan mengumumkan hal tersebut di podium dan mengetuk palu sebagai tanda bahwa UU ini sudah sah, maka aksi dari anggota yang menolak akan berbondong-bondong untuk menduduki podium utama dengan segala cara. tujuannya adalah agar tidak ada orang yang dapat mengetuk palu sebagai tanda sah, maka ketika hal ini terjadi proses ini akan terhenti.
Tentu saja hal ini tidak akan terlihat baik bagi seorang legislator, namun perlu diingat bahwa mereka terpilih, sehingga konstituen mereka kemungkinan besar akan menentang UU tersebut terutama jika UU tersebut menjadi fokus perdebatan nasional, maka tidak jarang terlihat di layar kaca televisi seorang anggota legislatif yang menggunakan berbagai cara untuk rancangan undang undang yang mereka anggap tidak sejalan dengan visinya.
Pantau terus yows..
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 